Nathan baru selesai mandi saat mendapati ada dering aneh yang bukan berasal dari ponselnya. Ia mencari asal suara deringnya, menyisir ke area dapur hingga ruang tengah. Lalu matanya menangkap kilatan layar yang berkedip di bagian sofa. Nathan membungkuk dan memeriksa setiap lekukan sudut sofa dan ia pun menemukan sebuah ponsel. Ponsel ini bukan milik Nathan. Mengingat sebelumnya Milana tidur di sofa, sudah pasti benda ini milik Milana, pikirnya.
Mungkin penelepon adalah Milana sendiri yang mencari ponselnya. Nathan membaca nama pengirimnya. Seseorang bernama "Risa". Yah, bisa jadi Milana menelepon dengan memakai ponsel temannya.
"Ya," sapa Nathan dengan singkat.
"Milana? Apa ini bukan ponselnya Milana?"
"Ya ini ponselnya Milana. Apa Milana menelepon untuk mencari ponselnya? Dia meninggalkan ini di apartemenku."
"What? Jadi di mana Milana?" Suara di seberang sana terdengar cemas.
"Di mana Milana? Aku kira kamu bersama Milana."
"Kalau aku bersamanya, untuk apa aku menelepon dia?" Suara perempuan itu terdengar kesal.
"Jadi kamu—"
"Kamu bilang Milana pergi dari apartemenmu tanpa membawa ponselnya?"
Nathan bingung harus menjawab apa. "Ya, sepertinya begitu."
"Urghhh!!! Ya tuhan, aku mesti bagaimana? Aku kira dia benar-benar menginap di tempatmu, tapi ternyata dia pergi katamu?" Nathan makin menangkap nada putus asa dan kecemasan. Lama-lama perasaannya tidak tenang.
"Sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Nathan. Ia sempat menduga Milana bersikap aneh, tapi ia pikir mungkin gadis ini hanya stres karena perkara diet. Namun, sepertinya ada hal lain yang membuat Milana bersikap aneh.
"Kamu tidak tahu? Apa dia tidak cerita?"
Ternyata benar. Ada sesuatu yang tidak diketahui Nathan.
"Aku mau tahu, tolong ceritakan semuanya."
Terdengar embusan napas. Nathan makin khawatir.
"Milana memberitahu kalau dia bertengkar hebat dengan ayahnya. Sesuatu tentang tuntutan keluarganya yang ingin dia berhenti berkompetisi skating dan mengurusi perusahaan. Pertengkaran mereka kali ini serius, Milana pergi dari rumah dan tidak punya uang sepeserpun karena rekening pribadi dan kartu kreditnya diblokir."
"Seserius itu?"
Meski suaranya terdengar tenang, sejujurnya Nathan nyaris dihajar kepanikan. Ia belum lama mengusir Milana dari apartemennya. Ia berpikir kondisi Milana tidak seburuk yang diceritakan temannya ini.
Astaga, betapa bodoh dirinya.
"Sepertinya serius dan... Ya tuhan, aku menyesal aku nggak bisa membantunya saat dia minta menginap di tempatku."
"Kenapa?"
"Karena.... Karena aku tinggal dengan pacarku. Aku bingung kalau aku menerimanya tinggal di tempatku, pacarku akan menjauh dan bisa-bisa dia... Menginap di tempat mantannya. Milana tahu aku bingung dan dia bilang.... Dia akan menginap di tempatmu saja."
"Lalu?"
"Tadi sore dia sudah bilang pasti tinggal di tempatmu, jadi aku tidak khawatir. Entah kenapa, hari ini aku ingin memastikannya. Tapi kamu bilang Milana justru pergi dari apartemenmu? Ke mana? Lalu kenapa dia meninggalkan ponselnya? Kenapa kamu nggak mau menerima dia tinggal di tempatmu?"
Nathan memijit kepalanya yang mendadak berdenyut.
"Aku.... Aku tidak tahu karena dia tidak cerita apa pun. Aku pikir hanya pertengkaran biasa. Meski Milana bilang akan pergi, pada akhirnya dia selalu kembali ke rumah." Nathan tidak tahu harus memikirkan kemungkinan yang mana. Saat ini yang ada di pikirannya adalah mencari tahu apa yang akan dilakukan Milana dengan kondisinya yang sekarang, tanpa uang dan juga... Tanpa ponsel.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE ME, TOUCH ME
Romance18+ Sebagai atlet figure skating berbakat dan calon pewaris perusahaan kosmetik ternama, Milana Esanatmadja memiliki segalanya. Cantik, muda, berprestasi dengan berhasil membawa pulang medali perak dari olimpiade musim dingin. Peseluncur wanita yang...
