13. Sponsorship

323 25 0
                                        

Milana terbangun dengan suara dering ponsel dan alarm yang saling tumpang tindih. Terlalu lelah membuatnya lupa bahwa hari ini ia punya jadwal latihan bagian dari menu latihan untuk mempersiapkan Milana kembali berlaga di musim kompetisi tahun ini. Hanya saja karena masalah pertengkaran dengan ayahnya, Milana tidak bisa fokus sepenuhnya. Milana mengingatkan diri untuk minta maaf pada Coach Anita.

Lalu ingatannya tertuju pada semalam. Diingat berapa kali pun, Milana tetap tidak percaya. Nathan memeluknya dengan sangat erat, ditambah sorot mata pria itu terlihat putus asa seolah.... Di matanya Milana bukan lagi gadis merepotkan yang mengganggu, melainkan....

Uwahhh, memikirkannya saja membuat pipi Milana tersipu. Tanpa sadar Milana memukul bantal dan menendang selimut untuk melampiaskan rasa malunya. Nathan memeluknya? Hahaha... Sesuatu yang Milana tidak pernah bayangkan bagaimana mungkin terjadi di hari yang ia kira menjadi hari terburuk yang dialaminya? Dengan perubahan perilaku Nathan, Milana merasa harinya tidak buruk-buruk amat.

Lalu bayangan Nathan yang mencium leher Milana dengan tubuhnya berada di bawah kekuatan lengan pria itu tiba-tiba muncul. Mendadak Milana merasa tubuhnya mengejang. Refleks ia menyentuh lehernya.

Dalam semalam ia melihat dua sisi Nathan yang berlainan. Milana belum cukup menyiapkan hati untuk menerima kejutan semacam ini. Terutama jika sekarang Milana akhirnya mendapatkan izin Nathan untuk tinggal di apartemennya.

Ponsel Milana berdering sekali lagi. Seperti yang ia duga, Coach Anita tampaknya sudah menyiapkan serentetan amukannya untuk Milana.

"Ya, Coach."

"Aku dengar kamu bertengkar dengan ayahmu dan kabur dari rumah. Di mana kamu sekarang?"

Oh ini mengejutkan. Milana mengira pelatihnya akan memarahinya habis-habisan. Ia menebak, Risa lah yang memberitahu Coach Anita.

"Aku... Di rumah Nathan?"

"You... Whatt??? Nathan? Maksudmu Nathan Gareth yang mantan tunangan adikmu? Yang membuat wajahmu masuk situs-situs berita di internet dan TV? Apa kamu gila???" Tanya pelatihnya gusar.

Milana mengusap-usap poninya. Inilah saat ia harus mendengarkan ocehan pelatihnya non stop tanpa jeda titik koma.

"Aku nggak punya pilihan lain. Ayahku menghentikan semua aliran uang untukku. Rekeningku dibekukan dan kartu kreditku diblokir. Menginap di hotel pun aku tidak bisa."

"Tapi kamu juga punya penghasilan kan? Ada uang hadiah dan bonus dari sponsor atas prestasimu tahun lalu. Kamu kemanakan uang itu?"

Terlalu gemas membuat Milana mengacak-acak rambutnya.

"Sudah habis. Aku menghabiskannya sekaligus untuk membiayai perjalanan patah hatiku ke beberapa negara sebelum bulan lalu aku pulang kemari. Mana aku tahu kalau aku akan bertengkar dengan ayahku dan membuatku jatuh miskin."

"Ya ampun, kamu benar-benar membuatku gila. Setelah kamu menghilang usai olimpiade musim dingin, banyak sponsor membatalkan dukungan mereka. Di saat seperti ini aku mengandalkanmu untuk sementara meminta dukungan dari ayahmu sampai kita menemukan sponsor baru, sekarang kamu bilang kamu nggak punya uang?"

Milana mengempaskan tubuhnya ke ranjang. Tanpa sadar ia menindih wajahnya dengan bantal. Sungguh mengesalkan.

"Coach, what should i do? Apa aku harus mundur dari musim kompetisi mendatang?"

"Dan menyia-nyiakan program baru yang akan kamu tampilkan? Hell, no! Aku sudah merekrut koreografer andalan. Dia sengaja kudatangkan dari Rusia, dan kamu bilang kamu mau mundur? Yang benar saja."

"Tapi, Coach... Coach bilang aku nggak bisa melanjutkan kalau tanpa sponsor? Setelah aku bertengkar dengan ayahku, aku tidak bisa meminta beliau menjadi sponsorku, tidak setelah pertengkaran kami kemarin. Sepertinya ayahku yang tertawa paling lebar kalau tahu aku gagal berkompetisi karena tidak ada sponsor."

LOVE ME, TOUCH METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang