14. Broken Sister

324 24 0
                                        

Lama tidak melemaskan kakinya dengan berseluncur santai membuat Milana seperti baru pertama kali meluncur di atas es. Setelah berhasil menurunkan berat badannya, pada akhirnya Coach Anita mengizinkan Milana turun berseluncur. Namun, dengan segala pikiran berada di kepalanya, Milana kesulitan memusatkan perhatian pada putaran dan lompatannya. Ditambah bukan hanya dirinya seorang yang memakai arena ini untuk latihan. Fokus Milana terpecah saat di sisi arena yang lain, sekelompok anak kecil berlatih berseluncur dengan pelatih mereka.

Milana menghentikan aksinya berseluncur. Ia bersandar di tepi ring, menyaksikan bagaimana anak-anak kecil yang seperti baru mempelajari teknik dasar gerakan figure skating tampak bersemangat. Wajah-wajah polos itu mengingatkan Milana pada dirinya puluhan tahun lalu, saat di usianya yang masih sepuluh tahun begitu bahagia meluncur di atas es, jauh melebihi kebahagiaannya saat mendapatkan kado ulangtahun dari teman-temannya.

"Kenapa? Apa melihat anak-anak itu membuat kamu merasa nostalgia?"

Milana tersentak. Entah sudah berapa lama Jasper berdiri di sampingnya, hanya terpisah dinding ring.

"Begitulah... saat-saat yang paling emosional untuk anak-anak yang berambisi untuk jago meluncur di atas es. Aku selalu menangis bahagia saat berhasil melakukan semuanya pertama kali. Pertama kali melakukan slolem, backward swizzles, meluncur satu kaki, berputar dua kaki, mohawk, lalu crossover. Saat akhirnya menerima porsi latihan privat, aku jadi semakin serakah. Aku kesal tiap ada anak lain yang lebih jago dariku. Besok dan besoknya lagi, aku menghabiskan terlalu banyak waktu untuk latihan sendiri hanya supaya saat latihan aku bisa memamerkan pada pelatih aku lebih jago dari anak lainnya."

Jasper tertawa di dekat Milana. "Aku ingat itu. Kita berlatih melakukan lompatan waltz dan salchow bersama-sama. Kamu baru berhasil melakukan satu lompatan dan langsung bertekad akan menjadi peseluncur profesional dan melaju ke olimpiade."

"Haha, aku terdengar konyol pasti ya?"

"Saat itu kamu kedengaran sangat polos. Setelah aku mengingat-ingat lagi, entah kenapa rasanya kamu mengerikan."

"Mengerikan?" Milana tidak percaya Jasper menyebutnya mengerikan.

"Mengerikan karena kamu akhirnya mencapai semua yang kamu inginkan. Belum ada juara dunia figure skating yang berasal dari Indonesia karena di sini adalah negara tropis. Dan lihat dirimu, kamu membuat perubahan besar pada olahraga skating."

"Bukan aku, tapi karena uang keluargaku," ucap Milana mafhum.

"Yah, itu juga."

Milana mendesah. Jasper mengatakan sesuatu yang benar. Di masa-masa awal Milana terjun di dunia figure skating, keluarganya memberikan dukungan penuh karena mereka berpikir Milana akan bosan seiring waktu. Namun, kenyataannya yang terjadi Milana benar-benar terjun ke banyak kompetisi. Ia menorehkan prestasi di banyak kejuaraan di berbagai tingkatan. Resital untuk pemula, kejuaraan untuk pemula dan lanjutan, kejuaraan junior yang membuat namanya masuk di antara daftar figure skater andalan dari berbagai negara. Nama Milana akhirnya digadang-gadang menjadi satu-satunya peseluncur asal Indonesia yang akan menorehkan prestasi di kancah internasional. Ia mendapatkan banyak sorotan, dari media dalam negeri juga media luar negeri.

Keluarganya turut mensponsori kejuaraan skating. Sesuatu yang tidak bisa dibatalkan sekalipun mereka tidak bermaksud terlibat pada pengembangan olahraga figure skating. Semua 'keajaiban' ini mau tidak mau diakui Milana adalah bagian dari andil keluarganya dalam bentuk finansial. Andai Milana dilahirkan dalam keluarga biasa-biasa saja, semuanya akan lain ceritanya. Jika keluarga Milana tidak sekaya itu, barangkali mimpi Milana hanya berakhir mimpi indah semata. Pelatih profesional, koreografer berkelas, kostum, menyewa gedung untuk latihan tidak dibayar hanya dengan mimpi dan skill saja. Semuanya memerlukan uang. Secara kebetulan salah satu pemain berbakat terlahir dari keluarga konglomerat.

"Sungguh ironis, aku berkeras melepaskan diri dari pengaruh keluargaku hanya untuk berhasil di dunia skating, tapi kenyataannya uang mereka lah yang membuatku mampu melangkah sejauh ini."Milana menerawang jauh. Meski matanya tertuju pada sekelompok anak kecil yang berlatih, hatinya tertuju pada hal lain.

"Lalu apa rencanamu? Aku sudah dengar dari Risa. Kamu kabur dari rumah dan ayahmu menghentikan aliran dana untukmu, baik secara pribadi dan dukungan dana untuk yayasan di sini."

Milana menggigit bibirnya. Sepertinya Jasper belum tahu tentang dirinya yang kini tinggal di apartemen Nathan. Ia mempertimbangkan untuk bicara jujur atau menutupinya. Setelah beberapa lama, Milana memutuskan untuk jujur. "Aku tinggal bersama Nathan. Untuk sementara perusahaan Nathan yang akan menjadi sponsorku."

Wajah Jasper terlihat menegang. Tangannya mencengkeram erat lengan Milana.

"Kenapa? Kenapa harus Nathan? Kamu bisa datang ke rumahku dengan bebas, tapi kenapa kamu memilih Nathan? Aku juga bisa menjadi sponsormu. Aku punya banyak bisnis yang lebih dari yang dimiliki Nathan. Aku sudah mewarisi kerajaan media yang dirintis ayah dan kakekku. Aku bisa membuatmu lebih sukses lagi."

Milana mencoba melepaskan diri dari genggaman tangan Jasper. Ia sudah menduga Jasper akan melontarkan hal itu.

"Kalau kamu nggak terlibat sama Tatiana, aku mungkin akan mempertimbangkan untuk meminta bantuanmu. Tapi, maaf... sekarang aku nggak bisa melakukan itu. Aku nggak mau menempatkan diri lagi menjadi target kebencian Tatiana selamanya."

Milana beranjak keluar dari ring. Memasang pelindung pisau untuk sepasang sepatu seluncurnya dan berjalan menjauhi Jasper. Sayangnya, Jasper masih tidak puas dengan jawaban Milana. Kini laki-laki itu memaksa Milana membalikkan tubuh hingga wajah mereka berdekatan.

"Aku sudah bilang aku nggak punya hubungan apa-apa dengan Tatiana. Aku cuma mencintaimu, Milana. Sejak dulu..."

"Tapi Tatiana—"

"Dia nggak serius mengatakan dia hamil anakku. Nggak ada yang serius apa pun yang menyangkit orang yang penuh muslihat seperti dia. Aku sudah bicara padanya, dia nggak hamil. Dia cuma mengaku hamil supaya aku nggak terus-terusan mengabaikan telepon darinya."

Milana menghela napas. Ia perlahan menggeleng.

"Jasper, kamu temanku. Selamanya kamu tetap jadi temanku. Aku belum siap menganggap kamu lebih dari itu. Entah urusan Tatiana atau urusan sponsor untukku, aku nggak mau melibatkanmu karena aku nggak mau merusak hubungan pertemanan kita."

"Tapi kamu melibatkan Nathan? Kenapa kamu nggak melibatkan aku juga? Kamu hampir kena skandal konyol karena kamu terlibat dengan Nathan, kenapa kamu sebodoh itu malah masuk ke dalam hidupnya?" Jasper mengunci tubuh Milana dan mendorong gadis itu ke dinding. Jasper yang seperti ini membuat Milana merasa takut.

"Yah well, dengan dia jadi sponsorku, aku bisa menepis skandal itu."

"Itu konyol, jika ada orang yang tepat untuk melindungimu dari skandal itu adalah aku. Kamu tahu aku bisa membungkam media mana pun."

"Benarkah? Tapi kamu bilang sendiri kamu nggak bisa melakukan itu terus-terusan karena netizen sudah cukup cerdas bukan?" ujar Milana. Tingkah laku Jasper membuatnya tidak bisa menutupi kekhawatirannya. "Ditambah, kalau kamu bersikap seperti ini, kamu membuatku takut, Jasper. Aku takut karena aku sudah kehilangan kepercayaan ayahku, aku juga akan kehilanganmu sebagai teman."

Mendengar itu, Jasper mengendurkan cengkeramannya di bahu Milana. Ada sorot mata yang menyiratkan rasa bersalah.

"Jadi di sinilah kalian... bermesraan di belakang arena?"

Milana tersentak, menyadari ada orang lain yang mendengarkan percakapannya dengan Jasper. Lalu sedetik kemudian, Milana merasa silau dengan kilatan blitz yang disertai dengan bunyi shutter kamera. Saat kilatan cahaya itu lenyap, Milana menyipitkan matanya, mencari tahu siapa sosok yang dengan lancang mengambil foto sembarangan. Jantungnya berdetak lebih cepat dan tubuhnya menegang saat mengenali sosok itu. Sosok perempuan yang membangkitkan rasa marah di benak Milana.

Tatiana.

LOVE ME, TOUCH METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang