49. More Than Anything

165 16 0
                                        

"Kamu sudah bangun?" Alexis menyambutnya saat Milana keluar dari kamar dan tiba dan meja makan.

Dilihatnya meja yang kini dipenuhi dengan pancake dan sirup maple yang masih mengepul hangat.

Apa Alexis menyiapkan semua ini untuk Milana?

Milana mengerjapkan mata yang masih mengantuk dan lelah sehabis bergumul di atas ranjang. Pagi ini ia terbangun dengan tubuhnya memakai piyama. Ia tidak ingat semalam sempat mengenakan piyama. Milana hanya ingat, sehabis percintaan usai, ia terlalu lelah dan tidur dalam keadaan menangis.

"Semalam kamu terlalu lelah, aku yang memakaikan piyama supaya kamu nggak kedinginan," ucap Alexis yang kini menyiapkan piring dan garpu di samping Milana.

"Thanks," ucap Milana lirih.

Ia membiarkan Alexis menuangkan sirup maple di atas pancake buatannya. Jika ada hal yang bisa mengalihkan perhatian Milana dari fakta bahwa ia baru saja kehilangan hak sebagai pewaris perusahaan adalah Alex yang pagi ini bertindak layaknya seorang suami.

"Kenapa kamu menatapku begitu?" tanya Alex saat menyadari Milana terus-menerus menatap punggungnya yang sibuk membereskan dapur.

"Kenapa kamu baik padaku, Alex?" Milana gantian bertanya.

"Bukankah itu sudah jelas? Aku jatuh cinta sama kamu, Milana.... Dan kebetulan, aku juga pelatihmu."

Meski diucapkan berkali-kali, Milana tidak merasa pernyataan itu adalah kenyataan.

"Tapi, kamu tahu perasaanku. Aku nggak menganggap kamu...."

"Aku tahu. Kamu mencintai Nathan. Bahkan setelah semalam kita bercinta kamu nangis dan tanpa sadar menyebut namanya. It's okay.... Take your time."

"Tapi, a-aku nggak ingin yang semalam terjadi lagi."

Alexis tampak terluka. Ia menghentikan aktivitasnya di dapur dan duduk di samping Milana.

"Kenapa?"

"Karena.... Perasaanku membuatku makin merasa bersalah saat memikirkan Nathan."

"Kenapa harus merasa bersalah? Kamu nggak selingkuh dari siapa pun. Cintamu cuma sepihak."

"A-aku tahu. Maksudku, aku merasa bersalah sama kamu, Alex...."

Alexis terdiam lagi. Suasana semakin canggung saat keduanya berhenti bicara.

"Milana, perasaanku aku sendiri yang menanggungnya. Aku nggak memaksa kamu mencintaiku kalau memang hatimu masih untuk Nathan. Tapi tolong... Jangan coba-coba menyingkirkan aku."

"Alex, bukan begitu. Aku—"

"Kamu cuma perlu berada di sisiku. Kalau tubuhmu bisa menerimaku, aku yakin pelan-pelan hatimu juga akan menerimanya." Alexis meraih tubuh Milana dan mendudukkannya di pangkuan. Alex menenggelamkan wajahnya di dada Milana.

"Alex...."

"Aku nggak keberatan kalau hubungan kita sepihak dan kamu boleh hanya menganggapku sebagai partner seks. Apapun itu, aku mau kamu tetap di sampingku."

Milana membiarkan Alexis memeluknya erat, lalu pelan-pelan Alex mengecup lehernya, makin lama makin ke bawah. Jika saja, Milana tidak menghentikannya, ia tidak tahu lagi ciuman Alex akan berakhir ke mana.

"Let's stop. Aku belum sarapan," ucap Milana lirih. Menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Alexis tersenyum, jemarinya mengacak-acak rambut Milana.

"Maaf, salahmu karena kamu cantik dan menggemaskan saat bangun pagi, aku jadi nggak bisa menahan diri."

"Urghhh, hentikan. Cringe banget tahu...."

LOVE ME, TOUCH METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang