Menyembunyikan identitasnya sebagai polisi sudah cukup menyulitkan bagi Nathan, kini ia harus pasrah dibebani tanggung jawab untuk mengasuh satu lagi anak kecil yang berwujud wanita dewasa. Untung saja saat Randy menghubunginya dan memberitahunya tentang kondisi Milana yang mabuk dan tidak kuat bahkan untuk mengangkat lengannya sendiri, Nathan berada di suatu tempat yang tidak jauh.
"Nathan? Ternyata kamu datang?" Milana yang masih mabuk akhirnya membuka mata saat Nathan menggendongnya untuk membawanya ke mobil. "Ahhh, aku suka sekali parfummu, di dekatmu membuatku nyaman."
Nathan serta merta tak berkutik saat Milana merangkul lehernya dan mendekatkan wajahnya ke dekat tengkuknya. Ada sensasi menggelitik yang membuat sekujur tubuhnya terasa meremang. Ia buru-buru membuka pintu mobil dan mendorong tubuh Milana untuk duduk di kursi penumpang.
"Kamu sudah gila!" ujar Nathan, memutari mobil dan kini membuka pintu kemudi. "Kalau kamu nggak yakin bisa kuat minum alkohol kenapa datang ke tempat ini?" seru Nathan, ia masih kesal karena melihat Milana memakai baju kelewat seksi dan mabuk di tempat yang banyak dipenuhi laki-laki predator seksual."
"Hmmm karena menyenangkan? Benar juga, seperti yang dibilang Risa. Aku dulu hanya fokus latihan, latihan dan latihaaaan terus. No pain, no gain sampai aku lupa caranya bersenang-senang. Ya ampun, menari di lantai dansa ternyata seru ya.... " Milana tertawa terbahak-bahak. Agaknya reaksi alkohol di tubuhnya belum berkurang.
"Hei, nggak ada yang melarangmu untuk menari, tapi bisa tidak kamu mengenakan sesuatu yang nggak terlalu provokatif? Kamu nggak bisa berharap laki-laki di tempat itu semua orang baik, astaga..." Nathan nyaris merasa frustrasi.
"I know, i know... apa boleh buat, Risa yang memaksaku. Kamu tahu aku nggak bawa banyak baju saat pergi dari rumah. Risa yang memilihkan baju ini, katanya aku membuat perempuan lain iri dengan tubuhku. Hahaha, ada-ada saja."Milana memukul lengan Nathan dengan keras. "Oh, ngomong-ngomong, Risa di mana? Apa dia nggak ikut bersama kita?"
"Aku sudah meminta Randy mengantar Risa pulang. Sejujurnya bukan Risa yang aku khawatirkan karena dia lebih kuat minum ketimbang kamu, tapi kamu..." Nathan kehabisan kata-kata. "Kamu bukan orang yang seperti ini."
"Bullshit. Kamu nggak mengenalku, memangnya kamu pikir aku orang yang seperti apa? Apa aku dilarang bersenang-senang? Dilarang merasa bebas dengan pilihanku sendiri?" ucap Milana yang dipenuhi sorot mata kemarahan.
Nathan terdiam. Milana sulit diprediksi. Ia memang tidak tahu apa yang dialaminya. Memang sebaiknya Nathan tidak banyak bicara atau membuat singa betina yang tengah mabuk menjadi tambah liar. Belakangan tindakan Sejenak Nathan menghela napas sebelum menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan tempat ini.
Sesampainya di apartemen, Nathan memapah tubuh Milana untuk bisa berdiri tegak dan membantunya berjalan. Namun, Milana mendorong uluran tangan Nathan seolah gadis itu tidak mau Nathan menyentuhnya. Sepanjang jalan hingga saat ini, Milana tidak berkata apa-apa. Begitu juga saat mereka berada di dalam lift.
Setelah turun dari lift, baik Nathan dan Milana dikejutkan dengan kehadiran seseorang. Tepat di hadapan apartemen Nathan, sesosok laki-laki berdiri menunggu. Nathan mengenalinya sebagai sosok yang menjadi teman baik Milana sejak kecil.
"Kenapa kamu ada di sini? Bagaimana caramu masuk ke sini?" Nathan terkejut karena merasa kecolongan. Sejak Milana tinggal di sini, Nathan pun harus mengganti password dan mengetatkan keamanan dengan meminta bantuan sekuriti untuk menahan tamu yang datang dengan serampangan untuk masuk ke apartemennya, meski hanya menunggu di depan pintu.
"Milana, aku mau kita bicara sekali lagi," ujar laki-laki yang Nathan ingat bernama Jasper. Dari raut wajahnya, tampak Jasper dan Milana terlibat pembicaraan yang serius. Mau tidak mau, Nathan berpikir apakah Jasper yang menjadi penyebab Milana hari ini berlaku liar seperti ini?
Di sisi lain Milana tidak peduli dan langsung masuk ke apartemen begitu pintu terbuka.
"Milana! Aku belum selesai bicara!" seru Jasper yang bermaksud menyusul Milana, tapi Nathan segera menghentikannya.
"Tunggu sebentar, aku nggak ingat sudah mengizinkanku masuk."
Mendengar itu, Jasper menjadi tersulut. "Jangan ikut campur. Ini bukan urusanmu!"
"Bukan urusanku? Kamu datang kemari ke apartemenku dan sekarang Milana tinggal bersamaku. Bukankah itu secara otomatis menjadikan ini adalah urusanku?"
Jasper mendekati Nathan dengan sorot mata dingin. "Jangan khawatir. Milana nggak akan lama di sini. Hari ini juga aku akan membawanya pergi dan tinggal bersamaku."
Entah kenapa mendengar itu Nathan merasa ada kemarahan yang tidak sanggup ia tahan. "Hei, hei... Milana akan pergi atau tidak dari sini, bukan kamu yang memutuskan," ucapnya, tanpa sadar melontarkan cengiran yang mengejek laki-laki di hadapannya itu. Jasper yang merasa sedang ditantang tidak bisa menyembunyikan kemarahannya dan mencengkeram kerah jaket Nathan.
"Kenapa? Bukankah dari dulu kamu nggak pernah menyukainya? Kamu selalu menganggapnya anak kecil yang merepotkan. Sekarang atau nanti, nggak ada bedanya. Milana akan makin sengsara kalau dia tinggal denganmu."
Nathan melepaskan diri dari cengkeraman Jasper meski sorot matanya masih setajam pisau. "Ini bukan soal aku suka atau tidak, tapi apakah Milana merasa nyaman atau tidak. Maaf kalau aku menyinggungmu. Kalau dia memilih berada di sini, ini karena dia merasa aman bersamaku ketimbang bersamamu."
Emosi Jasper memuncak dan bersiap melayangkan tinjunya. Namun, tubuhnya didorong keras oleh seseorang hingga jatuh terduduk. Dilihatnya Milana yang marah dan terengah-engah setelah mendorong jatuh Jasper.
"Kamu nggak ada urusan lagi denganku, dasar brengsek! Aku sudah bilang... aku nggak akan berurusan lagi dengan orang yang sudah menghamili Tatiana. Urusanmu adalah dengan Tatiana, bukan denganku. Urusan kita sudah selesai!" Milana berbalik, tapi Jasper menarik lengannya dengan cepat.
"Tapi itu bukan keinginanku. Itu cuma kesalahan sesaat." Jasper berkeras mengubah pendirian Milana.
"Buka matamu, Jasper! Mau kesalahan atau tidak, Tatiana sudah hamil anakmu. Kamu nggak bisa menganggap semua itu nggak ada."
"Aku tahu dan aku akan membereskan masalah itu secepatnya."
"Dengan apa? Dengan koneksi ayahmu? Dengan kehebatan bisnis media milik keluarga kalian dan meminta Tatiana menggugurkan kandungannya?" Milana menggeleng tidak percaya. "Jangan jadi manusia rendahan. Kalau kamu melakukan itu aku nggak akan mau mengakuimu sebagai temanku."
Milana menghambur pergi dan masuk ke kamarnya tanpa keluar lagi. Jasper masih terdiam, seolah tidak percaya Milana mengucapkan hal yang menyakiti hatinya. Nathan yang sedari tadi mendengarkan perdebatan itu pun menghela napas. Misteri sudah terjawab kenapa malam ini Milana bertingkah aneh. Penyebabnya adalah laki-laki ini yang berwajah seakan mau menangis.
Tatiana dan Jasper? Kenapa Nathan tidak terkejut mendengar keduanya pernah memiliki hubungan hingga Jasper menghamili Tatiana? Jadi itulah alasan kenapa Tatiana membatalkan pernikahan dengannya. Setelah kehebohan ini, semuanya terasa masuk akal. Nathan mendekati Jasper sebelum akhirnya mengatakan kalimat terakhir.
"Milana benar. Ketika kamu berurusan dengan Tatiana, urusanmu dengan Milana sudah selesai."
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE ME, TOUCH ME
Romansa18+ Sebagai atlet figure skating berbakat dan calon pewaris perusahaan kosmetik ternama, Milana Esanatmadja memiliki segalanya. Cantik, muda, berprestasi dengan berhasil membawa pulang medali perak dari olimpiade musim dingin. Peseluncur wanita yang...
