"I need you here...."
Hanya butuh satu pesan seperti itu untuk membuat rencana Alexis berantakan dan kini dirinya sudah ada di Paris menyusul Milana. Gara-gara pesan itu, tanpa banyak pertimbangan lagi, Alexis buru-buru memesan penerbangan ke Paris. Ia tidak menyangka Milana menghubunginya dan mengatakan gadis itu membutuhkan Alexis.
Karena Milana menolak bicara padanya setelah malam jamuan berakhir, Milana memutuskan untuk berangkat ke Paris sendirian dan menolak pergi bersama dengan Alexis.
Beberapa hari ini Alexis harus menahan rasa bersalah karena dia mengatakan hal bodoh di malam saat Milana mengaku kesepian karena Nathan. Karena Milana mengatakan akan bertemu teman-temannya di Paris, Alexis pun memutuskan tinggal lebih lama di Sapporo sebelum berangkat ke Perancis. Ke Grenoble tepatnya.
Dan ia menerima pesan Milana tepat di saat Alexis membeli cincin. Entah apa yang merasuki Alexis saat ia memasuki ke satu toko perhiasan saat malam bersalju di Sapporo. Sejujurnya Alex menyesal menyakiti perasaan Milana dan ia tahu dirinya harus memohon maaf. Selain dengan cincin ini, ia tidak tahu bagaimana caranya menunjukkan pada Milana bahwa perasaannya tulus. Sampai Milana menghubunginya dan memintanya datang ke Paris.
"Milana, are you okay?"
Alex menghubungi Milana. Khawatir jika terjadi hal buruk pada gadis itu.
"Kamu udah sampai?" tanya gadis itu. Alexis heran kenapa Milana tidak menjawab pertanyaannya.
"Aku sedang berada di taksi setelah ke bandara. Katamu, kamu menginap di Four Season Hotel kan?"
"Oke. Kalau sudah sampai, naiklah dulu ke kamarku. Setelah itu, temui aku di lounge."
"Oke."
"Oke. Sampai jumpa."
"Milana," panggil Alex.
"Ya?"
"Apa ada hal yang sangat penting? Kamu baik-baik saja?"
"Kenapa aku nggak baik-baik saja? Off course, i'm okay."
"Tapi, aku kira.... Kamu nggak ingin bicara denganku di luar urusan figure skating."
"Bisa kan kita lupakan malam itu? Aku cuma ingin kita baikan. Mau seperti apa pun keadaannya, aku cuma bisa mengandalkanmu, Alex."
Mendengar itu rasanya seluruh beban di pundak Alexis pun luruh. Ia menggenggam erat kotak cincin di saku jasnya. Ia hanya perlu bersabar sedikit lagi.
"I'll see you later, okay." Milana menutup panggilan. Setelahnya Alexis tidak bisa menahan diri untuk terus tersenyum. Beberapa hari ini terasa berat untuk dijalani dan kini langkahnya mulai terasa ringan. Ia bertekad untuk tidak menyakiti Milana lagi. Kali ini Alexis akan mengungkapkan perasaannya yang tulus.
***
"Wah, benar-benar.... Mengejutkan sekali melihatmu di Paris, Milana." Tante Hilda berkata dengan bahasa basa-basi yang menurut Milana super basi.
Semalam Milana membuntuti ibu dan anak itu menghabiskan uang untuk belanja di kawasan Avenue Montaigne, kawasan shopping street paling mahal di Paris karena di situlah banyak toko barang branded bersisian. Milana mengawasi Tatiana dan ibunya yang keluar masuk outlet Salvatore Ferragamo, Fendi, Bvlgari, dan Chanel.
Milana memutuskan untuk masuk ke rumah Dior. Mengingat bahwa sudah pasti keduanya juga akan masuk ke outlet ini untuk menyusuri dan memborong barang-barang kelas atas. Saat berpura-pura memilih belt dan sepatu, Milana dikejutkan dengan seruan Tatiana dan Tante Hilda yang tidak menyangka melihat Milana di Paris.
"Jadi, berapa lama kamu akan menginap di Four Season?" tanya Tatiana dengan nada menyelidiki. Semalam Milana berbohong dengan mengatakan dirinya baru sampai di Paris malam itu dan belum tahu menginap di mana. Tante Hilda dengan senyum palsunya menawarkan Milana untuk menginap di hotel Four Season. Milana tahu tawaran itu hanya basa-basi, tapi itulah yang diharapkan. Saat Tante Hilda mengharapkan Milana menolak tawarannya--seperti biasanya--kali ini Milana akan menerima tawaran itu.
Milana mencium aroma kecurigaan. Sudah pasti mereka ketakutan setengah mati. Pertemuan dengan konglomerat Korea itu tampaknya adalah rahasia yang harus mereka lindungi.
"Soal berapa lama, aku pikir hanya sampai akhir minggu ini. Berikutnya aku akan berangkat ke Grenoble untuk berkompetisi," jawab Milana.
"Tapi, menginap sendirian di sini bukankah itu terlihat menyedihkan? Orang datang kemari biasanya untuk libur bersama atau honeymoon," sindir Tatiana.
"Sendirian? No. Siapa yang bilang aku menginap sendirian? Aku datang dengan seseorang yang istimewa buatku. Kalian tahu siapa dia...."
Tatiana mendengus, "Maksudmu pelatihmu asal Rusia itu? Please, kami sudah tahu kalian cuma pura-pura berhubungan. Setidaknya, aku pernah dengan Jasper mengatakan itu."
"Jasper jelas sangat tahu segala yang terjadi padaku ya? Bukankah itu menyedihkan untuk seorang pria yang sudah memilikimu jadi istrinya? Kelihatannya dia masih sangat terobsesi denganku."
Tatiana seketika bungkam. Milana tahu adik tirinya itu tidak bisa menyembunyikan amarahnya meski dalam diam. Bola matanya yang berapi-api itu cukup memberitahu Milana bahwa Tatiana sangat membenci dirinya.
"Bercanda. Jangan marah begitu," ucap Milana dengan senyuman manis seolah menghibur adiknya.
"Siapa bilang aku marah? Kamu memang seorang tuan putri di kediaman Esanatmadja, tentu saja seluruh perhatian terpusat padamu," sindir Tatiana. Lagi.
"Aku tersinggung kamu bilang hubunganku dengan Alexis dianggap pura-pura. Yah, saat itu aku memang minta dia pura-pura jadi pacarku di depan Papa. Aku tahu mendiang Papa menentang hubunganku dengan Nathan. Jika bukan karena Alexis, mungkin sekarang aku masih nggak bisa melupakan Nathan." Milana berkata dengan wajah sepolos mungkin. Saat ini Milana bermaksud mengikuti permainan kotor ibu dan anak itu. Ia tidak peduli jika harus bermulut manis di depan Tante Hilda dan Tatiana.
"Jadi kamu sudah melupakan Nathan?" tanya Tatiana.
Milana mengangguk dan tersenyum. "Aku berusaha membuka mataku. Jika menyangkut cinta, aku memang mencintai Nathan, tapi aku tahu aku nggak akan bisa bahagia dengan dia. Seperti kamu yang nggak bisa melanjutkan pertunanganmu dengan Nathan karena Nathan nggak membalas perasaanmu. Aku kini mengerti kata-katamu, adikku." Milana menyentuh lengan Tatiana. Tatiana terlihat bingung karena Milana bersikap jinak di depannya.
"Kata-kataku? So-soal apa?" Tatiana mendadak canggung.
"Soal perkataanmu yang mengatakan Nathan memang tidak akan bisa menerimaku. Yah, intinya aku sudah menyerah tentang dia. Dan... Aku juga punya hal penting yang mau aku sampaikan."
"Apa itu?"
Tepat di saat itu, Milana melihat seseorang berjalan masuk. Tatapannya menyapu seluruh ruangan seolah mencari-cari keberadaan seseorang.
"Alex!" panggil Milana dengan melambaikan tangan.
Alexis tampak tersenyum cerah. Milana membalas dengan senyum yang tidak kalah manis. Berpura-pura bahwa kehadiran laki-laki itu meniupkan kebahagiaan di hatinya.
Yah, pertunjukan sudah dimulai. Setidaknya di depan ibu dan anak ini, Milana akan menunjukkan bahwa mereka tidak bisa berlaku seenaknya.
"Hey, kamu lama menunggu?" Alexis menghampiri Milana. Milana menyambut dan memeluk Alex dengan erat.
"I really miss you, Honey. Kenapa lama sekali?" Milana berpura-pura merajuk. Ia hanya berharap Alexis akan mengikuti permainan ini.
Please.... Jangan berwajah terkejut seperti itu, seru Milana dalam hati.
"Ah, ehm.... Perjalanan dari bandara lumayan makan waktu. Aku nggak tahu kamu menungguku," ucap Alexis canggung. Matanya menangkap keberadaan Tatiana dan ibunya yang duduk di depan Milana. Buru-buru Alex membungkuk dan memberi salam.
"Kalian terlihat mesra. Aku sempat melihat ciuman kalian yang menghebohkan itu saat pertandingan," kata Tatiana.
"Yeah, kalian sangat serasi. Tidak heran jika kalian berpacaran." Tante Hilda menambahkan.
"Berpacaran? No... Kamu lebih dari itu."
Kata-kata Milana mengejutkan Tatiana dan ibunya.
"Apa maksudmu?" tanya mereka hampir bersamaan.
"Tatiana, Tante Hilda.... Alexis Makarov yang ada di depan kalian, dia adalah tunanganku. Setelah rangkaian kompetisi ini selesai, aku.... Akan menikah dengannya."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE ME, TOUCH ME
Romance18+ Sebagai atlet figure skating berbakat dan calon pewaris perusahaan kosmetik ternama, Milana Esanatmadja memiliki segalanya. Cantik, muda, berprestasi dengan berhasil membawa pulang medali perak dari olimpiade musim dingin. Peseluncur wanita yang...
