57. Insecure

160 13 0
                                        

"Milana, kalau Mama sudah nggak bisa menonton berseluncur lagi, janji ya kamu bakal jagain papa kamu?"

"Kenapa Mama bilang begitu? Mama mau ke mana?"

"Mama mungkin akan pergi ke tempat yang jauh."

"Di mana itu, Ma? Apa Milana nggak boleh ikut?"

"Kamu boleh ikut kalau Tuhan izinkan kamu ketemu Mama."

Milana yang masih berusia 10 tahun belum sepenuhnya mengerti arah percakapan itu. Ibunya yang tidak pernah bisa pergi ke mana-mana dan hanya berbaring di ranjang mengatakan akan pergi jauh. Milana berpikir pergi jauh adalah saat di mana ibunya akan ke luar negeri untuk belanja atau tinggal sebentar di negara-negara Eropa seperti Swiss, tempat kelahiran nenek Milana yang adalah orangtua dari ibunya.

Milana belum memahami kenapa Mama selalu terlihat pucat dan keluar masuk rumah sakit. Papa tidak pernah memberitahu Milana tentang keadaan Mama. Setiap ditanya, Papa selalu murung dan tidak pernah menjawab. Setiap orang di rumahnya mengatakan bahwa Mama hanya sakit perut biasa. Milana baru menyadari bahwa Mama sekarat karena kanker empedu sesaat setelah Mama mengembuskan napas terakhir dan membuat Papa menangis dengan keras.

"Mama sayang kamu, Milana. Jangan buat Papa-mu kesepian lagi. Tolong jaga Papa sebagai ganti Mama."

Itulah kata-kata Mama terakhir kali. Karena terpukul dan dihantam kesedihan karena ditinggalkan sosok yang paling disayanginya, ingatan tentang kalimat terakhir Mama hanya samar-samar. Milana hampir melupakannya sampai Milana bermimpi tentang Mama malam ini dan secara ajaib mengingat kembali pesan Mama di hari meninggalnya beliau.

Milana bangun di tengah malam dan menyadari ia kembali menangis. Ia bangun seorang diri dan secara aneh merasa sangat kesepian. Diraihnya ponsel, tapi Milana tidak tahu harus menghubungi siapa. Ia sangat ingin bicara dengan Nathan, tapi sejak menginjakkan kaki di Sapporo, Jepang, Nathan belum menghubungi Milana sama sekali.

Kejam.

Terbawa emosi, Milana membanting ponselnya hingga menghantam tembok dan menangis putus asa.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar hotelnya diketuk. Milana tercenung saat menyadari Alexis berdiri dengan wajah cemas.

"What's wrong? Ada suara benda jatuh keras sekali. Apa yang terjadi?"

Alexis masuk sebelum Milana mengatasi keterkejutannya. Buru-buru Milana mengusap air matanya.

"Kamu nangis? Lagi? Ada apa?"

"It's okay. I'm just having a bad dream." Milana menutup wajahnya dan kembali ke tempat tidur. Mencoba mengabaikan kehadiran Alexis.

Sayangnya, Alexis mengetahui ponsel Milana yang dalam keadaan hancur di lantai.

"Kamu membuang ponselmu? Apanya yang 'it's okay' kalau kamu semarah ini sampai harus membanting ponsel?"

Milana tidak bisa mengelak.

"Aku cuma.... Mimpi buruk. Itu benar," ujar Milana mencoba menjelaskan.

"Oke, mimpi buruk apa yang membuatmu semarah ini?" Alexis mendekat dan duduk di tepi ranjang Milana.

Milana menghela napas.

"Dua hari berturut-turut aku memimpikan Papa dan Mama. Entah, sejak Papa meninggal dan aku jauh dari rumah, aku sangat sensitif dan rindu kedua orangtuaku." Milana makin tidak bisa menahan isakannya.

"Tapi yang lebih menyakitkan, saat bangun aku merasa sangat kesepian." Milana tidak berani menatap Alexis dan hanya meringkuk dengan menekuk kedua lututnya di bawah selimut.

LOVE ME, TOUCH METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang