61. Weird Proposal

152 10 0
                                        

"Apa maksud kamu?"

Milana terdiam. Tante Hilda dan Tatiana lebih dulu meninggalkan lounge karena nanti malam mereka akan kembali ke Indonesia. Tinggalah Milana dan Alexis berdua di lounge dengan Alex masih tidak mengerti kenapa Milana mengumumkan pertunangan yang ia sendiri tidak pernah tahu.

"Milana... Kali ini coba jelaskan. Apa ini semacam aksi sandiwara untuk ke sekian kalinya?" Alex menyibakkan rambut pirangnya dengan putus asa.

Milana masih belum menjawab. Kecemasan terpancar di wajahnya. Entah sejak kapan Alex tidak pernah lagi melihat cahaya di mata Milana sejak ayahnya meninggal. Ditambah situasi sekarang.

Alex tidak sabar dan meraih bahu Milana dan mencengkeramnya.

"Please, jelaskan padaku.... Kenapa kamu bilang sama ibu dan saudara tirimu kalau kita bertunangan dan akan menikah? Kamu serius saat mengatakan itu?" Desak Alex.

Milana meringis, merasakan cengkeraman Alexis di bahunya terasa sakit. Sesaat, Alex merasa bersalah.

"Aku.... Aku minta maaf, tapi.... Bisakah kamu bicara? Actually, aku mulai lelah dengan kamu yang mulai membuatku bingung. Aku kira kamu membenciku dan nggak mau melihat wajahku lagi, lalu kamu memintaku datang tiba-tiba dan ternyata kamu membutuhkanku untuk berpura-pura untuk jadi tunanganmu. Berikutnya apa lagi? Kamu mau aku jadi suami pura-pura juga?"

"Bukan pura-pura," sahut Milana tiba-tiba. Alexis tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Lalu apa kamu serius?"

Milana mendesah, terasa berat. "Aku nggak tahu. Aku cuma tahu aku harus melakukan hal yang membuat dua orang itu terkejut. Tapi aku nggak ingin berpura-pura lagi."

"Jadi kamu serius mengatakan akan bertunangan denganku?"

Milana menggeleng, "I still don't know. Maaf, aku membuatmu terus-menerus melakukan hal yang nggak masuk akal demi aku."

Alexis kembali putus asa. Kenapa setiap ia mendiskusikan hal ini, jawaban Milana selalu berputar-putar.

"Jadi apa sebenarnya rencanamu?" Alexis meraih jemari Milana, mencoba mencari tahu apa gerangan yang membuat Milana melakukan hal segila ini.

"Aku... Baru saja mengetahui rencana buruk Tante Hilda dan Tatiana. Keputusanku pensiun dari dunia skating sudah bulat, tapi aku butuh satu hal yang penting untuk membuat mereka sadar aku nggak akan mudah mereka singkirkan. Aku butuh posisiku menggantikan Papa."

Alexis menghela napas. "Jadi ini tentang masalah perusahaan keluargamu?"

Milana mengangguk, "Karena aku sudah melibatkanmu, aku akan memberitahumu. Mereka berdua berencana membuat ESANA bangkrut dan bekerjasama dengan perusahaan kosmetik asal Korea Selatan untuk mengakuisisi perusahaan kami. Pemilik perusahaan itu adalah kekasih Tante Hilda. Pensiun dari skating dan bekerja di ESANA saja tidak cukup buatku, aku harus melakukan sesuatu."

"Lalu apa hubungannya dengan aku harus bertunangan denganmu?"

"Karena menjadi single tentu berbeda dengan menikah. Nenek sudah nggak berminat lagi menjadikan aku pewaris perusahaan, tapi keputusannya pasti berubah jika aku bukan lagi lajang. Jika aku punya suami yang bukan dari kalangan pengusaha, nenek pasti akan membuat suamiku juga jadi bagian penting perusahaan."

"Apa kamu berpikir, kamu bisa merayu nenekmu memberi posisi di perusahaan kalau kamu menikah? Aku kira kamu bilang kamu hanya ingin mengenal lebih dekat dengan perusahaan keluargamu."

"Itu sebelum aku tahu Tatiana punya rencana buruk untuk menghancurkan perusahaan. Tadinya aku berpikir menyerahkan posisi penting pada orang yang punya kapasitas jauh lebih baik dibandingkan aku yang mengelola perusahaan. Tapi sekarang aku berubah pikiran. Aku jelas nggak akan membiarkan ESANA jatuh, Alex."

Baik Milana dan Alexis sama-sama terdiam. Hanya terdengar denting gelas karena keduanya sama-sama canggung dengan jari mereka mengetuk gelas.

"Apa kamu sebegitu percaya padaku sampai kamu memberitahuku semua ini? Kamu nggak takut aku mungkin membocorkan ini pada adik tirimu?" tantang Alexis.

Milana mendengus, "Andai mereka tahu pun, aku sama sekali nggak keberatan mereka tahu rencanaku. One way or another, aku akan membongkar kebusukan mereka. Dengan atau tanpa bantuanmu."

Milana terlihat gelisah. Alex dengan jelas menangkap ekspresi kecemasan dan rasa bersalah di wajah gadis itu. Ia bisa melihat bibir gadis itu gemetar saat menceritakan rencana buruk ibu dan saudara tirinya. Rasanya seperti menyaksikan seorang Cinderella yang tidak berdaya karena perlakuan jahat ibu dan saudara tiri. Cinderella jelas membutuhkan bantuan seorang pangeran demi lepas dari penderitaan.

Pertanyaannya, siapa pangeran yang dipilih Milana?

Perdebatan Alex dan Milana beberapa malam lalu saat di Sapporo jelas memberitahu Alexis bahwa Milana masih sangat mencintai Nathan, tapi di sinilah Milana meminta Alexis untuk menjadi tunangannya. Artinya, hanya dirinya yang bisa diandalkan.

"Dengar Alex... Aku minta maaf hal ini mengejutkan kamu. Aku tahu dengan mengikuti rencanaku, aku bisa saja merusak masa depanmu. It's okay kalau kamu nggak bersedia membantuku. Maaf aku terlalu terburu-buru...."

"Milana...."

"Aku juga lupa kalau kamu bukan warga negaraku, aku lupa kalau butuh komitmen besar bagimu untuk membantuku. Artinya kamu mengorbankan segalanya termasuk pindah kewarganegaraan. Itu pasti kedengaran sangat egois."

"Milana...."

"Kita, maksudku... Mungkin sebaiknya percakapan ini nggak pernah ada. Ya tuhan, aku benar-benar gila kalau sampai memintamu menikahiku. Aku--"

"Milana, stop! Siapa bilang aku nggak mau?" Potong Alexis seketika.

"Jadi kamu bersedia?" tanya Milana cemas.

"Entah mau pura-pura atau sungguhan, aku sudah nggak peduli lagi. I need to be with you. Aku nggak bisa jauh dari kamu, kamu tahu itu kan?" Alex menyentuh pipi Milana, mengusapnya pelan dan menyibakkan rambut Milana di belakang telinganya.

"Kamu memang gila karena melibatkan aku dalam intrik keluargamu, tapi barangkali aku sendiri juga lebih gila karena berharap kamu akan terus bergantung padaku."

Alexis mengeluarkan benda dari sakunya. Ia tidak menyangka akan memperlihatkan benda kecil ini lebih cepat dari perkiraan. Ada rasa pedih di dadanya saat Alex menyadari bukan dirinya yang melamar melainkan Milana yang lebih dulu melontarkan ide pertunangan dan pernikahan yang sayangnya bukan karena cinta melainkan karena gadis itu butuh melindungi legacy-nya, nama besar keluarganya.

Pelan, Alexis membuka kotak itu dan menyodorkannya di hadapan itu hingga Milana bisa melihat jelas sebentuk cincin berlian cantik di atasnya.

"Alex, what is this?" tanya Milana.

"Seperti yang kamu lihat. Itu cincin. Aku beli saat aku memikirkan kamu seharian di Sapporo tepat di hari kamu berangkat ke Paris."

"Kenapa... Kamu membeli cincin?"

Alex menggeleng, "Aku juga tidak tahu. Aku cuma tahu, aku merasa sangat bersalah malam itu membuatmu sedih. Aku pun nggak tahu apa yang ada di pikiranku saat melihat cincin itu. Aku mungkin putus asa karena nggak ingin pisah sama kamu setelah kamu pensiun dari skating. Yang aku tahu, aku cuma mau kamu menyimpannya."

"Alex, cincin ini.... Apa artinya?"

Alexis tertawa pasrah. Ada senyum getir sekaligus kelegaan di wajahnya.

"Aku nggak peduli arti cincin ini di matamu, Milana. Aku mungkin membelinya dengan tujuan untuk memohon maafmu, tapi karena kamu memintaku menikahimu, kita bisa saja menyebut cincin itu cincin lamaran dariku."

"Tapi—"

"Tapi urutannya terbalik dan sangat aneh bukan? Yah memang."

Alexis mengambil cincin dari kotaknya dan menarik tangan kiri Milana, tepatnya salah satu jarinya. Perlahan Alexis memasangkan cincin itu di jari manisnya.

"Milana, would you marry me?"

***


LOVE ME, TOUCH METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang