Milana membuka mata. Hari ini sungguh terasa aneh karena saat ini di apartemen ada dua pria yang tengah menungguinya sakit. Alexis datang membawakan obat dan membelikan makanan, tapi Nathan yang mengetahui makanan itu kurang cocok dikonsumsi orang sakit memutuskan untuk memasakkan bubur dan sup hangat. Nathan menyuapi Milana yang masih lemas. Sementara Alexis membantu Milana membereskan apartemen yang berantakan. Dalam sehari, Milana merasa seperti memiliki peri rumah yang semuanya berwujud pria tampan.
Beginikah rasanya jadi pemeran utama wanita seperti dalam drama korea? Diperebutkan dua lelaki yang mencintainya?
Ah, tunggu... Bagian 'mencintainya' ini yang membuat Milana berbeda dari pemeran utama wanita di film atau drama, sementara kenyataannya laki-laki itu hanya tetangga apartemen dan pelatih koreografinya.
Bangun, Milana... Kamu terlalu banyak berkhayal.
"Kamu sudah bangun?" Alexis masuk ke kamarnya, menyentuhkan tangannya di kening Milana, lalu menyodorkan termometer. Setelah beberapa saat Alexis memeriksa kembali dan ekspresinya tampak lega.
"Syukurlah, sudah agak turun. Bagaimana keadaanmu?"
"Lumayan," jawab Milana dengan suara masih serak, tapi tidak separah tadi pagi.
Daripada memikirkan kondisinya sekarang, Milana memikirkan bagaimana bisa Alexis terlihat nyaman dengan hanya mengenakan t-shirt polos warna putihnya. Rambut pirangnya terlihat basah sehabis mandi. Karena pria ini biasanya menjadi pelatih koreografi yang mengajarkan banyak gerakan gemulai tarian balet dan jenis tarian lain, Milana lupa bahwa Alexis seorang pria yang memiliki otot liat dan lengan yang kokoh. Wajahnya jangan ditanya. Taruhan Alexis mungkin memiliki banyak skandal dengan anak didiknya yang kebanyakan wanita muda.
Ah, tidak. Itu bukan urusan Milana.
"Di mana Nathan? Dia sudah pulang?" tanya Milana.
"Aku di sini. Kenapa? Kamu butuh sesuatu?" Nathan tiba-tiba muncul di pintu kamar. Hampir sama seperti Alexis, Nathan yang sekarang terlihat segar dengan hanya mengenakan t-shirt tanpa lengan yang menempel ketat di tubuhnya, memperlihatkan otot bisep dan otot perutnya yang kencang.
Ada apa dengan laki-laki di rumah ini? Apa mereka bermaksud memberi Milana serangan jantung?
"Kalian seperti habis mandi bersama dengan muncul dengan rambut basah seperti ini," celetuk Milana yang sontak menutup mulutnya karena terlalu jujur.
Alexis sontak tertawa, "Dengan otakmu yang mulai bisa berfantasi, sepertinya kamu memang sudah membaik."
"Menurutmu gara-gara siapa kami harus kerja keras dan berkeringat banyak sampai harus mandi dua kali?" Nathan membalas dengan sebuah sindiran. "Kalau tahu kamu akan membuat apartemen ini berantakan setiap hari, aku nggak akan minta diskon sewa supaya bisa kamu tempati," omelnya lagi.
"Maaf. Aku aku sudah berencana bersih-bersih saat punya waktu luang di hari libur," ucap Milana merasa bersalah.
"Next time, jangan tunggu waktu luang untuk bersih-bersih." Suara Nathan terdengar seperti perintah.
"Soal itu, bagaimana kalau kuberitahu nomor asisten rumah tangga khusus hanya membereskan urusan domestik. Selama aku tinggal di sini, aku juga memakai jasanya. Kamu mau aku kenalkan?" tawar Alexis. Baru saja Milana akan mengangguk, Nathan sudah menyela lagi.
"Nggak perlu. Aku nggak suka ada sentuhan orang asing di apartemen ini," seru Nathan.
Alexis tampak kesal. "Hei, kamu bicara seolah-olah kamu pemilik apartemen ini."
"Aku memang pemilik tempat ini. Tapi, maksudku, orang asing tidak cukup bisa dipercaya ketika yang tinggal di sini hanya perempuan single. Kalau sampai ada yang tahu Milana itu ceroboh dengan mudah percaya pada orang, akan sangat berbahaya."
"Astaga, tenangkan dirimu. Milana sudah dewasa dan umurnya 25 tahun, biarkan dia menentukan keinginannya sendiri." Alexis tampak kesal.
"Menurutmu dia tampak bisa mengatur hidupnya sendiri? Selama enam tahun aku melihatnya hidup bagai tuan putri. Sekarang akhirnya dia tinggal sendiri, apa gunanya kalau dia kembali jadi anak manja?"
Nathan kini menyingkir dari pintu, kembali lagi pada kesibukannya yang entah apa. Milana seketika merasa kesal karena selama ini Nathan hanya memperlakukannya seperti anak kecil. Ia mendesah kesal. Ingin memprotes tapi yang dikatakan Nathan memang ada benarnya.
"Enam tahun, huh? Jadi dia laki-laki yang membuatmu tergila-gila selama enam tahun?" Tanya Alexis. "Dia bahkan nggak menganggapmu wanita dewasa, apa sih yang kamu suka dari dia?"
Milana tampak frustrasi dan menelungkupkan wajahnya di antara kedua lututnya yang tertutup selimut.
"I don't know. Don't ask."
"Tadinya setelah melihat dia khawatir padamu, kupikir dia mungkin juga memiliki perasaan untukmu. Tapi setelah mendengar kata-katanya barusan... Rasanya kemarahan dan kekhawatirannya mirip saat dia berhadapan dengan adiknya. You have a big problem here.... Kamu menyukai laki-laki yang hanya menganggapmu sebagai adik."
Mendengar itu Milana merasa bagai merasakan gempa bumi yang dahsyat. Kenapa Alexis harus mengatakan hal serealistis itu.
"Menurutmu, dia hanya menganggapku sebagai adik?"
Alexis mengangguk. "Kemungkinan besar."
"Tapi waktu itu, kami bertengkar karena dia berpikir ada sesuatu di antara kita. Bukankah itu seperti cemburu?" tanya Milana tampak bingung.
"So that's why you need to ask him about his feeling. Dugaanku, kecurigaannya denganku malam itu hampir sama dengan kecurigaannya dengan orang-orang yang masuk ke apartemen ini berniat buruk padamu. Orang asing baginya dianggap orang yang mungkin menyakiti adiknya. Masuk akal kalau dia nggak menyukaiku."
Milana makin gamang.
"What should i do, then? Kalau dia benar-benar menganggapku adik, apa gunanya aku meminta kepastian tentang perasaannya?"
Alexis tertawa mendengar kepolosan Milana.
"Kamu lupa apa yang pernah aku bilang? Kamu minta kepastian supaya kamu tenang dan kembali melanjutkan hidup. Kamu butuh pikiran yang jelas tanpa ada pertanyaan-pertanyaan dan ketidakpastian. Kamu perlu kembali menjadi Milana Esana The Fatal Beauty yang tidak akan goyah di arena figure skating." Alexis berusaha menyakinkan Milana.
"Bagaimana kalau aku semakin bingung? Kalau aku tetap menyatakan perasaan, dia menolakku, tapi hubungan kami tetap seperti ini? Bagaimana kalau aku tidak bisa terima kalau dia menjauhiku dan mengira kebaikannya padaku hanya akan membuatku berharap? Aku tidak siap dia menjauh dariku, Alex...."
"Mungkin... Kamu perlu langkah yang lebih berani." Alexis menatap lurus ke arah Milana. Seolah laki-laki itu memiliki ide gila.
"Apa itu?"
Milana bisa mendengar langkah seseorang yang berniat masuk ke kamar. Mungkin Nathan sedang berjalan ke sini.
"Seperti ini...."
Tepat di saat Nathan masuk, Alexis mencondongkan tubuhnya mendekat ke tubuh Milana. Milana dengan jelas mencium aroma shampo milik Milana di rambut pirang Alexis. Tanpa diduga, laki-laki ini memagut bibir Milana. Bibirnya mendesak ke permukaan bibir Milana dengan cara yang sangat sensual. Milana syok dengan manuver yang dilakukan Alexis, tapi ia lebih syok dengan peristiwa sesudahnya.
Nathan dengan cepat memisahkan Alexis dari Milana dan mencengkeram bagian atas t-shirt pria Rusia itu dan mendorongnya kuat-kuat hingga punggung Alex membentur dinding.
"Apa yang kamu lakukan, dasar brengsek!"
***
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE ME, TOUCH ME
Roman d'amour18+ Sebagai atlet figure skating berbakat dan calon pewaris perusahaan kosmetik ternama, Milana Esanatmadja memiliki segalanya. Cantik, muda, berprestasi dengan berhasil membawa pulang medali perak dari olimpiade musim dingin. Peseluncur wanita yang...
