"Itulah yang terjadi kalau laki-laki kehilangan akal sehat. Dan aku adalah laki-laki yang bisa sewaktu-waktu bertindak seperti ini padamu. Kamu masih mau tinggal di sini?"
Milana tidak bisa tidak mengingat-ingat kalimat terakhir yang dilontarkan Nathan. Sorot matanya dingin, tapi sebaliknya sentuhannya masih terasa panas di leher Milana. Sesaat ia nyaris tidak mengenali laki-laki yang sejak dulu ia anggap sebagai pelindung keluarganya. Nathan yang ia kenal tidak akan memperlakukannya seperti tadi.
Atau... jangan-jangan selama ini Milana telah salah menilai?
Milana buru-buru menggeleng. Nathan hanya mengindikasikan bahwa adalah hal yang buruk untuk menginap di tempat laki-laki single tanpa ada ikatan pernikahan. Tadinya Milana tidak peduli karena toh ia memang mencintai Nathan sejak lama, andai laki-laki itu menyentuhnya sekalipun...
Tidak. Nathan tidak akan melakukan hal itu. Tidak akan!
Milana makin frustrasi. Dari tadi ia sudah berjalan jauh dengan menyeret kopernya. Tidak ada tujuan pasti sampai kakinya lelah berjalan lagi. Milana berhenti di sebuah halte. Duduk dengan merapatkan hoodie-nya di tengah embusan angin malam yang mulai menusuk kulitnya. Sungguh menyedihkan kondisinya saat ini. Dalam semalam, ia tidak lebih baik dibandingkan tunawisma yang bertebaran di sepanjang gang dan jalanan lengang kota-kota besar. Bagaimana Milana jadi nyaris seperti tunawisma, itu juga sebuah misteri tidak sanggup ia pecahkan.
Semua berawal dari pertengkaran Milana dengan ayahnya sekitar tujuh jam yang lalu. Setelah sempat menghilang selama enam bulan sejak usainya pertandingan figure skating di olimpiade musim dingin, Milana akhirnya kembali dan berusaha membangun kembali rasa percaya dirinya. Selama berhari-hari pula, Milana sering bertengkar dengan ayah juga neneknya. Semua pertengkaran itu memiliki tujuan yang sama. Meminta Milana untuk mempertimbangkan untuk menjadi pewaris perusahaan ESANA, perusahaan yang menjadi pilar bagi keluarganya.
Bukannya Milana tidak bersedia. Ia tahu pada akhirnya dirinya akan menjadi pewaris dan akan duduk di kursi penting untuk menjalankan perusahaan. Milana yang dulu akan mengatakan ia bersedia menuruti keinginan neneknya jika ia sudah pensiun dalam olahraga kompetisi figure skating. Namun, belakangan Milana memikirkan kembali dan sulit baginya untuk terjun ke dalam perusahaan jika ia tahu di dalam perusahaan ada orang yang lebih berpotensi duduk di kursi direktur utama. Memahami perusahaan lebih baik dari Milana atau siapa pun yang naik ke jabatan lebih tinggi hanya karena ia putri Henry Esanatmadja sang Komisaris Utama sekali pemilik saham terbesar di grup ESANA.
"Sekali saja, bisa nggak kamu memenuhi keinginan Papa? Tolong pikirkan lagi. Papa harus menunggu berapa lama lagi sampai kamu mau mulai mengatur perusahaan? Cuma kamu putriku satu-satunya yang berhak atau perusahaan itu." Papa bicara dengan nada berapi-api, seolah sudah menunggu momen yang tepat untuk berdebat dengan Milana.
"Masalahnya nggak semudah itu. Aku sama sekali nggak tahu apa-apa soal perusahaan. Apa Papa yakin orang sepertiku akan membuat ESANA jadi lebih baik?"
"Bisnis itu bukan sesuatu yang nggak bisa dipelajari. Kalau kamu sudah siap, Papa akan taruh kamu bersama staf yang lain sebelum kamu bekerja di lini manajerial."
Milana masih merasa jawaban Papa sama sekali tidak memuaskan. "Masalahnya, Pa... bisnis bukan sesuatu yang aku sukai."
"Tidak ada orang yang lahir di dunia ini langsung menyukai dunia bisnis. Semua harus belajar. Begitu pun kamu. Papa akan kasih kamu waktu dua tahun lagi. Setelah itu kamu harus pensiun dari olahraga skating."
Milana makin putus asa. Bernegosiasi dengan Papa tidak pernah semudah mendarat dengan mulus saat melakukan lompatan Triple Axel. Lama-lama ia bisa gila. Lalu di situlah, Milana teringat dengan Nathan. Entah apa yang merasukinya sampai Milana berani menyatakan tekadnya.
"Kalau Papa bersedia menikahkan aku dengan Nathan, aku akan pertimbangkan masuk menjadi pewaris ESANA."
Saat itu, Milana tidak menyangka Papa akan menatapnya dengan wajah semarah itu.
"Jangan sebut lagi nama laki-laki itu di depan Papa." Seru Papa dengan sorot mata dingin dan tajam.
Milana terdiam. telapak tangannya bergetar mengetahui Papa begitu tidak inginnya mendengar nama Nathan disebut-sebut.
"Kenapa? Dia sudah lama menjadi pelindung keluarga ini. Dia pernah menyelamatkan Papa dari bahaya. Kalau bukan karena dia—"
"Kamu pikir Papa nggak pernah membalas budi? Tentu saja selamanya Papa selalu berterima kasih atas tindakannya menyelamatkan Papa yang waktu itu sedang berada dalam mobil yang terbalik. Karena itu Papa membawanya ke rumah ini, mendekatkan dia dengan keluarga Papa yang berharga. Memberikan dia peluang dan koneksi sebanyak mungkin untuk menaikkan bisnisnya. Terakhir Papa memberikan salah satu putri keluarga Papa untuk dinikahi, tapi lihat apa yang terjadi?"
"Jadi Papa yang punya andil menjodohkan Nathan dengan Tatiana?" tanya Milana, memastikan meski sebelumnya ia sudah memprediksi kemungkinan ini.
"Karena Tatiana yang meminta, Papa tidak punya alasan untuk menolak perjodohan mereka."
"Tapi Papa tahu dari dulu aku menyukai Nathan."
Henry menggelengkan kepala. "Meski begitu, Papa tetap merasa dia bukan orang yang cukup baik untukmu. Dan firasat Papa benar. Dia bahkan nggak bisa mempertahankan pertunangannya dengan Tatiana. Jangan mimpi dia bisa menikahimu. Papa nggak akan izinkan itu!"
Milana makin putus asa, perdebatan ini membuatnya tidak sabar.
"Papa tahu kan Tatiana selalu menginginkan apa yang aku suka. Dia mengincar dan menyabotase semua milikku sejak kami masih kecil. Apa Papa nggak pernah berpikir apa alasannya tiba-tiba minta dijodohkan dengan Nathan? Itu karena dia tahu aku menginginkan Nathan sejak dulu. Dia bertunangan dengan Nathan bukan karena dia mencintainya, Pa. Lalu Papa berharap mereka bahagia selamanya? That is bullshit."
"Tetap, menjodohkan mereka adalah pilihan yang terbaik saat itu. Sekarang mereka putus dan membuat malu keluarga Papa, Papa nggak akan bisa membuatmu menikahi Nathan. Itu tidak mungkin."
"Pa, please...."
"Papa sudah menganggap utang budi Papa dengan Nathan telah impas. Semua kejayaan yang dimiliki perusahaannya adalah karena campur tangan Papa. Itu sudah cukup membuatnya lepas dari keluarga kita. Jangan coba-coba kamu merusaknya."
Milana menggigit bibir bawahnya. Mendengar penolakan Papa yang seolah enggan berdebat lagi membuatnya terpaksa bersikap mengancam.
"Kalau Papa nggak mau mendengar permintaanku, aku nggak akan pernah mau menjadi pewaris perusahaan. Lupakan saja perjanjian kita dulu!" ancam Milana.
Papa berbalik dengan wajah marah. Baru kali ini Milana melihat ayahnya memperlihatkan betapa keras kepala sesosok ayah yang dari dulu dianggapnya selalu memanjakan dirinya. Seolah yang berdiri di depan Milana bukan ayahnya, melainkan pemimpin grup perusahaan ESANA.
"Kamu mau menggertak Papa? Lakukan apa maumu, tapi konsekuensinya, Papa nggak mau kamu tinggal di rumah ini lagi. Mulai sekarang, Papa akan blokir semua kartu kredit dan rekeningmu."
Milana yang marah, merasa Papa tidak serius dengan ucapannya telah melakukan hal bodoh dengan menantang ayahnya dan seketika pergi dari rumah dengan dramatisnya. Lalu saat Milana telah berada di luar rumah dan kebingungan, semua ancaman Papa terbukti benar. Papa membekukan semua rekening yang mengalirkan uang untuk membiayai gaya hidup Milana. Semua kartu kredit yang dimilikinya mendadak tidak bisa digunakan. Perang dingin sudah dimulai, tapi kenyataannya Milana yang mengira dirinya di atas ingin tidak lebih dari burung gereja kecil yang kakinya telah dipatahkan dan tidak bisa berjalan lagi.
Ah, apa yang harus dilakukannya?
***
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE ME, TOUCH ME
Romance18+ Sebagai atlet figure skating berbakat dan calon pewaris perusahaan kosmetik ternama, Milana Esanatmadja memiliki segalanya. Cantik, muda, berprestasi dengan berhasil membawa pulang medali perak dari olimpiade musim dingin. Peseluncur wanita yang...
