48. Best For You

159 13 0
                                        

"Trust me, Milana.... Aku akan membuatmu lebih bahagia dari siapa pun."

Bisikan Alex nyaris melemahkan Milana. Saat ini dirinya lebih rapuh dari apapun. Kesepian membuatnya muak dan menjadi sangat muram. Berada di sisi Alexis seolah membuat Milana terbebas dari rasa sepi dan kepedihan karena cinta sepihak yang ia rasakan untuk Nathan.

Alexis kembali menatap Milana, mengusap lembut wajahnya dan sudut matanya yang basah dan sembab.

"Aku nggak akan bikin kamu nangis. Kalaupun kamu nangis, itu adalah air mata kebahagiaan."

Milana bimbang. Pernyataan Alexis membuatnya memikirkan kembali tujuannya. Apa sebenarnya yang membuatnya bahagia.

Alexis memeluk erat tubuh Milana. Milana bisa merasakan aroma citrus yang maskulin dari tubuh pria itu. Seharusnya pelukan ini menenangkan, tapi Milana justru cemas. Pernyataan cinta Alexis terlalu indah untuk jadi kenyataan. Seorang figure skater terkenal dari Rusia yang berbakat seperti dia, tertarik dengan Milana yang biasa-biasa saja dan berhasil berkompetisi di luar negeri karena faktor keberuntungan? Ini gila...

"Alex, maaf... Aku masih takut dan nggak mengerti apa yang harus aku lakukan. Aku butuh waktu," ucap Milana lirih.

"Kamu tahu kita sudah nggak punya waktu."

"I know.... I just.... Aku nggak mau menyesal lagi. Keinginan Papa adalah melihatku mewarisi perusahaan. Aku nggak bisa egois mengabaikan permintaan terakhirnya...."

Alexis terdiam. Masih menatap lurus ke arah Milana.

"Apa kamu yakin itu yang membuatmu bahagia?"

Milana termenung. Alex sudah jelas melontarkan pertanyaan konyol karena sudah pasti berseluncur di atas es lebih membuatnya bahagia.

"Nggak penting lagi aku bahagia atau nggak. Aku butuh berada di tempatku yang seharusnya."

"Di mana tempatmu yang seharusnya?"

"Di... Perusahaan Papa dan menuruti keinginan Nenek menjadi bagian dari Esana Grup."

"Apakah hanya kamu yang bisa?"

Milana mengangkat bahu, "Aku nggak tahu, tapi Papa dan Nenek terus mendesakku. Mereka tahu keberadaanku di perusahaan mungkin dianggap penting."

"Bagaimana kamu tahu?"

"Aku nggak tahu, Alex.... Aku hanya ingin menuruti keinginan mereka dari dulu. Aku tahu ini--"

"Lihat ini...." Alexis menyodorkan layar ponselnya yang menayangkan video.

Milana memicingkan mata, memeriksa video apa yang diperlihatkan Alex. Seperti sebuah konferensi pers. Di tengah perhatian ada neneknya duduk berdampingan dengan... Tatiana?

Kenapa ada Tatiana di sana?

"Apa ini?" tanya Milana.

"Ini adalah rekaman konferensi pers pagi tadi di kantor pusat Grup ESANA. Nenekmu sebagai komisaris utama menunjuk Tatiana sebagai direktur pelaksana. Memang bukan untuk menggantikan mendiang papamu, tapi dengan ini kamu tahu kalau isu tentang pewaris sudah bukan tanggung jawabmu lagi."

Milana masih tidak percaya. Tenggorokannya terasa tercekat.

"Apa-apaan ini? Kenapa Tatiana yang berada di sana? Kenapa Nenek nggak pernah bilang apa-apa?"

Milana bangkit dengan kebingungan yang menggelayut. Ia berjalan mondar-mandir di sekeliling apartemennya. Milana akhirnya berhenti dan berusaha menghubungi neneknya dengan ponsel.

"Nenek?"

"Ada apa?"

"Apa-apaan nenek mengadakan konferensi pers dengan Tatiana. Kenapa aku nggak tahu apa-apa?"

LOVE ME, TOUCH METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang