"Apa aku boleh mengganggu?" Nathan bertanya dengan pandangan matanya masih terarah pada tangan laki-laki itu yang menggenggam jemari Milana.
Milana tampak gamang, ia berniat mengatakan sesuatu. Tapi ternyata, Alexis bereaksi lebih cepat.
"Who are you? Kalau maksudmu bertanya apa kamu membuat percakapan kami terinterupsi, yes... Kami merasa terganggu. We're in the middle of discussing important matter."
"Ah, really? Yah, sepertinya begitu jika kalian saling berpegangan tangan. Tapi aku tetap akan mengganggu sekalipun tidak kamu izinkan." Nathan menarik lengan Milana hingga gadis itu terpaksa bangkit dari duduknya.
Milana merasa tidak enak karena perilaku Nathan membuat Alexis tersinggung, tapi sorot mata pria Rusia itu seolah menyiratkan dirinya tidak terpengaruh. Kedipannya memberi Milana keyakinan bahwa Alexis siap bekerja sama jika bantuannya dibutuhkan.
Nathan membawanya berdiri agak jauh dari meja Milana yang ditempatinya bersama Alexis. Genggaman tangan Nathan sungguh kuat. Pria berpostur 180 cm itu kini tampak menjulang dan makin menyeramkan saat wajah tampannya tersembunyi di balik sorot mata keji yang menegaskan kemarahannya.
"Kamu kenapa sih? Apa kamu harus berbuat seperti ini? Memalukan tahu," seru Milana dengan memasang wajah kesal.
"Memalukan? Kamu malu aku muncul di depan teman priamu?" Nathan terlihat tidak percaya Milana mengatakan hal sedingin itu.
"Dan kenapa kamu harus muncul? Aku melihatmu duduk dengan perempuan cantik, tapi aku nggak mengganggumu bukan? Lalu kenapa kamu mesti menggangguku?"
"Aku nggak keberatan kamu menggangguku. Tidak, aku justru berharap kamu menggangguku. Wanita yang kutemui tadi cuma salah satu dari rekan bisnisku," ujar Nathan.
"Kamu menjamu rekan bisnismu di tempat ini? Wow, akrab sekali. Aku kira makan malam bisnis selalu di tempat yang tenang dan elegan."
"Caraku berbisnis bukan urusanmu," sahut Nathan.
"Oh ya? Seharusnya aku makan dengan siapa juga bukan urusanmu kan?" Milana tidak mau kalah.
"Itu bisa jadi urusanku, karena kamu berada di bawah supervisiku demi tidak menodai kerjasama kita sebagai model ambassador dan sponsor utama."
Milana tidak percaya Nathan mengeluarkan kartu andalannya yang selalu membawa-bawa kerjasama mereka untuk hal yang sebenarnya tidak berhubungan.
"Kalau memang nama baikmu itu sedemikian penting, kamu justru nggak perlu khawatir. Orang itu adalah koreografer asal Rusia yang dibayar dengan mahal. Dengan uangmu. So basically he's my 'business partner'."
Nathan mengerutkan keningnya, tidak percaya.
"Apa aku membayarnya untuk melatihmu, atau untuk berkencan denganmu?" Tanya Nathan sinis.
"We're not dating! Kami baru selesai berlatih dan kami akan mendiskusikan banyak hal sebelum menentukan koreografi yang tepat untukku."
"Jadi maksudmu, setelah ini kamu masih akan terus bersamanya? Ke mana? Ke hotel?"
PLAK
Milana tidak tahan untuk tidak menampar wajah Nathan. Ia tidak menyangka Nathan akan berkata selancang itu.
"Apa hanya segitu saja yang kamu tahu tentang aku? Seolah-olah aku ini perempuan murahan yang bisa diajak kencan dan tidur di hotel? Apa karena itu kamu menciumku setelah kita pulang dari pernikahan Tatiana? Karena kamu nggak tahan melihatku memakai gaun seksi?"
Nathan tampak tidak menyangka akan membuat Milana semarah ini.
"Bukan begitu, aku—"
"Thanks, sekarang semuanya sudah jelas. Ciuman waktu itu benar-benar kesalahan."
Milana menyentakkan tangannya dari genggaman Nathan, lalu pergi dan kembali ke mejanya. Tak lama kemudian, Milana beranjak dan pergi bersama teman prianya.
Nathan yang menatap semuanya dari kejauhan menghela napas. Wajahnya menyiratkan penyesalan karena ia telah mengatakan hal yang tidak seharusnya. Namun, ia juga tidak bisa mencegah Milana pergi. Milana benar, bukan urusannya gadis itu makan malam atau pergi dengan siapa. Siapa Nathan hingga berani melarang-larang dengan alasan takut menodai kerjasama sponsor mereka.
Nathan mendengus, mengejek dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya Nathan menyadari tindakannya sangat tidak rasional. Dirinya sudah melangkah terlalu jauh dalam hubungan yang seharusnya tidak melibatkan perasaan.
Apa ia cemburu?
Pertanyaan itu menyusup ke benaknya tanpa diduga. Selama ini ia mengira dirinya adalah laki-laki rasional dan tidak pernah ceroboh memperlihatkan emosinya. Sekarang, rasanya begitu mudah ia tersulut amarah, kesedihan dan... gairah dengan hanya melihat Milana.
Tenangkan dirimu, Nathan... Kamu punya hal penting untuk diprioritaskan.
Ponsel Nathan berkedip-kedip. Panggilan dari Randy membuatnya tersadar kembali ke dunia nyata.
"Apa ada kabar terbaru?" Nathan tidak ingin berbasa-basi lagi.
"Aku sudah menyelidiki latar belakang Emily, wanita yang kamu temui hari ini. Dia adalah pemilik bisnis prostitusi model yang berkedok ritel fashion. Aku melihat ada aliran dana yang besar mengalir ke rekeningnya. Masih kami selidiki rekening yang berasal dari luar negeri, tapi besar kemungkinan melibatkan pejabat di perusahaan penerbangan." Suara Randy terdengar serius.
"Selidiki terus. Aku sudah hampir deal dengan kerjasama bisnis kami."
Terdengar suara Randy tertawa, "Woah, bos.... Kamu benar-benar lady killer sejati. Aku dengar dalam urusan bisnis, Emily super selektif dan hanya menerima koneksi yang disodorkan si pejabat itu untuk bekerja sama."
"Selektif? Mungkin, tapi pintar? Tidak. Dia tidak sepintar yang aku kira."
"Konon, bagi wanita jika berhadapan dengan laki-laki yang disukai, dia bahkan rela terlihat bodoh hanya supaya harga diri laki-laki tidak terluka. Hati-hati, bos... Dia mungkin akan mencurigaimu, tapi tidak sekarang, karena sekarang ini dia melihatmu sebagai mangsa. Awrrrrr!" goda Randy. Seharusnya Nathan tertawa sekarang, tapi pikiran tentang Milana tidak bisa membuatnya santai.
"Jangan sok tahu. Lanjutkan kerjamu," ucap Nathan sebelum memutuskan panggilan.
Lalu sesaat kemudian, Nathan menyadari sesuatu. Bahkan Randy yang bodoh itu saja menyadari bahwa Emily, wanita yang sesaat tadi makan bersamanya menunjukan minat yang besar pada Nathan. Apa saat Milana melihatnya, gadis itu juga berpikiran yang sama? Mengira bahwa percakapan bisnis ini adalah sebuah kencan?
Mungkinkah Milana juga cemburu?
Dan hari ini sikap Milana terlihat keras. Seolah Milana bukan lagi sosok ceria yang dulu selalu nempel dan hampir tidak pernah marah pada Nathan. Nathan menyentuh pipinya yang terasa panas. Entah kenapa tamparan gadis itu meski tidak keras, tapi terasa membekas.
Tapi, mungkin Nathan membutuhkan tamparan ini untuk menyadari bahwa Milana yang sekarang dan dulu sudah jauh berbeda. Selama ini rasanya Nathan hanya memanfaatkan rasa suka gadis itu padanya untuk bisa leluasa mengawasi Milana dari dekat.
Nathan kira, ciuman tempo hari akan membuat hubungan keduanya makin erat. Tapi kenapa rasanya Milana jadi semakin menjauh?
Oh, astaga... Nathan tidak menyangka dirinya akan mengkhawatirkan Milana yang menjauh. Bukankah itu yang dulu sering dilakukannya? Menjauhkan Milana dari urusan-urusannya?
Apa Nathan sudah sebegitu terpengaruh dengan keberadaan Milana sampai-sampai ia tidak tahan dengan keadaan Milana yang kini menjauhinya?
Damn!
Nathan memutuskan mengambil ponselnya dan mencoba mengetikkan sesuatu sebelum mengirimnya ke nomor Milana. Setelah terdiam beberapa lama, Nathan kembali ragu dan menghapus teks yang belum sempat dikirimkan.
Nathan frustrasi, tapi ia tidak ingin memulai pertengkaran lagi. Atau dirinya tidak bisa bekerja karena terlalu memikirkan Milana.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE ME, TOUCH ME
Romance18+ Sebagai atlet figure skating berbakat dan calon pewaris perusahaan kosmetik ternama, Milana Esanatmadja memiliki segalanya. Cantik, muda, berprestasi dengan berhasil membawa pulang medali perak dari olimpiade musim dingin. Peseluncur wanita yang...
