62. Endless Craziness

194 14 1
                                        

"Kamu udah gila ya? Serius kamu bakal nikah sama bule rusia itu?" Risa seketika memberondong Milana dengan seabrek pertanyaan saat mereka berada di pesawat menuju Grenoble.

Karena kedatangan Alexis yang tidak direncanakan, tempat duduk di pesawat pun membuat Milana terpisah dengan Alexis. Di dekat Milana hanya ada dua temannya, Maya dan Risa yang memesan penerbangan kelas bisnis untuk Milana juga. Sementara Alexis terpisah jauh di kelas ekonomi.

"Aku juga nggak ngerti, tapi cuma Alexis yang terpikir di kepalaku. Aku perlu alasan kuat untuk merayu Nenek kalau aku bisa jadi pewaris."

"Tapi, Nenekmu dari dulu memintamu mewarisi perusahaan. Tanpa Alex pun kamu bisa membujuk beliau." Risa masih keheranan.

Milana menggeleng. "Nggak semudah itu, Ris. Aku sudah mencari tahu dari artikel dan banyak informasi. ESANA punya proyek pengembangan besar yang di-handle oleh Tatiana dan Tante Hilda. Proyek itu sudah disetujui saat rapat pemegang saham. Ini menguatkan posisi mereka untuk bisa dipromosikan menggantikan posisi Papa. Lalu tiba-tiba aku muncul bilang akan mewarisi perusahaan? Mereka akan menertawakan aku tahu...."

"Karena kamu sama sekali nggak paham seluk beluk perusahaan dan cuma tahu figure skating?" tebak Maya yang juga nimbrung ke dalam obrolan.

Milana mengangguk. "Kenapa aku baru memikirkan ini setelah sekian lama Papa membujukku? Aku nggak tahu perusahaan sebegitu penting bagi mereka..." Sekali lagi Milana menunduk, merasa menyesal.

"Jadi kamu berencana menikahi Alex karena dengan begitu, nenekmu akan memasukkan Alex jadi bagian dari perusahaan?" tanya Maya.

"Pastinya. Beliau bisa saja menyingkirkan aku sebagai pewaris, tapi kalau aku menikahi laki-laki bukan kalangan pengusaha, beliau nggak akan sanggup melihat suamiku memiliki pekerjaan lain selain pengusaha. Alex sudah pasti akan mendapat posisi penting di perusahaan, berikutnya akan lebih mudah bagiku mencampuri urusan perusahaan."

"Tapi, Milana.... Tidakkah itu kejam bagi Alexis? Dia bukan orang Indonesia dan kita belum tahu rencananya setelah kamu pensiun. Mungkin di luar sana ada tawaran bagus untuk melatih atlet berbakat lain." Risa menambahi.

"Aku setuju. Menikah denganmu bagi orang seperti dia itu komitmen besar. Belum lagi dia harus mengurus kewarganegaraannya," tukas Maya.

Sejujurnya Milana juga memikirkan ini. Apa dirinya sudah meminta hal tidak masuk akal? Tapi Alexis datang memberikan cincin, apa laki-laki itu bermaksud untuk menjalin hubungan serius dengan Milana?

"Lalu... Gimana dengan Nathan?"

DEG

Sejenak Milana nyaris tidak bisa berpikir saat mendengar nama Nathan disebut. Kehangatan saat bercengkerama di malam sebelum Milana berangkat ke Jepang dan janji mereka untuk bertemu di Italia saat Grand Prix Final.

Bagaimana perasaan Nathan saat mengetahui Milana akan menikahi Alexis?

"Dia... Sudah nggak penting lagi," jawab Milana mencoba menutupi perasaannya.

"Kamu tahu, Milana? Kata-kata dan ekspresimu sama sekali nggak matching. Kamu bilang seolah nggak peduli Nathan, tapi mukamu sedih begitu...." Risa menimpali.

"Karena memang nggak penting. Selama ini Nathan nggak pernah memprioritaskan aku. Aku nggak tahu apa yang dia kerjakan, apa yang dia sembunyikan dan bahkan, aku nggak tahu nama aslinya."

Masih teringat jelas kata-kata Alexis yang mengatakan Nathan Gareth bukan nama asli laki-laki itu, melainkan identitas palsu.

"Bukan nama aslinya? Apa maksudmu?" Risa bertanya karena penasaran. Milana pun menggeleng lagi.

LOVE ME, TOUCH METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang