Nathan mengeluarkan paspor dan menyodorkannya ke arah pramugari yang memeriksa tiket dan paspor sesaat sebelum naik pesawat. Meski sempat ragu apakah Nathan akan berangkat, ia putuskan untuk tetap pada rencana semula. Menemui Milana di Italia.
Nathan sengaja berpakaian tidak menyolok dan hanya mengenakan hoodie hitam dan jeans. Kacamata bingkai dan masker melekat di wajahnya. Untuk perjalanan ini, Nathan mempertaruhkan keselamatannya sendiri. Skenario terburuk seseorang bisa saja membuntutinya dan menculiknya, tapi Nathan tidak peduli. Ia butuh kepastian dari Milana.
Nathan menghela napas, mengeluarkan ponselnya dan menekan satu-satunya nomor di daftar kontaknya. Milana.
"It's me, Nathan. Aku berangkat ke Italia hari ini. Sebentar lagi pesawat take off. Aku butuh bicara denganmu, Milana. Untuk kesekian kalinya aku minta, tolong temui aku. Sesuai janji kita."
Klik.
Nathan mematikan ponselnya setelah meninggalkan pesan suara untuk Milana. Setelahnya, ia mengeluarkan selembar foto dari dompetnya. Foto seorang gadis yang tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Senyum yang paling dirindukan Nathan. Milana jelas paling cantik saat dia tersenyum penuh keceriaan seperti di foto itu.
"Apa aku sudah membuatmu terlalu lama menunggu?"
***
"Ada apa?" Alexis bertanya saat Milana terlalu fokus dengan ponselnya.
Milana dengan canggung menggeleng, memasukkan kembali ponselnya ke saku jaketnya dan kembali terdiam menatap pemandangan di luar jendela.
Mereka kini berada di kereta menuju Turin, sebuah kota yang merupakan ibukota Piedmont, sebuah propinsi di bagian barat laut Italia. Semalam keduanya baru saja mendarat di Milan. Karena Grand Prix Final masih berlangsung seminggu lagi, Milana dan Alex memutuskan untuk menginap semalam di Milan sembari menunggu kehadiran Coach Anita yang khusus datang dari Indonesia untuk menyaksikan Milana berlaga di Final Grand Prix. Baru siang ini setelah pesawat Coach Anita mendarat di Milan pagi tadi, mereka bertiga berangkat bersama ke Turin.
Risa dan Maya juga akan menyusul ke Turin tapi dengan jadwal kereta yang berlainan karena mereka berdua berencana melancong dan menyusuri surga fashion di Milan. Milana sudah tidak heran karena keduanya penggila belanja.
Sejujurnya, sejak kesepakatan pertunangan itu, Milana makin canggung jika hanya berdua dengan Alexis. Tadinya dengan kehadiran Coach Anita, Milana berharap akan mengurangi kecanggungan itu. Sayangnya sejak naik kereta ini, Coach Anita tampaknya hanya ingin tidur karena kelelahan.
"Sejak kemarin kamu jadi banyak diam. Apa ada yang mengganggumu?" tanya Alexis lagi.
Milana menggigit bibirnya dan menggeleng, "Cuma gugup. You know, ini adalah kompetisi profesional terakhirku. Aku merasa setidaknya jika akan menjadi kompetisiku yang terakhir, aku harus mendapatkan apa yang aku inginkan. Medali emas."
Alexis menggenggam tangan Milana, "Jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Aku pastikan kamu akan jadi juara. Percaya padaku."
Milana tersenyum. Ia merasa bersalah karena sebenarnya selain rasa gugup karena akan berlaga di final Grand Prix, ada hal lain yang mengusiknya. Pesan suara yang ditinggalkan Nathan. Ternyata Nathan benar-benar menepati janjinya untuk datang ke Turin, Italia untuk menemui Milana jika Milana berhasil sampai final. Kegamangan Milana bukan tanpa alasan. Ia sudah memutuskan untuk pensiun dari skating dan memilih menjadi bagian dari perusahaan ESANA dan menikahi Alexis. Milana sangat takut, jika bertemu Nathan, perasaannya akan kembali goyah tidak peduli seberapa besar ia merindukan laki-laki itu.
"Oke. Aku akan tidur sebentar. Beritahu kalau kereta sudah sampai di Turin," ucap Milana."
"Err, Milana... boleh aku pinjam ponselmu?" pinta Alex.
Milana mendadak terdiam, sejenak merasa ragu. "Kenapa kamu perlu pakai ponselku?"
"Aku lupa men-charger ponselku saat kemarin sampai di Milan. Aku baru akan menghubungi temanku yang juga menjadi pelatih untuk tim Rusia, tapi baterainya habis. Aku baru ingat ada hal penting yang harus aku bicarakan."
Milana mengangguk dan menyodorkan ponselnya, "Oke. No problem."
"Kalau gitu, aku menelepon di sisi lain gerbong supaya kamu bisa tidur." Tanpa menunggu reaksi Milana, Alexis bangkit dari duduknya dan meninggalkan Milana sendirian.
Milana menghela napas. Tidak ingin berdebat dan memutuskan untuk memejamkan mata sejenak. Setelah beberapa lama, Milana tetap kesulitan untuk tidur. Lima belas menit berlalu, Alexis tetap tidak kembali ke kursinya. Milana merasa tidak nyaman dan situasi ini membuatnya curiga, apa yang dilakukan Alex dengan ponselnya. Milana buru-buru bangkit dan menyusul Alexis, tapi Alexis tidak ada di mana-mana.
"Mungkin dia ke gerbong restoran," ucap Coach Anita yang entah sejak kapan sudah bangun.
"Ah, Coach... maaf aku membangunkanmu."
"It's okay, aku lumayan puas tidur meski rasanya aku bisa tidur lebih lama. Gara-gara kalian aku jadi susah tidur lagi. Dan kuperhatikan kalian berdua terlihat canggung. Apa kalian bertengkar?" tebak Coach Anita.
"Ehm, I don't think so... kami baik-baik saja." Milana hanya mengangkat bahunya singkat. Lalu beranjak pergi menyusul Alexis, andai benar laki-laki itu ada gerbong restoran.
Belum sampai langkahnya sampai di gerbong restoran, Milana mendapati Alexis berdiri di dekat sambungan antar gerbong, tepat di dekat pintu. Sangat aneh karena sebelumnya laki-laki itu tidak terlihat di mana pun.
"Alex? Aku baru saja mau menyusulmu. Kenapa kamu ada di sini?" Milana tampak cemas, terutama dengan Alexis yang memasang wajah dingin dengan ponsel Milana masih di tangannya.
Jangan bilang kalau Alexis mengetahui pesan suara yang dikirimkan Nathan, pikir Milana.
"Kamu... apa kamu membuka ponselku karena mencurigai sesuatu?" todong Milana. Sesaat Milana merasa tersulut karena jika memang benar Alexis melakukan hal itu, dia sudah melanggar privasi Milana dengan membuka-buka pesan di ponselnya.
"Apa kamu menyembunyikan sesuatu sampai takut aku akan curiga?" bukannya menjawab, Alex justru balas bertanya.
"Apa-apaan ini? Kalau kamu penasaran, kamu bisa tanya langsung padaku. Untuk apa kamu buka-buka ponselku?" seru Milana marah. Ia tidak peduli sekalipun nada suaranya meninggi.
"Aku tahu kamu punya janji bertemu dengan Nathan di Turin nanti, kamu pikir aku nggak tahu?"
"Jadi benar kamu mendengarkan pesan suara Nathan?"
Alexis menggeleng, "Aku sama sekali nggak mendengarkan apapun. Tanpa itu saja kamu sudah terang-terangan mengaku kalau Nathan mengirimimu pesan bukan?"
Milana sontak merasa kesal, "Jadi kamu memancingku? Kurang ajar kamu, Alex. Kamu punya cara untuk ngomong baik-baik tapi kenapa kamu berbuat begini sama aku?"
"Kamu tahu aku sudah tanya apa yang kamu pikirkan, tapi apa kamu jujur kalau kamu baru saja menerima pesan Nathan? Dengar ya, aku tahu janji kalian untuk bertemu di Turin karena Nathan sendiri yang bilang padaku. Aku cuma berharap kamu jujur ke aku, terutama setelah kamu memutuskan untuk memintaku bertunangan dan menikahimu."
Alex menyodorkan ponsel Milana tepat di hadapannya. Gadis itu masih berusaha menguasai emosinya yang dikuasai kemarahan.
"Lalu apa maumu? Kamu mau aku berbuat apa?" seru Milana, sebelum Alex kembali ke tempat duduknya.
Alex berbalik menatap Milana. Sorot matanya menyimpan kesedihan yang bercampur dengan amarah. "Tolong. Jangan temui Nathan. Kamu minta aku membantumu untuk menghancurkan rencana ibu dan saudara tirimu bukan? Aku akan menikah denganmu, aku akan menanggalkan kewarganegaraan dan beradaptasi dengan duniamu. Kamu meninggalkan skating, aku juga otomatis menyingkir dari dunia skating baik secara profesional maupun pelatih. Ada banyak hal yang aku korbankan, Milana. Jika aku minta kamu juga berkorban untukku, apa aku berlebihan?"
Milana terdiam. Pertanyaan Alexis bagai belati yang menghunjam tepat ke ulu hatinya. Menyakitkan sekaligus masak akal.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE ME, TOUCH ME
Romantizm18+ Sebagai atlet figure skating berbakat dan calon pewaris perusahaan kosmetik ternama, Milana Esanatmadja memiliki segalanya. Cantik, muda, berprestasi dengan berhasil membawa pulang medali perak dari olimpiade musim dingin. Peseluncur wanita yang...
