"No, no, no... Tekuk kakimu lebih ke dalam. Posisi plie pada kakimu sama sekali nggak mencerminkan skill-mu saat stroking."
"Pay attention untuk gerakan attitude. Jangan meremehkan skill dasar balet untuk yang satu itu atau layback spin-mu tidak akan sempurna."
"Lakukan pirouette lebih cepat, lebih akurat dan lebih ekspresif. Perhatikan spotting dan timing-mu. Cepat saja tidak cukup menjadikan gerakanmu indah dilihat."
Milana mencoba fokus untuk sesi latihan balet bersama koreografer asal Rusia. Saat ini latihan intensif sudah dimulai. Sebelum Milana dikenalkan dengan koreografi untuk short program-nya, Alexis Makarov, koreografernya mewajibkan Milana mendapatkan pelatihan balet supaya koreografi yang ditarikannya lebih sempurna saat berseluncur.
Ini membuat waktu latihannya dihabiskan lebih banyak di studio balet ketimbang di arena ice skating. Sebelumnya, Milana pernah mendapatkan pelatihan di kelas balet, tapi itu didapatnya bertahun-tahun lalu. Saat ini ia sudah jarang melatih gerakan balet yang juga berhubungan dengan teknik gerakan untuk figure skater. Saat koreografer melihat Milana melakukan short program untuk tahun lalu, ekspresinya tidak terlalu puas.
"Aku heran bagaimana orang sepertimu bisa menjadi runner up di final olimpiade. Kecuali memang tidak ada peserta lain yang lebih bagus, aku rasa memang teknikmu biasa-biasa saja."
Ucapan Alex terasa sangat merendahkan. Tapi, Milana tidak mengelak sama sekali. Dengan absennya ia selama kurang lebih setahun dengan tidak berlatih skating maupun balet, membuat tubuhnya menjadi kaku dan kurang lentur. Ditambah bagi koreografer asal Rusia, negara yang dipenuhi seniman balet dan atlet figure skating ternama, pastilah standar di sana sudah terlalu tinggi. Ini membuat Milana merasa minder jika berlatih bersama koreografernya.
Milana terengah-engah setelah sesi latihannya yang dihujani kritikan dan teriakan Alex akhirnya usai. Keringatnya mengalir deras dan napasnya sedikit tersengal.
"You need to work out more demi ketahanan fisikmu," ucap Alex dengan bahasa indonesia bercampur inggris. "Aku akan sampaikan ini ke pelatihmu untuk memberi porsi lebih untuk latihan fisik."
Milana mengangguk. Dengan latihan fisik lebih banyak, ia akan lebih sibuk dan lebih kelelahan. Sisi baiknya, Milana tidak akan punya waktu untuk memikirkan Nathan. Ah, sialan... Milana sudah mati-matian untuk tidak lagi memikirkan Nathan, tapi tetap saja ingatan akan ciuman di hari itu menyela seluruh konsentrasinya.
"Aku sudah punya rancangan untuk koreografinya, tapi kita perlu mendiskusikan lagi tema untuk short program-mu, yang artinya aku perlu tahu tema apa saja yang sudah pernah kamu tampilkan sepanjang karirmu sebagai figure skater."
"Soal itu, aku bisa jelaskan dimulai dari karirku saat debut di kompetisi junior."
"Ah, ah!" Alexis mengacungkan telunjuknya, mengisyaratkan bahwa ia tidak membutuhkan penjelasan lisan. "Aku sudah meminta pelatihmu mengumpulkan video-videomu saat berseluncur. Dan aku juga sudah menyiapkan beberapa video dari peseluncur yang juga anak didikku di Rusia. Aku mau kamu belajar dari mereka."
Ucapan Alexis hampir seperti sabda dewa. Nyaris tidak ada ruang bagi Milana untuk menyela.
"Sekarang, istirahatlah sebentar. Setelah selesai, kamu harus datang ke apartemenku. Kita harus mendiskusikan ini lebih serius karena waktu kita sempit," ujar Alexis menepuk pundak Milana.
"Sebentar, apa kamu keberatan datang sendirian ke apartemenku?" Tanya laki-laki yang berusia awal tiga puluhan.
"Tidak, kenapa?" Milana keheranan.
"Bagus. Kudengar orang Indonesia sangat konservatif dan agak you know... Paranoid jika laki-laki mengundang wanita untuk datang ke apartemennya."
"Kalau kamu adalah laki-laki biasa dan bukan pelatih atau koreograferku, aku mungkin akan menolak karena mengira ada motif tersembunyi. Tapi Alex, kamu nggak punya motif tersembunyi kan?" Milana mencoba bercanda dengan koreografernya, demi menyingkirkan kecanggungan.
"Kamu cukup pintar. Bagaimana mungkin kamu yakin aku nggak punya motif tersembunyi, kalau dilihat lagi kamu tipe wanita yang kusukai," ujar Alexis terang-terangan.
Sontak Milana terdiam. Beberapa saat kemudian, Alexis tertawa.
"Bercanda. Astaga, reaksimu lucu sekali," tawanya membahana sambil meninggalkan ruang latihan.
Milana bernapas lega. Keusilan Alexis sungguh tidak bisa diprediksi. Saat serius melatih, laki-laki itu terus berteriak dan mengkritik keras gerakannya, tapi saat latihan usai, kepribadiannya seolah berganti dengan sosok lain yang lebih usil. Apa orang ini punya kepribadian ganda?
Milana menyusul Alexis yang sudah menunggunya di lobi studio balet. Studio ini adalah milik kenalan Coach Anita. Dulu, Milana sering berlatih di sini terutama saat ia baru mulai berseluncur. Di masa lalu masih banyak peminat kelas balet, tapi lama kelamaan karena pemilik sekaligus satu-satunya pelatih di sini sakit-sakitan lama kelamaan kelasnya bubar. Sebagai gantinya studio ini lebih banyak disewakan untuk kelas yoga, modern dance dan kelas meditasi. Untuk seterusnya, studio ini akan digunakan Milana untuk melatih koreografi bersama Alex.
Alexis menyambutnya dan membawa Milana ke mobilnya.
"Sebelum itu, aku benar-benar lapar. Kamu nggak keberatan kan kalau kita makan dulu?" Tawar Alexis.
Mendengar itu Milana mengangguk, "Sure. Aku juga lapar."
"Kamu mau makan apa?"
"Apa kamu serius menawariku makan apa saja? Kamu sama seperti pelatihku. Bukankah kamu harusnya menjaga dietku?"
"Nah! Aku nggak suka kamu terlalu fokus dengan diet. Kunci dari keberhasilanmu adalah ketahanan fisik. Kalau kamu terlalu terpaku diet, tubuhmu akan kelelahan. Saat long program, di tengah kamu bisa melakukan kesalahan kalau terlalu lelah." Alexis bicara sembari membukakan pintu mobil untuk Milana.
Oh, pria ini cukup gentleman juga, pikir Milana.
"Aku berharap Coach Anita mendengarmu. Dia terobsesi dengan berat badanku," ucap Milana memikirkan betapa pelatihnya itu tidak pernah sekalipun lupa untuk meminta Milana menjaga berat tubuhnya.
"Terkadang pelatih memang memiliki fokus tertentu. Tentu saja bentuk tubuh yang ramping akan mudah mengeksekusi gerakan-gerakan sulit supaya tampak lebih indah. Ini menunjang nilai presentasi penampilanmu. Aku pun setuju... Tapi diet bukan satu-satunya cara. Kamu bukan skater yang bertanding di nomor pairing. Tidak ada pasangan yang perlu mengangkat tubuhmu. Berat badanmu bukan salah satu faktor penting seperti halnya di pairing. Yang kamu butuhkan adalah fisik yang sempurna. Dan ini lebih sulit dibandingkan menjaga diet. Kamu mengerti?" Alexis berkata panjang lebar sembari menyetir.
Milana mengangguk. Ia sangat bersemangat jika berdiskusi dengan Alexis. Sebagai koreografer dan pelatih, Alexis lebih rasional ketimbang Coach Anita. Ditambah pengalamannya sebagai koreografer dan juga pelatih sudah cukup banyak meski usianya masih sangat muda.
Mobil Alexis berhenti tepat di sebuah pelataran pusat kuliner lokal ternama dengan banyak warung tenda.
"Maaf, aku nggak bisa membawamu ke restoran mewah. Selain karena budget kita terbatas dan harus berhemat, aku juga lebih ingin makan masakan lokal. Kamu nggak keberatan kan?" Tanya Alexis. Wajahnya tampak sangat antusias saat dihadapkan pada kuliner khas Indonesia yang beraneka ragam
Milana tersenyum, "Tentu saja. Kenapa aku mesti keberatan? Aku juga penasaran bagaimana reaksimu saat memakan makanan pedas itu," goda Milana.
"Oh i really love spicy food," sahut Alexis riang. Keduanya asyik bercerita tentang makanan sambil mencari outlet penjual yang memiliki menu yang diinginkan.
Langkah Milana terhenti saat matanya menangkap sosok yang familiar. Sosok itu sedang makan dan duduk bersama dengan seorang wanita cantik. Dilihatnya Nathan yang juga menyadari kehadiran Milana.
Milana buru-buru mengalihkan wajahnya dan berjalan mengikuti langkah Alexis. Namun, pikirannya tak sanggup untuk tidak terfokus pada sosok Nathan dan wanita cantik yang bagai seorang model.
Siapa dia? Apa benar ciuman tempo hari sungguh tidak berarti apa-apa bagi Nathan? Apa itu hanya kesalahan?
***
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE ME, TOUCH ME
Roman d'amour18+ Sebagai atlet figure skating berbakat dan calon pewaris perusahaan kosmetik ternama, Milana Esanatmadja memiliki segalanya. Cantik, muda, berprestasi dengan berhasil membawa pulang medali perak dari olimpiade musim dingin. Peseluncur wanita yang...
