66. Finish Your Business

49 4 1
                                        

"Kamu yakin akan pakai musik ini?" tanya Alexis saat Milana menyodorkan ponselnya demi memperdengarkan satu musik yang akan digunakan untuk Exhibition Gala Performance, sebuah event terakhir sebagai penutup kompetisi Grand Prix Final.

Jika Milana mendapatkan medali, sudah dipastikan ia harus menunjukkan kemampuannya dengan koreografi yang sama sekali berbeda dengan saat kompetisi. Sederhananya Gala Exhibition dirancang untuk menghibur penonton dengan konsep pertunjukan. Tidak ada batasan dalam koreografi dan elemen teknik karena tidak ada unsur kompetisi melainkan hiburan semata. Biasanya para skater melakukan performance dengan musik yang lebih pop dan koreografi yang bersifat 'playful' tanpa takut mempengaruhi penilaian juri.

"Dari lirik dan musiknya, temanya sepertinya suram."

Milana hanya mengangguk ringan, "Memang, tapi suram yang menenangkan. Seperti lagu pengantar kematian yang menenangkan. Seolah-olah kita akan dihantarkan pada kematian yang tidak menyakitkan."

Alexis menghela napas. "Bisakah kita memilih lagu yang lebih riang? Exhibition Gala adalah saat para skater bersenang-senang. Kamu nggak perlu melakukan lompatan triple atau quadraple, asalkan kamu menikmati penampilanmu."

"Kenapa menurutmu aku nggak bisa menikmatinya? Lagu itu lagu favoritku. Safe and Sound dari Soundtrack film yang dulu aku sukai. Hunger Games. Lagu yang meninabobokan tapi sekaligus menyadarkan bahwa kematian bisa datang sewaktu-waktu. Seperti itulah perasaanku. Aku menginginkan ketenangan tapi tidak bisa memungkiri bahwa di luar sana badai api sudah menantiku. Aku mau memakai musik ini. Titik."

Alexis tidak lagi mendebat Milana. "Oke. Aku akan pikirkan gerakan yang sesuai dengan musiknya. Sekarang, berlatihlah."

Milana tidak banyak bicara dan mulai berseluncur di arena yang sengaja disewa Milana untuk berlatih. Sejujurnya konsentrasinya mulai terbelah antara berlatih dan memikirkan Nathan yang mungkin sudah berada di Turin sekarang. Jantungnya berdebar membayangkan ia dan Nathan kini berada di udara yang sama, tapi sekaligus sedih karena demi menghargai kesepakatannya dengan Alexis, Milana sudah berjanji tidak akan menemui Nathan.

Jangan tanya perasaannya. Hancur tentu saja, tapi Milana harus mengakui ada hal yang lebih mendesak ketimbang memikirkan urusan hati. Ia sudah memikirkan ini masak-masak sebelum meminta Alexis datang ke Paris. Dengan perasaannya yang bercampur aduk, menampilkan koreografi figure skating dengan musik riang tidak akan membuat suasana hatinya lebih baik. Musik Safe and Sound lebih dari cukup untuk menggambarkan suasana hatinya.

Milana mendengar ponselnya berdering meski dari kejauhan. Pikirannya mulai tidak tenang. Ia cemas kalau Nathan lah yang tengah meneleponnya. Bagaimana jika Nathan mengajak bertemu? Bagaimana jika Nathan bertanya tentang kabar pertunangan Milana? Bagaimana jika--

"AAARGH!"

Milana terjatuh saat mencoba melakukan triple lutz. Sikunya bergesekan dengan permukaan es yang kasar dan berdarah.

Alexis berseluncur cepat menghampiri Milana.

"Perhatikan step-mu. Konsentrasi, Milana... Apa pun yang kamu pikirkan selain skating, tolong... Buang segera pikiran itu!" seru Alex tidak sabaran.

"Aku cuma tergelincir. Timing lompatanku kurang tepat."

"Karena kamu memikirkan hal lain. Aku perhatikan sejak ponselmu berdering, kamu mulai kehilangan fokus. Apa kamu benar-benar mau jadi juara?"

Milana tidak menjawab, ia hanya menunduk dan ragu-ragu untuk berdiri kembali.

"Haruskah kamu membuatku jadi orang jahat? Aku yang melarangmu mengangkat telepon dari Nathan, lalu kamu setuju dan menurut, tapi pada akhirnya kamu nggak bisa berkonsentrasi hanya karena dering ponselmu?" Kembali Alexis mencercanya dengan tidak sabaran.

"I'm sorry."

"Ini ke sekian kalinya kamu minta maaf."

"Aku tahu. Ini memang salahku. Tolong jangan marah," pinta Milana, masih mengusap sikunya yang terluka.

Alexis mendesah dan menarik tubuh Milana dan menegakkan tubuhnya supaya bisa berdiri. "Ayo menepi dan obati lukamu dulu."

Milana merasa bersalah. Ia tidak bermaksud membuat Alex kesal, tapi perasaannya pada Nathan sulit dibendung. Jika menyangkut Nathan, Milana merasa tidak pernah tenang.

"Kemarilah," ucap Alex sambil membuka kota P3K. Ia menyiram sedikit luka Milana dengan alkohol. Milana memejamkan mata menahan perih sebelum akhirnya Alexis mengobati luka Milana dengan cairan antiseptik. Dengan teliti, Alex membalut siku Milana.

"Aku pernah bilang padamu kan, jatuh cinta jika tidak memberikan akhir yang baik buatmu, akan membuatmu terluka di arena figure skating," ujar Alex, menutup kotak P3K setelah selesai mengobati luka Milana.

Milana mengangguk pelan.

"Yah, aku ingat jelas kata-katamu."

"Milana, aku minta maaf."

Milana mendongak, terkejut karena Alexis tiba-tiba minta maaf ketika ia sadar dirinya lah yang ceroboh dan bersikap labil.

"Ke-kenapa kamu minta maaf? Ini murni kesalahanku."

"Aku tahu, tapi aku yakin aku juga yang membuatmu jadi begini. Aku yang melarangmu bertemu Nathan yang akhirnya membuat kamu gelisah dan nggak fokus dengan latihanmu. Kalau aku menahanmu lebih lama, aku yakin kamu bisa menghancurkan kesempatanmu mendapatkan medali."

Milana terdiam. Menunduk. Ia tidak tahu lagi harus bereaksi seperti apa.

"Kamu boleh bertemu Nathan sebelum pertandingan."

Milana seketika terkejut dengan ucapan Alex tiba-tiba.

"Apa? Kamu serius?" tanya Milana.

"Aku serius. Aku benci melihatmu harus terluka lagi karena tidak bisa mengatur fokusmu."

"Tapi—"

"Tapi aku cuma mengizinkan kamu untuk bicara. Katakan yang sejujurnya tentang rencana kita untuk menikah. Lalu... Berpisahlah dengan Nathan dan selesaikan urusan kalian."

Milana menggigit bibirnya, "Aku nggak tahu apa maksud kamu 'selesaikan urusan'. Kami nggak pernah berpacaran. Satu-satunya janji yang aku buat adalah kami janji akan bertemu di Turin saat Grand Prix Final."

"Exactly. Kalian nggak punya hubungan apa-apa dan aku minta kalian selesaikan urusan kalian, lebih tepatnya aku minta kamu dan Nathan menghentikan apa pun rencana kalian saat kalian membuat janji itu."

"Soal itu—"

"No skinship. No kissing.... Dan juga, no sex."

Milana terdiam, ia ingin membantah tapi suaranya seperti tertahan.

"Jadi... Kamu nggak keberatan aku menemui Nathan?" tanya Milana lagi.

"Aku keberatan, tapi aku nggak punya pilihan. Kalau event ini jadi kompetisi terakhirmu, aku mau kamu jadi juara dan membawa medali emas. Yang artinya, aku juga nggak mau kamu memikirkan hal lain selain skating."

Alexis menepuk puncak kepala Milana lalu mendekatkan tubuhnya dan mengecup kening Milana.

"Aku sayang kamu, Milana... Apa pun akan aku lakukan buat kamu. Kalau kamu minta aku tetap tinggal di Indonesia, aku akan menuruti keinginanmu. Sekalipun kamu memintaku tidak menyentuhmu setelah kita menikah nanti, aku pun bisa terima. Aku cuma minta satu hal darimu. Singkirkan Nathan dari pikiranmu. Please..."

Milana makin tidak punya pilihan. Tapi ia paham yang diucapkan Alexis itu benar. Jika Milana sudah memutuskan satu hal, konsekuensinya ia harus meninggalkan hal lain di belakang.

Alexis menyodorkan ponsel Milana. Ke sekian kalinya, ponsel Milana berdering. Nathan tidak lagi menyembunyikan nomornya dan nomor itu adalah nomor yang sama yang telah meninggalkan pesan suara untuknya. Dengan ragu Milana menerima ponsel itu dan menekan tombol "terima panggilan".

"Halo, Nathan?"

***

LOVE ME, TOUCH MECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang