Hal terbaik ketika pikiran Milana disibukkan dengan latihan, latihan, dan latihan adalah ia jadi tidak punya waktu untuk bersedih dan menggalau tentang nasib percintaannya dengan Nathan—itu kalau sebuah ciuman bisa dikategorikan percintaan. Selebihnya hubungan keduanya lebih pantas disebut hubungan atlet dan sponsor yang membuat Milana makin sulit untuk mengungkit-ungkit lagi apa sebenarnya istilah yang bisa mendefinisikan hubungan mereka.
Selain pertengkaran tempo hari saat makan malam di food court terbuka, tidak ada lagi interaksi 'penting' di antara mereka kecuali ucapan selamat pagi dan selamat malam kapanpun mereka berpapasan yang mana sudah sangat jarang. Saat pagi, Milana terlalu lelah untuk bangun pagi di saat Nathan sudah berada di kantornya tiap pagi. Malam hari Nathan yang pulang tepat waktu selalu mendapati lampu di apartemen Milana masih padam, tanda penghuninya belum pulang. Kesempatan mereka untuk bicara? Nol besar.
Jangankan untuk bicara dengan Nathan, bahkan untuk bersih-bersih apartemen saja sudah tidak sempat. Saat libur latihan, Milana yang berencana untuk bersih-bersih apartemen harus rela tumbang karena sakit. Ia bangun dalam keadaan demam dan tenggorokan sakit. Sungguh mengesalkan. Ia sudah membayangkan satu hari tenang yang ingin dihabiskan untuk bebenah dan bersantai dengan teman-temannya, ia bahkan tidak bisa bangkit dari tempat tidur.
Ia menelepon Risa, bermaksud minta bantuan, tapi sepertinya situasi temannya itu sedang tidak bisa diganggu.
"Milana, sebentar... HEI! JANGAN MAIN DEKAT-DEKAT KOMPOR!"
Suara Risa terdengar sibuk dan kerepotan dengan siapa pun yang menyita perhatian temannya itu.
"Ada siapa di tempatmu?" Milana bertanya.
"Ini keponakan pacarku yang terpaksa dititipkan di tempatku karena ibunya operasi usus buntu. Astaga, kelakuannya bikin pusing."
Milana merasa waktunya tidak tepat jika harus minta bantuan Risa.
"Eh, iya... Ada apa? Apa kamu perlu bantuanku?" tanya Risa.
"Nope. I'm okay. Aku sedang bersih-bersih apartemen. Dan... Agak menganggur," ucap Milana berbohong.
"Oh ya? Ada apa dengan suaramu? Suaramu seperti mau hilang. Apa kamu sakit?"
"No, no, no. Sedikit alergi karena udara terlalu dingin. Apalagi aku berhadapan dengan arena es setiap hari. Minum vitamin sedikit, aku pasti akan baik-baik saja."
"Begitu ya? Apa kamu yakin?"
Milana memastikan Risa tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Risa sudah repot dengan hal-hal yang belakangan membuatnya stres. Cedera Risa tampaknya membuatnya sulit kembali berseluncur. Kondisi itu membuatnya mempertimbangkan serius lamaran pacarnya untuk menikah meskipun yang diinginkan Risa adalah kembali berkompetisi di arena ice skating.
Ada perasaan yang sulit dijelaskan saat Milana menceritakan banyak hal tentang kesibukannya latihan intensif, mempelajari koreografi baru, ballet session dan jadwal event bersama sponsor. Hal-hal sangat diinginkan Risa yang dulu sangat ambisius. Tanpa disadari topik skating di depan Risa adalah hal yang tabu.
Setelah menutup panggilan untuk Risa, Milana mencoba menghubungi Maya. Tapi ia baru ingat, Maya sekarang sedang berada di Bali untuk menjadi juri dalam ajang fashion designer award and competition.
Menghubungi Nathan? Hah, itu tidak mungkin. Milana masih kesal membayangkan perdebatan mereka terakhir kalinya, meski di dasar hatinya ia sangat merindukan melihat wajah laki-laki itu.
Tapi, Milana benar-benar butuh seseorang. Bagaimana jika ia benar-benar mati sendirian di apartemen yang sunyi ini? Bahkan untuk memesan makanan delivery pun, Milana tidak cukup punya tenaga untuk melakukannya. Kepalanya terasa berputar meski hanya menatap layar ponselnya. Diletakkan ponsel di nakas dan lanjut menyelimuti dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE ME, TOUCH ME
Romance18+ Sebagai atlet figure skating berbakat dan calon pewaris perusahaan kosmetik ternama, Milana Esanatmadja memiliki segalanya. Cantik, muda, berprestasi dengan berhasil membawa pulang medali perak dari olimpiade musim dingin. Peseluncur wanita yang...
