*warn, typo guys...
“Aku tidak akan pernah kalah dari orang sepertimu yang selalu mengabaikan usaha orang lain!” seru Kuroko.
“Sudah kubilang, kata-kata indahmu itu memuakkan, Kuro-chin” balas Murasakibara.
[Name] menatap ke arah lapangan dengan mata sayu, kedua tangannya terkepal erat. Sungguh pertandingan yang sangat kacau baginya. Semua emosi juga pikirannya sangat kacau, semangatnya meredup secara perlahan. Gadis itu menggigit bibirnya keras.
“Haa... ini sangat menyebalkan. Kenapa aku lemah sekali sih” gumam [Name] pelan. Gadis itu segera memoleh pada Riko yang fokus dengan lutut Kiyoshi juga pemain Seirin lainnya di bench. “Riko senpai!” serunya.
Riko segera menoleh pada [Name] dengan pandangan bertanya. [Name] berjalan mendekat pada Riko dengan sorot mata serius. “Senpai tolong tampar aku sekencang-kencangnya” ucapnya serius. semua pemain terkejut mendengar ucapannya yang serius.
“Eh? Apa? Tunggu, kau tadi bicara apa [Name]-chan?” tanya Riko memastikan pendengarannya.
“Tampar aku Riko senpai” ulang [Name] menekan setiap kata dengan jelas.
“Kenapa?” tanya Riko semakin bingung dnegan permintaan aneh [Name].
“Ini benar-benar menyebalkan, kepalaku sedikit kacau hanya karena masalah sepele. Bantu aku menjernihkan kepalaku Riko senpai, meski senpai harus menamparku” jelas [Name]. “Aku masih terlalu lemah, diriku yang seperti ini sangat menyedihkan”
Riko bahkan pemain Seirin di bench tertegun mendengar penuturan gadis itu. [Name] sosok yang terlihat sangat tenang dan memberikan dukungan dan semangat pada tim setiap pertandingan mereka, saat ini terlihat kacau dengan ekspresi wajah buruk.
Riko memandang wajah kouhai kesanyangannya itu lamat-lamat, melihat [Name] yang tidak melunturkan tekad akan keputuisannya membuatnya menghela nafas. Riko berdiri dan berjalan mendekati [Name].
“Oi, oi pelatih tidak serius menampar [Name]-chan kan” ucap Koganei ragu.
Riko dan [Name] saling berhadapan dalam diam. Mata [Name] bergetar saat menatap Riko yang masih saja diam didepannya. Tangan kanan Riko terangkat tinggi dan bergerak cepat, [Name] menutup matanya perlahan. Namun rasa sakit tidak [Name] rasakan diwajahnya, hanya tepukan lembut di atas kepalanya. [Name] segera membuka matanya lebar, menatap Riko yang tersenyum lebar padanya.
“Sepertinya ini cukup untuk menjernihkan kepalamu [Name]-chan” ucap Riko dengan senyum lebar. “Kau tidak lemah ataupun menyedihkan, kau itu sumber semangat kami. Jadi jangan pernah berpikir jika kau itu tidak berguna di tim, kau anggota penting bagi kami semua” jelasnya.
[Name] melebarkan matanya, wajahnya membeku tidak bisa merespon seperti apa. Sebelum sudut bibirnya bergerak ke atas membentuk senyum lebar, gadis itu mengangguk paham. Dia menatap satu per satu wajah anggota tim Seirin, semangatnya yang memudar kembali lagi padanya.
“Sekarang, kau bantu akan mengecek kondisi Teppei” ucap Riko.
“Ha’i!” jawab [Name]. Gadis itu segera mengecek lutut Kiyoshi dengan seksama.
Pertandingan kembali di mulai, Kuroko mendapatkan bola dan mendribblenya. Wei Liu segera menghadangnya, Kuroko menatapnya dan menghilang dari pandangan Wei Liu. Kuroko berlari melewatinya, Murasakibara segera berhadapan dengannya. Murasakibara segera berdiri tinggi dengan tangan kirinya terentang di atas kepala Kuroko.
“Dia mendekat lebih cepat dari babak sebelumnya” ucap Izuki tidak percaya dengan refleks milik Murasakibara.
Flashback.
“Atsushi, jika dia membuat tembakan yang menghilang itu, jangan mengejar bola itu” ucap Himuro sebelum pertandingan. “Tembakannya seperti menghilang, tapi sebenarnya tidak. Meski kau tidak bisa melihatnya, bola itu berjalan seperti tembakan normal lainnya. Saat memblok tembakannya jaga lenganmu tetap di udara antara badannya dan ring” jelasnya.
Present.
Pandangan Kuroko fokus pada ring, Murasakibara menjaganya sesuai dengan ucapan Himuro. Kuroko melepaskan tembakan, Murasakibara melompat. Lagi-lagi tangan Murasakibara tidak bisa menghentikan atau menjangkau bola yang Kuroko lepaskan.
“Atsushi, gawat! Itu umpan!” seru Himuro.
Kagami sudah melompat tinggi di depan ring Yosen, bola melambung tepat di tangan Kagami, dia memasukkan dengan mulus ke ring. Itu sebuah dunk yang keras, meski tidak sekuat milik Murasakibara. Kagami mendarat dengan mulus dan menoleh pada lelaki bersurai ungu itu.
“Lagipula aku tidak bisa merusaknya” ucap Kagami setengah menyindir.
“Sialan...” geram Murasakibara.
“Bagus!” seru Koganei kembali bersemangat.
Murasakibara menarik nafas pelan dan berjalan dengan tenang. “Kalian suka bekerja sama, kan? Tapi tadi sudah kubilang. Semuanya adalah sampah dihadapanku” ucapnya.
Semua terkejut dengan Kuroko yang menjaga Murasakibara, tidak ada yang mengira lelaki bersurai baby blue itu melakukannya. [Name] terdiam melihat itu, sebenarnya gadis itu sudah menduganya dari awal saat Kuroko memeluknya tadi. Lelaki bersurai baby blue itu membisikkan sesuatu padanya.
‘[Name]-chan semua akan baik-baik saja, aku akan menghadapinya dan membuktikan bahwa ucapan Murasakibara-kun salah. Percayalah padaku, akan kubuat dia mengakui permain tim kita’ bisik Kuroko. [Name] hanya bisa mengeratkan kepalan tangannya yang mencengkram kaos Kuroko tanda gadis itu setuju.
“Tetsuya...” ucap [Name] pelan.
“Tentu saja kami bekerja sama. Tapi, aku juga sudah pernah bilang” ucap Kuroko menundukkan kepalanya, tidak ada yang tahu bagaimana ekspresinya saat ini. “Murasakibara-kun, aku akan mengalahkanmu” ucap Kuroko serius menahan tubuh Murasakibara.
“Testu-kun menjaga Mukkun?” tanya Satsuki tidak percaya.
“Jika kau terus bermain-main, kau akan terluka, Kuro-chin” ucap Murasakibara melirik Kuroko.
“Aku tidak sedang bermain-main. Aku akan menghentikanmu, Murasakibara-kun” jawab Kuroko menahan tubuh Murasakibara sekuat tenaganya.
Murasakibara bergerak perlahan dan menyadari sesuatu yang mengganjal pikirannya. ‘Ini...’ batinnya. Murasakibara kembali menggerakkan badannya ke belakang tanpa halangan. ‘Dia ringan sekali. Kau terlalu ringan, aku sampai tidak tahu kau ada di sana atau tidak. Kau terbuat dari apa sih? Dari kapas ya?’ batinnya lagi dengan wajah jengah sekaligus kesal.
Fukui yang membawa bola, juga ikut terdiam ikut menatap Kuroko sedikit kesal. “Dia seperti tidak ada di sana!” ucapnya. Dia melemparkan bola pada Murasakibara. “Masukkan, Atsushi!”
Murasakibara menangkap bola dan berbalik, betapa terkejutnya dia tidak melihat Kuroko yang tadinya menjaganya.
‘Dia tidak di sana?’ batin Murasakibara.
“Atsushi!” seru Himuro mengingatkan.
Murasakibara bergerak ke kiri sedikit, tidak merasakan berat badan Kuroko sama sekali. Ternyata dari tadi lelaki bersurai baby blue itu ada di sana, tidak berpindah dari posisinya. Tubuh besar Murasakibara menyenggol Kuroko hingga membuatnya terjatuh. Wasit segera membunyikan peluitnya.
“Charging, putih No. 9! Seirin ball!” seru wasit.
“Begitu ya” ucap Aomine.
Kagami berjalan mendekati partnernya dan membantunya berdiri.
“Arigatou” ucap Kuroko menerima uluran tangan Kagami.
“Dia memakai hawa keberadaannya yang tipis untuk membuatnya tidak merasakannya dan malah berjalan ke arahnya” jelas Aomine.
Murasakibara menggertakkan giginya mulai merasa geram dengan sorot mata tajam.
“Basket tidak sesederhana itu” ucap Kuroko membalas tatapan tajam Murasakibara. “Kemenangan belum tentu meski pun memiliki badan yang tinggi, Murasakibara-kun”
“Akan kubalas kau nanti” ucap Murasakibara. Bahkan pemain Yosen merasa geram dengan kejadian ini.
“Kerja bagus, Kuroko” ucap Hyuga.
“Saat kau berkata ingin menghadapi Murasakibara sendirian, aku tidak menyangka itu akan berhasil” timpal Izuki.
“Aku tidak akan bisa memakai strategi itu lagi” ucap Kuroko serius. “Setelah ini, ijinkan aku memakan formasi bertahan yang itu. Aku tidak akan memaafkan mereka, terutama Murasakibara-kun. Ucapannya membuat [Name]-chan sedih”
Papan skor saat ini 45-34, dengan Yosen yang masih memimpin pertandingan tinggal lima menit lagi dan quarter ketiga akan berakhir. Izuki mengoper bola pada Hyuga, Otsubo segera menghadangnya. Hyuga mundur ke belakang sangat cepat dan melompat tinggi. Otsubo ikut melompat tinggi, Hyuga sudah melepaskan tembakan. Bola melambung tinggi.
“Apa? Tidak mungkin aku meleset!” seru Hyuga. Bola masuk ke ring dengan mulusnya. “Kuroko bukanlah satu-satunya. Aku juga ingin menghancurkan kalian!”
Kiyoshi terdiam melihat punggung Hyuga, lebih tepatnya lelaki itu tertegun.
“Apa?!” seru Masako menatap ke arah lapangan.
“Ayo! Formasi baru!” seru Hyuga.
“Full court man-to-man defense?” tanya Satsuki ragu.
Fukui mulai bergerak dan berlari, Wei Liu yang memegang bola segera mengoper bola padanya.
“Jika kau berhenti bergerak, mereka akan mengelabuimu!” seru Fukui.
Murasakibara yang di jaga Kagami mengangkat tangan meminta bola. Namun kejutan dari Seirin tidak berhenti di sana, Kagami segera menjaga Otsubo yang berada di dekat Murasakibara.
“Atsushi!” seru Fukui mengoper bola pada Murasakibara.
‘Sudah jelas, kan? Inilah formasi baru kami, formasi ini memberikan kesempatan yang tinggi bagi Kuroko-kun untuk mencuri bola. Ini juga berkat data dan analisa yang dilakukan [Name]-chan dan Sasaki-san, kami bisa membuat formasi ini. Ini adalah Stealth Full-Court Man-to-Man Defense’ batin Riko.
Bola melayang ke arah Murasakibara, dari samping Kuroko muncul dan mencuri bola dan membawanya berlari. Kuroko menghadap ke arah ring dan menembakkan bola ke sana, Murasakibara sempat mengejarnya namun terlambat. Bola masuk ke dalam ring dnegan mulusnya.
“Kuroko!” seru koganei tidak bisa mengucapkan kata yang tepat. Para pemain Seirin lainnya ikut berdiri, hanya Kiyoshi dan [Name] yang masih diam menatap ke arah lapangan dengan wajah tertegun. Sebelum mereka berdua tersenyum lega.
Petandingan semakin intens dan berat, sebentar lagi quarter ketiga selesai. Skor sudah menunjukkan 47-43, tinggal sedikit lagi Seirin bisa mengejar ketinggalan mereka dari Yosen.
Fukui melewati Izuki, namun dari depan Kuroko menepis bola hingga terlepas dari tangannya.
“Apa?” tanya Fukui tidak percaya. ‘Apa dia sengaja membiarkanku lewat karena tahu ada Kuroko di sana?’ batinnya.
Izuki menerima bola dan berbalik, dia melemparkan bola ke ring. Bersamaan dengan bunyi peluit berbunyi bola masuk ke ring Yosen. Para penonton bersorak antusias.
“Yatta! Izuki senpai!” seru trio anak kelas satu.
“Tidak terhitung!” seru wasit. Para pemain Seirin di bench terdiam dengan wajah kecewa mendengarkan ucapan wasit.
“Jangan cemas” ucap Kagami mendekati Izuki.
“Ya” balas Izuki.
“Sekarang kita akan istirahat 2 menit” ucap wasit.
Kuroko menghela nafasnya lega. Murasakibara kembali ke bench dan menendang bangku di sana dengan kesal. Masako memukul punggungnya dengan pendang kayu.
“Itte!” seru Murasakibara.
“Jangan lampiaskan kemarahanmu pada benda mati!” seru Masako. Dia kemudian berjongkok melihat atlit miliknya. “Quarter keempat akan di mulai dari kita. Pertandingan akan fokus di sisi setengah arena, jadi kita harus bisa mencetak angka. Setelah itu, jika kita bertindak ceroboh melawan full-court man-to-man mereka, kita kan dengan mudah kehilangan Kuroko. Jika kita mengumpan, resiko bola tercuri akan semakin besar” jelasnya.
“Sayangnya, kita hanya punya satu pilihan untuk bisa lolos. Himuro akan melakukan dribble untuk bisa lolos. Ace Yosen bukan hanya Murasakibara. Kita punya dua ace di dalam diri Murasakibara dan Himuro” lanjutnya lagi.
[Name] membagikan minuman dan handuk pada pemain Seirin yang telah berjuang di lapangan.
“Terus berlarian saat full-court itu melelahkan. Apa kita sanggup bertahan sampai pertandingan usai?” tanya Izuki yang mengelap keringatnya.
“Kita pasti bisa” balas Hyuga.
“Tapi aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Yosen” ucap Riko.
“Datang...” ucap [Name] lirih. semuanya langsung menoleh pada [Name]. “Mereka berdua akan menyerang” ucapnya lagi.
Kagami menangkap pesan dari ucapan [Name]. “Pelatih, soal itu. Setelah mereka bisa lolos dari full-court dan bergerak ke sisi setengah arena, ayo kita memakai formasi zona 2-3 dengan aku bermain di tengah” ucapnya.
“Apa?” tanya Izuki.
“Formasi yang sama dengan Yosen?” tanya Hyuga.
“Seperti Murasakibara, aku akan melindungi seluruh arena 2 poin” ucap Kagami.
“Kau bisa?” tanya Koganei ragu.
“Siapa pun yang datang nanti, aku akan menghentikannya. Demi Kiyoshi senpai” ucap Kagami.
“[Name]-chan, menurutmu?” tanya Riko tiba-tiba.
[Name] menatap Kagami lamat, mulai dari sorot mata hingga ujung kakinya. “Kau yakin?” tanya [Name]. Kagami tidak menjawab pertanyan [Name], lelaki bersurai merah gelap itu hanya membalasnya dengan tatapan serius. “Meski pun agak berat, kupercayakan padamu Taiga” ucapnya.
Riko yang menunduk memikirkan ucapan Kagami dan [Name] akhirnya mendongakkan kepalanya.
“Baiklah. Di quarter keempat, kita kana memakai Stealth Man-to-Man Full Court dan zona 2-3 setengah arena... ” ucap Riko mulai menjelaskan rencananya.
Semua pemain yang duduk di bench mulai mengurusi pemain yang bermain di lapangan satu per satu. Hanya [Name] yang tidak ikut melakukannya, gadis itu melirik Kiyoshi dari ekor matanya. Dia berjongkok di depan senpainya itu sambil menopang dagunya.
“Kiyoshi, kenapa kau diam saja? jika kau punya ide bagus...” omelan Hyuga terpotong saat melihat wajah Kiyoshi. “Apa?”
Kiyoshi terdiam melihat anggota timnya dengan air mata yang menggenang di sudut matanya.
“Kenapa kau menangis?” tanya Hyuga.
“Teppei?” tanya Riko.
“Oh, ini... kenapa aku menangis?” tanya Kiyoshi yang juga ikut bingung. Dia mengedipkan matanya beberapa kali dan menatap temannya sedikit bodoh.
“Aku juga ingin tahu!” seru Hyuga emosi.
“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi mungkin... karena kalian begitu bisa diandalkan, aku jadi lega” jawab Kiyoshi. Dia kembali menundukkan wajahnya, dia sedikit tersentak saat menyadari [Name] yang menatapnya lamat. Kiyoshi perlahan menaikkan wajahnya. “Saat aku sadar aku tidak sendirian, aku tidak bisa menahannya” lanjutnya.
[Name] mengulurkan sapu tangan pada Kiyoshi dengan senyum lebar. Yah, dia juga paham perasaan yang dirasakan Kiyoshi. Gadis itu melirik Kuroko dan Kagami yang menatap Kiyoshi, dia bersyukur memliki mereka di setiap kondisi terburuknya. [Name] menundukkan kepalanya, banyangan Akihiro terlihat jelas dalam benaknya. Sosok kakak yang terus menemani dan melindungi dari kecil hingga sekarang.
“Apa? Kenapa kau jadi seperti itu sekarang? Aku jadi jengkel melihatnya!” emosi Hyuga dengan perempatan di wajahnya.
“Apa?” tanya Kiyoshi balik seraya menghapus air matanya menggunakan sapu tangan [Name].
“Sumimasen. Jujur saja, aku juga sedikit marah” timpal Kagami datar.
“Aku juga” tambah Kuroko dengan wajah datar khasnya.
“Koga, bisa ambilkan pemukulku ditasku?” ucap Izuki pada Koganei.
“Hah? Apa kau benar-benar...” ucap Koganei ragu.
“Apa?!” seru Izuki.
“Hei, tidak ada waktu untuk itu!” seru Riko melerai.
Mereka mulai menyerang Kiyoshi meski tidak terlalu keras, Riko berusaha melerai mereka, Trio anak kelas satu berusaha melindungi Kiyoshi dari amukan anggota lainnya. [Name] akhirnya terkekeh sebelum akhirnya tertawa renyah. Ini tawa tulus yang muncul dari hatinya melihat anggota timnya, beban hatinya sedikit terangkat bersama mereka.
‘Oh, aku mengerti. Tim tidak selalu harus dilindungi. Tim juga bisa melindungimu. Kami saling mendukung bukan karena kita adalah tim, kita tim karena kita saling mendukung satu smaa lain. Aku tidak akan ragu lagi’ batin Kiyoshi.
“Bagaimana jika kita membuat lingkaran lagi?” tanya Kuroko sebelum mereka masuk ke dalam lapangan. “Terkadang, aku kira Murasakibara-kun ada benarnya saat dia berkata basket itu tidak adil. Tapi, basket bukan olahraga yang kita mainkan sendirian. aku ingin menang bersama-sama dan aku yakin kita bisa melakukannya” ujarnya.
[Name] tersenyum dan melangkah ke samping Kuroko, dia meletakkan tangan kecilnya di atas tangan milik Kuroko. Pemain Seirin yang melihatnya hanya bisa tersenyum.
“Baiklah, kalau begitu” ucap Hyuga.
Para anggota tim Seirin berkumpul menjadi satu lingkaran.
“Seirin, fight!” seru Hyuga.
“Ou!” balas mereka serempak.
Pemain Yosen dan Murasakibara kembali ke lapangan. Murasakibara dan Kuroko berada di posisi belakang barisan.
“Sepertinya kalian kembali bersemangat, tapi... aku akan menghancurkan semuanya” ucap Murasakibara.
“Seirin tidak selemah itu” balas Kuroko.
Kagami berhadapan dengan Himuro, mereka berdua saling menatap tajam satu sama lain.
“Aku tidak akan ragu lagi” ucap Kagami serius.
“Tentu saja. Ayo kita selesaikan” balas Himuro sama seriusnya.
[Name] yang berdiri di pinggir lapangan merogok kantong roknya, dia mengambil kalung berbandul cincin milik Kagami. Sebelumnya dia memang keluar, Kagami menyuruhnya membuang kalung itu. Tentu saja [Name] tidak akan mendengarkan permintaan Kagami, ditatapnya lamat kalung itu sebelum menggenggamnya dengan erat.
“Ayo! Kita menangkan pertandingan ini!” seru Hyuga lantang.
“Riko aku benar-benar menyukai basket. Syukurlah akiu bisa bermain” ucap Kiyoshi tiba-tiba.
“Kenapa kau bicara begitu?” tanya Riko heran.
“Maaf. Inilah yang terakhir. Aku butuh bantuan” jawab Kiyoshi tanpa ragu. Dia menatap langsung ke arah mata Riko.
“Apa? Kiyoshi, apa kau serius?” tanya Riko memastikan pendengarannya.
“Ya, 2 menit terakhir... tidak, satu menit saja sudah cukup. Aku harus bermain lagi” ucap Kiyoshi.
“Kau mau masuk lagi?” tanya Koganei.
“Kau tidak boleh ceroboh!” timpal Tsuchida.
Riko menghela nafas. “Baiklah” ucapnya.
“Pelatih?” panggil Koganei ragu.
“Apa kau yakin Riko?” tanya Kiyoshi. Bahkan dia tidak percaya Riko mengizinkannya.
“Apa maksudmu sih? Meski aku berusaha menghentikanmu, kau pasti akan memaksa untuk bermain” jawab Riko mulai berdiri seraya menyisingkan lengan seragamnya. “[Name]-chan” panggil Riko.
[Name] langsung menoleh mendengar namanya di panggil, dia segera memasukkan kembali kalung Kagami pada kantong roknya.
“Ya?” tanya [Name]. Dia berjalan mendekat pada Riko.
“Kuserahkan sisanya padamu” ucap Riko.
[Name] melebarkan matanya sebelum akhirnya kembali normal. Dia melirik Kiyoshi dari ekor matanya dan segera tahu maksud Riko.
“Beri aku tiga menit” ucap Riko mulai mengucir rambutnya. “Pimpin tim selama aku tidak ada. Aku percaya kau bisa melakukannya”
[Name] menundukkan kepalanya sebentar, sebuah seringai lebar muncul di wajah manisnya. Gadis itu mendongak menatap Riko dengan mata berkilat tajam.
“Serahkan padaku Riko senpai” jawabnya tanpa ragu. Kedua tangannya tekepal erat, apa pun yang terjadi [Name] siap menjaga tim ini.
Fukui memegang bola, saat akan mengoper dia sedikit terkejut dengan formasi Seirin yang berbeda lagi.
“Itu zona 2-3!” seru Masako.
Murasakibara menggertakkan giginya marah, Himuro berusaha melewati Hyuga yang menjaganya. Fukui melangkah maju begitu juga dengan Izuki, Fukui memainkan bola ditangannya dengan cepat sebelum melemparkannya ke arah ring.
“Itu Alley-oop!” seru Hyuga.
Fukui melemparkan bola pada Murasakibara yang sudah siap dari tadi.
“Murasakibara!” seru Kagami. Dia ikut melompat di belakang Murasakibara untuk menghentikannya.
“Hah... yang perlu kami lakukan hanyalah mengumpan. Lagipula, center kami adalah Murasakibara” ucap Fukui datar.
Murasakibara menangkap bola dan memasukkanya ke ring tanpa berbalik. Kagami yang merasakan kekuatan Murasakibara juga mendapatkan dampaknya.
“Kagami-kun!” seru Kuroko.
Murasakibara mendarat dengan sempurna sebelum berbalik pada Kagami.
“Apa kau pikir kau bisa menghentikanku sendirian? jangan terlalu percaya diri, Kagami” ucap Murasakibara setengah menyindir. Tidak lupa juga dia memandang rendah Kagami.
“Jika itu yang diperlukan untuk menang, aku akan melakukannya. Aku akan menghentikanmu” balas Kagami tidak mau kalah.
Aomine manatap ke arah lapangan dengan serius. Otsubo memegang bola, dia sedikit terkejut dengan formasi milik Seirin yang berubah lagi. Otsubo melempar bola pada Himuro, secara serempak pemain Yosen bergerak munuju ring Seirin. Kagami dan Himuro berhadapan satu sama lainnya.
“Tidak akan kubiarkan!” seru Kagami.
“Lakukan saja, jika kau bisa!” balas Himuro.
Himuro merangsek maju, dengan mulusnya dia melewati Kagami.
“Muro-chin, berhenti!” seru Murasakibara.
Himuro menyadari dan bergerak dengan cepat menghindari Kuroko yang berusaha mencuri bola darinya. Kuroko menatap tajam Himuro.
“Doumo” sapa Kuroko.
“Saa tte... waktunya untuk serius” ucap [Name]. Gadis itu merenggangkan tubuhnya, menutup matanya sebelum menarik nafas dalam. [Name] membuka matanya perlahan, tanpa dia sadari dia mengeluarkan aura miliknya yang terasa berat yang menekan. Dia menatap tajam ke arah lapangan dengan mata lavender yang menggelap dan berkilat-kilat dengan tajamnya.
Masako yang duduk dengan tenang segera tersentak, menoleh pada [Name]. Bahkan Aomine dan Satsuki yang ada di lantai atas juga merasakan tekanan milik [Name]. Akihiro hanya menyeringai lebar menatap [Name], inilah adik kesayangan dan kebanggannya.
Himuro mendribble bola dengan tenangnya, Hyuga berjaga didepannya. himuro merasa kesal dengan Kagami yang terkesan meremehkannya. Di sekitar Himuro menguar aura menekan yang sama kuatnya dengan milik Kiseki no Sedai.
“Himuro, umpan!” seru Fukui yang meminta bola.
Himuro bergerak seakan mengoper bola pada Fukui, Hyuga yang terkecoh tidak menyadari itu. Himuro segera menunduk dan melewati Hyuga.
‘Aku membencinya. Kau boleh menjaga siapa pun yang kau mau, tapi aku benci jika kau merasa bisa menjaga semuanya sendirian!’ batin Himuro. Dia berlari menuju Kagami yang sudah bersiap. “Kagami!” serunya lantang. Dia melompat tinggi bersiap memasukkan bola ke ring.
‘Rahasia dari Mirage Shot adalah dia melepaskan bolanya dua kali! Pertama dia melompat lalu melepas bola lurus ke atas di udara tepat saat dia melompat. lalu dia menangkap bolanya lagi dan menembakkannya. Bagi pemain biasa, dia memang terlihat melepaskan bola 2 kali. Tapi kemampuan Tatsu-nii sangat elegan, Fake miliknya bahkan seperti sungguhan. Ketika dia melakukannya, lemparan pertama akan membuat celah, dimana dia akan melempar yang kedua’ jelas [Name] sebelum mereka kembali bertanding pada Kagami.
‘Dengan kata lain, untuk bisa menghentikannya, aku harus menunda blokku!’ batin Kagami. dia kemudian melompat memblok tembakan Himuro.
Murasakibara menoleh pada mereka.
“Aku tahu jika kau tahu” ucap Himuro menatap Kagami tajam. Dia langsung melemparkan bola pada tembakan pertama, Kagami terlambat menghentikannya. “Kau pikir itu hanya tembakan trik biasa? aku bisa menembak kapan saya setelah melihat reaksi lawan saat dia melompat. Karena aku tahu usaha itu percuma”
Bola masuk ke dalam ring dengan mulusnya.
“Tidak ada yang bisa menghentikan Mirage Shot” ucap Himuro menatap sengit Kagami.
[Name] mengerutkan keningnya saat menatap Kagami.
“Apa yang si bodoh itu pikirkan?” tanya Aomine tiba-tiba.
“Apa?” tanya Satsuki.
Kise yang akan bertanding selanjutnya masuk ke arah lapangan dengan senyum lebar. “Seirin sepertinya masih bisa bertahan-ssu. menurut” ucapnya senang. “Menurut kalian siapa yang akan menjadi lawan kita besok-ssu?” tanyanya pada anggota tim Kaijou yang berada dibelakangnya.
“Sebelum itu kita masih ada pertandingan lain. Jangan lengah! Atau aku akan menghajarmu” omel Kasamatsu. Kise hanya bisa tersenyum canggung membalas ucapan Kasamatsu. “Seirin memakai zona 2-3 dalam bertahan? Tidak biasanya” ucapnya heran.
Kise mengerutkan keningnya menatap Kagami dalam lapangan, sebelum manik kuningnya menangkap rambut silver panjang milik [Name] yang berdiri tegap menatap lapangan. Mata Kise melebar dan bergetar melihat punggung gadis itu, dia benar-benar merindukannya dan ingin mendengar suaranya. Namun cerita Akihiro terus mengurungkan niatnya menghubungi [Name].
Kuroko mendapatkan bola, Murasakibara menghalanginya. Kuroko menembakkan bola sayangnya meleset, hingga bola terpantul keluar.
“Nee, Akihiro... inti serangan Seirin sudah goyah. Jika pertahanan full-court mereka hancur, mereka tidak bisa apa-apa lagi. Jika terus seperti ini...” ucap Alex ragu.
“Aku percaya pada adikku yang memilih tim ini, mereka akan menang” balas Akihiro.
Yosen menggempur Seirin habis-habisan, mereka terus mencetak angka tanpa henti. Skor mereka kembali menjauh, [Name] melirik papan skor yang menunjukkan 58-49.
“Kita tertinggal. Satu saja sudah sulit, tapi mereka punya 2. Bagaimana cara kita menghentikannya?” tanya Koganei ragu.
[Name] tidak merespon, dalam kepalanya sudah penuh dengan strategi yang bisa Seirin gunakan untuk membalas Yosen. Masalahnya saat ini hanya satu, Kagami. [Name] menggertakkan giginya, mengetahui apa yang lelaki bersurai merah itu akan lakukan.
Kagami membungkukkan badannya, menggunakan lututnya sebagai tumpuan untuk mengatur nafas.
“Terlalu beresiko. Apa Kagami punya rencana?” ucap Izuki.
“Bukannya aku merasa dia tidak punya rencana. Tapi kita tidak boleh seperti ini terus” ucap Kuroko serius.
“Dasar bodoh. Jika begini, mereka akan kalah” ucap Aomine.
“Apa?” tanya Satsuki tidak mengerti.
“Jelas sekali apa yang dia pikirkan sekarang. Tapi jika dia begitu, dia tidak akan pernah bisa masuk Zone selamanya” ucap Aomine.
“Apa maksudmu?” tanya Satsuki masih tidak bisa menangkap maksud Aomine.
“Masuk Zone yang kedua kalinya lebih sulit karena pengalaman saat pertama kali di pakai sudah berbeda. Setelah dia tahu bagaimana rasanya mengeluarkan semuanya, alaminya dia pasti ingin merasakannya lagi. Tapi itulah pemikiran yang salah. Itulah yang tidak booleh ada jika ingin masuk Zone” jelas Aomine.
“Jika kau ingin masuk Zone, kau tidak boleh berusaha untuk bisa masuk Zone Taiga” gumam [Name] pelan. Tanpa sadar gadis itu mengerutkan keningnya erat.
Kagami yang akan melakukan dunk, dihentikan oleh Murasakibara. Bola dari tangannya di tepis hingga terpantul keluar lapangan.
“Kagami!” seru Izuki.
“Out of Bound! Bola hitam!” seru wasit setelah meniup peluitnya.
Bola memantul dan menggelinding hingga berhenti di depan kaki Kise. Lelaki bersurai kuning itu memungut bola didepannya.
“Sialan” umpat Kagami berlari ke arah bola. Dia terdiam melihat Kise yang berdiri di sana. [Name] juga ikut menoleh pada Kise yang berhadapan dengan Kagami.
“Kenapa kau menyedihkan sekali sih-ssu?” tanya Kise dengan sarkasnya.
“Kise” ucap Kagami.
“Kise-kun” ucap Kuroko yang ikut menoleh pada Kise juga pemain Seirin lainnya.
“Kise-chin” ucap Murasakibara.
“Ryota ya...” ucap [Name] pelan. Gadis itu menoleh ke belakang dan menemukan tim Kaijou berdiri di belakang mereka.
“Oh? Sepertinya aku salah orang-ssu. Siapa kau-ssu?” tanya Kise malas.
“Hah? Apa maksudmu...” balas Kagami.
“Aku tidak kenal orang bodoh yang bergantung pada sesuatu saat bermain basket-ssu” sarkas Kise. Kagami menggertakkan giginya mendengar ucapan Kise. “Sepertinya aku akan bermain melawan Murasakibaracchi di semi final-ssu” ucapnya melemparkan bola pada Kagami. Dia menoleh pada Murasakibara dengan senyum lebar. “Aku sudah tidak sabar-ssu”
“Kau benar. Tapi aku sedang bermain sekarang. Jangan berbicara denganku” balas Murasakibara malas.
“Aku tidak tahu mau bilang apa-ssu. Orang yang kukenal jauh lebih menakutkan saat pertanidngan latihan-ssu” ucap Kise melangkah pergi dari sana kembali ke timnya. Dari ekor mata Kise, dia bisa melihat [Name] yang tersenyum kecut kearahnya.
‘Arigatou, Ryota’ ucap [Name] tanpa suara. Gadis itu memutuskan kontak matanya dari Kise sebelum menatap ke arah lapangan.
Kise berhenti berjalan dan menatap [Name] dengan mata bergetar. “[Name]cchi...”
-●●-
Holaa, holaa...
Ada yang kangen, ada yang nyariin nggak nih? Kayaknya nggak ada sih ya, akunya aja yang geer. Wkwkwk...
Udah update nih, seneng nggak??? Seneng dong ya, please... (maksa amat, wkwkwk).
Nah, untuk Everything About Us [KnB] lagi aku revisi masalah typo dan penggunaan kata yang tepat. Masih baru sampai chapter 30-an yang ku edit sih, tapi gak apa. Bakalan kucepetin revisiannya. Wkwkwk...
Dan buat karakter [Name] aku perbaruin, jadi silahkan liat diperkenalan tokoh untuk melihat perubahannya ya...
Oke sampai jumpa lagi chapter selanjutnya, nantikan terus dan tetap setia sama cerita ini ya...
Jaa nee...
KAMU SEDANG MEMBACA
Everything About Us [KnB]
Aksi[Name] akan pindah ke Amerika karena pekerjaan orang tuanya. Dia berniat pamit kepada para sahabatnya setelah pertandingan dan membuat kenangan indah bersama. Sampai akhirnya [Name] dikecewakan dengan sikap teman-temannya saat pertandingan. Dia meni...
![Everything About Us [KnB]](https://img.wattpad.com/cover/250810497-64-k956146.jpg)