*warn, typo cuy...
“Kenapa?” ucap Kagami yang mengatur nafasnya. Dia melihat teman-teman setimnya yang tergeletak di lantai tidak sadarkan diri, begitu juga dengan [Name] yang ada ditangannya. “Kenapa ini bisa terjadi?” tanyanya lagi.
Segera petir besar menyambar dengan kuatnya.
“Kumohon, siapa saja... jawab aku!” serunya lantang.
Flashback. (2 jam sebelumnya)
“Baiklah. Semuanya sudah siap, kan?” tanya Riko mengecek anggota timnya.
“Ayo” jawab mereka serempak.
“Sial. Aku tidak menyangka akan tertidur di ruang ganti di saat musim dingin” ucap Hyuga menutupi wajahnya.
“Musim dingin bisa tidak sedingin biasanya” ucap Izuki dengan plesetan anehnya.
“Kau contohnya” balas Hyuga dengan datarnya.
“Semoga saja kita tidak terkena flu” sahut Kiyoshi.
“Tunggu, apa kalian tidak melupakan sesuatu yang penting?” tanya Koganei.
“Apa?” tanya Kiyoshi menoleh padanya begitu juga dengan Mitobe. “Aku tidak melihat [Name]-chan, dimana dia?” tanyanya lagi.
“Ah, [Name]-chan pergi menemui Aomine-kun” jawab Kuroko datar.
“Souka” jawab Kiyoshi menganggukkan kepala.
“Hei, apa kalian tidak mendengarkanku?!” protes Koganei.
“Apa?” tanya Kiyoshi lagi.
“Ayo rayakan kemenangan kita!” seru Koganei memberikan tanda peace.
“Tidak bisa!” tolak Hyuga.
“Apa?” tanya Koganei lemas.
“Pertandingan kedua kita akan berlangsung besok lusa! Dari pertandingan ketiga dan seterusnya, kita akan bertanding setiap hari! Seandainya kita menang, kita tidak punya waktu untuk merayakannya!” jelas Hyuga.
Riko mengabaikan omelan Hyuga dan langsung pose berpikir. “Sepertinya itu ide yang bagua. Ayo kita makan malam bersama” ucapnya.
“Apa?” tanya Hyuga.
“Penyembuhan kalian juga penting. Untuk itu, kalian perlu makan dan tidur yang banyak” jelas Riko.
“Setelah itu, kita bisa meneliti lawan kita selanjutnya” sambung Kiyoshi.
“Tapi di mana? Manakan di luar itu mahal” ucap Hyuga.
“Rumahku juga jauh” ucap Riko.
“A-ano...” ucap Kagami ragu. Riko langsung menoleh padanya. Kagami menggaruk pipinya dengan canggung. “Tempat tinggalku dan [Name] sebenarnya dekat dari sini” lanjutnya.
“Apa?” tanya Hyuga.
“Maksud Taiga, apa minna-san mau ke sana?” tanya seorang gadis yang berjalan ke arah mereka dengan senyum lebar.
Semua tim Seirin langsung menoleh ke sumber suara, [Name] berjalan berdampingan dengan Aomine dengan wajah datarnya.
“[Name]-chan?!” seru Riko.
“Kalau begitu aku pergi, sampai jumpa besok [Name]” ucap Aomine.
[Name] menoleh padanya dengan senyum lebar. “Un, arigatou sudah mengantarku kemari Daiki” balasnya.
Aomine sedikit menundukkan kepalanya dan mendekatkannya di telinga [Name]. “Akan kuhubungi besok, jangan lupa” ucapnya lirih.
[Name] terkekeh dan mengangguk mengerti. “Aku tahu, jaa ne Daiki. Aku titip salam pada Tsuki-chan ya” balasnya.
Aomine mengelus puncak kepala [Name] dan berjalan pergi dari sana. Para pemain Seirin melebarkan mata melihat interaksi mereka berdua, Kagami dan Kuroko hanya bisa menatap punggung Aomine dengan tajamnya.
“Saa... mau ke apartemenku atau Taiga?” tanya [Name] memecah keheningan timnya.
“Apartemenku saja” balas Kagami langsung.
“Baiklah, ayo kita pergi” ajak [Name].
Akhirnya mereka berjalan menuju ke apartemen Kagami dan [Name], begitu masuk ke dalam Hyuga, Izuki dan Koganei menjatuhkan tas mereka. Tidak lupa juga mereka membuka mulut lebar.
“Be... besar!” seru Koganei.
“Masuklah” ucap Kagami.
[Name] dengan santainya meletakkan tasnya di sofa, yah dia juga sering ke apartemen Kagami jadi gadis itu tidak terlalu kaget. Sedangkan para pemain Seirin masih sweatdrop melihat ke sekeliling ruangan.
“Kagami, apa kau tinggal di sini sendirian?” tanya Fukuda.
“Seharusnya aku tinggal di sini dengan Ayah” jawab Kagami. “Tapi kalau dipikir, mungkin lebih luas apartemen milik [Name]”
“Kagami-kun, ternyata kau ini anak terlantar. Aku tidak mau menjadi bayanganmu lagi” komentar Kuroko datar.
“Pfft! Anak terlantar!” ucap [Name] menahan tawanya.
“Urusai [Name]! Dan kenapa kau mengatakan itu?!” seru Kagami mengerucutkan bibirnya.
“Dekorasinya sederhana. Perabotan minim, bola basket dan majalah” ucap Izuki yang melihat sekeliling ruangan.
“Kau benar-benar hanya memikirkan makan, tidur dan basket” ucap Hyuga.
“Benar sekali” sahut [Name] menganggukkan kepalanya serius.
“Hah? Di mana Riko?” tanya Kiyoshi.
“Dia tadi ke dapur membawa bahan makanan” jawab Fukuda.
Hyuga langsung berteriak histeris, bahkan sudut kacamatanya retak. Tidak kalah histerisnya juga Izuki, Tsuchida, Kagami dan Koganei.
“Yang benar saja!” seru Hyuga.
“Apa kau sudah lupa dengan kejadian musim panas kemarin?! Kita masih hidup karena [Name]-chan membantu pelatih memasak!” sambung Izuki.
“Kita tidak akan pulih, tapi kita akan mati!” seru Hyuga mencengkram kerah Fukuda. “[Name]-chan!” panggilnya.
[Name] yang membuka majalah sport milik Kagami menoleh dengan pandangan bertanya.
“Bantu pelatih memasak! Kami tidak mau mati!” seru Hyuga lagi.
“Sudah siap!” seru Riko bahagia.
Hyuga langsung membeku dengan wajah pucat pasinya.
“Sangat bernutrisi” ucap Riko lagi memegang sebuah panci nabe. “Masakan panas spesialku”
‘Terlambat sudah...’ batin semua pemain Seirin. Mereka semua langsung pucat pasi, sangat kontras dengan Riko yang tersenyum lebar penuh warna.
Riko meletakkan panci nabe buatannya di atas kompor portabel.
‘Terlihat biasa saja?” batin para pemain Seirin dengan mata terkejut. Meski wajah mereka terlihat pucat.
“Kelihatannya enak!” seru [Name] dengan mata berbinar.
“Ada apa dengan kalian?! Kalian tidak bisa bilang bagus atau semacamnya ya?! Hanya [Name]-chan yang memujinya!” seru Riko geram meremas kentang hingga hancur lebur.
“Maaf, aku hanya kaget saja” jawab Izuki. Dia memisahkan sumpit sekali pakai miliknya dan bersiap mengambil makanannya. “Ya, Ittadaki-“
“Chotto matte!” ucap Hyuga menghentikan Izuki dengan wajah gelap, suram dan seriusnya. Dia langsung menoleh pada Kuroko dan [Name]. “[Name]-chan, Kuroko-kun cobalah makan satu suap” ucapnya dengan senyum lebar menyeramkannya.
“Caramu menyuruhku terlihat kejam” ucap Kuroko datar dan depresi.
“Maa... kalau begitu aku akan mencoba duluan” ucap [Name] bersemangat. “Nabenya terlihat enak, jadi makanannya juga pasti akan enak ju...ga?” ucapnya sedikit kaget saat mengambil potongan buah persik.
“Kalau begitu... permisi aku ambil ya” ucap Kuroko. Dia mengambil sebuah pisang yang masih ada kulitnya dari panci nabe. “Hah?”
“Kenapa ada persik dan pisang didalamnya?” tanya Koganei.
“Tadi ada di dalam plastik bahan makanan sih” jawab Riko.
“Tapi itu untuk pencuci mulut! Kau juga belum mengupasnya!” omel Hyuga.
Kuroko dan [Name] yang suram langsung menjatuhkan makanan yang mereka ambil ke dalam mangkuk.
“Tapi persik dan pisang itu kan... enak...” elak Riko.
“Kenapa kau berbicara seperti itu?!” protes Hyuga.
“Gomen, gomen” ucap Riko dengan gaya imutnya.
“Sejak kapal kau bertingkah seperti itu?!” omel Hyuga lagi.
“Jangan mencemaskan itu, Hyuga. Sisanya sepertinya normal, persik dan pisangnya bisa disingkirkan” ucap Kiyoshi. Dia langsung terdiam saat mengambil sebuah strawberry.
“Kenapa di sini ada strawberry?” tanya Koganei tambah lemas.
“Karena tadi ada di plastik bahan makanan” jawab Riko.
“Sudah kubilang, itu untuk pencuci mulut!” omel Hyuga lagi. Kiyoshi hanya bisa meletakkan strawberry yang diambilnya ke dalam mangkuk dengan suramnya.
“Tapi bervitamin...” elak Riko.
“Sekarang kau menyuruh kami merusak tradisi Jepang?!” seru Izuki.
“Tunggu. Rasanya enak juga” ucap Kuroko yang memakan pisang miliknya dengan datar.
“Un, rasanya enak!” sahut [Name] yang juga memakan persiknya.
“Mereka memakannya?!” seru mereka semua serempak.
Kiyoshi yang awalnya ragu juga memakan strawberry miliknya. “Lumayan” ucapnya.
“Maji?!” seru mereka semua lagi.
“Are? Buahnya benar-benar berguna” ucap Koganei yang juga ikut makan.
“Rasanya tidak begitu buruk” ucap Izuki yang juga memakan kiwi.
Hyuga masih tidak percaya, namun dia juga ikut makan. “Ka-kalau begitu...” ucapnya. Setelah memakannya dia menatap Riko yang tersenyum lebar penuh kemenangan padanya.
“Ahem!” dehem Riko bangga.
“Enak” ucap Hyuga.
[Name] berjalan menuju ke arah balkon, Kuroko yang melihatnya juga ikut berjalan ke sana. Gadis itu menoleh pada Kuroko dan tersenyum lebar.
“Kau berbicara banyak dengannya?” tanya Kuroko.
“Ya, kurasa Daiki akan baik-baik saja sekarang” jawab [Name]. Gadis itu kembali menatap hamparan lampu kota di bawah.
Kuroko dan [Name] terdiam lama, mereka hanya bisa melihat ke arah pemandangan di depan mereka. Seseorang membuka pintu balkon yang menarik perhatian [Name].
“Taiga” sapa [Name]. “Kau tidak makan lagi?”
Seperti biasa Kagami menyampirkan selimut tipis di bahu [Name] dan menghela nafas disampingnya.
“Tidak, biarkan saja para senpai yang makan” jawab Kagami.
[Name] menyenderkan kepalanya ke bahu Kagami dalam diam. Kagami hanya bisa mengelus kepala [Name].
“Doumo” sapa Kuroko datar.
Kagami langsung menoleh ke samping [Name] dan terlonjak kaget melihat Kuroko. [Name] langsung tertawa, sampai memegangi perutnya.
“Se-sejak kapan kau di sini?!” seru Kagami.
“Tetsuya sudah di sini bersamaku dari tadi” jawab [Name] menghapus air mata di sudut matanya.
“Sial. Aku sampai tidak merasakannya. Kenapa kau juga tidak memberitahuku [Name]?” protes Kagami.
“Kagami-kun, [Name]-chan” panggil Kuroko.
“Apa?” tanya Kagami menoleh pada Kuroko.
“Terima kasih untuk hari ini” ucap Kuroko.
“Apa?! Tumben kau mengatakannya?” tanya Kagami tidak mengerti.
“Entahlah. Setelah pertandingan usai dan makan malam dengan semuanya... tiba-tiba saja kalimat itu muncul dikepalaku. Syukurlah aku bertemu denganmu, Kagami-kun. Juga bisa bertemu dengan [Name]-chan lagi” ucap Kuroko tersenyum ke arah mereka berdua.
“Ya ampun! Kau selalu saja mengatakan hal-hal yang memalukan” ucap Kagami memalingkan mukanya.
“Nee, nee Taiga kau malu ya? Kalau seperti itu kau mirip dengan Shin” goda [Name].
“Jangan samakan aku dengannya!” seru Kagami.
“Benarkah?” tanya Kuroko.
“Lagipula, kau jangan senang dulu. Winter Cup baru saja di mulai, tapi kita sudah menunjukkan semua senjata kita. Pertandingan kita berikutnya akan jauh lebih sulit” ucap Kagami serius.
“Jaa, kita hanya perlu bertambah kuat” jawab Kuroko mendongakkan kepalanya menatap langit.
“Un, itu benar. Aku juga akan membantu kalian semua” sambung [Name] dengan senyum lebar.
“Ya. Kalian benar” balas Kagami. dia juga ikut menatap langit.
[Name] tiba-tiba saja limbung dan memegangi perutnya erat. Wajahnya berubah sedikit pucat, Kagami langsung menangkap tubuhnya.
“[Name]/-chan!” seru Kagami dan Kuroko bersamaan.
“Ada apa [Name]? Maag-mu kambuh?!” tanya Kagami sedikit panik.
“Tidak tahu, perutku tiba-tiba sakit” jawab [Name] lirih. Gadis itu langsung tidak sadarkan diri.
“[Name]?!” seru Kagami panik.
Kuroko yang juga khawatir ikut tumbang seperti [Name].
“Kuroko?! Ada apa? Oi!” panggil Kagami.
Kagami yang bingung, menoleh ke dalam dan matanya melebar. Semua pemain Seirin lainnya juga ikut pingsan seperti [Name] dan Kuroko.
“Minna... tidak... apa yang terjadi?!” seru Kagami.
Kagami langsung masuk ke dalam menggendong [Name] juga, petir menyambar dengan kerasnya. Kagami juga merasakan sakit diperutnya, perlahan dia juga ikut tumbang. Sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya Kagami melihat banyaknya botol dan bubuk protein di meja.
‘Yang benar saja?! kenapa juga dia menambahkan suplemen?!” jerit batin Kagami.
Setelah kejadian mencekam tadi, para pemain Seirin mulai sadar dan bersiap untuk pulang.
“Minna, cepat tidur setelah sampai rumah nanti” ucap Hyuga yang mengambil tas miliknya.
“Aku kira, aku mau mati” sahut Izuki yang membenarkan jaketnya.
Riko langsung pundung di pojokan dengan suramnya.
“Kagami, aku pakai toiletmu ya” ucap Koganei.
“Keluar dari pintu itu, lalu belok kanan” jawab Kagami. dia langsung menoleh pada [Name] yang masih berwajah pucat. “Kau membawa obat maag-mu?”
“Ya, aku minta air putih hangat ya” jawab [Name].
Koganei membuka pintu, yang ternyata kamar Kagami. “Oops, salah kamar” ucapnya.
Saat Koganei akan menutup pintu kamar Kagami dia melihat gundukan aneh dikasurnya. Penasaran Koganei segera menyikap selimut, di sana terbaring seorang wanita yang hanya menyenakan celana dalam saja. Koganei segera berteriak, matanya berputar-putar dan wajahnya bersemu merah.
“Koga?” panggil Hyuga yang mendengar teriakan Koganei.
Koganei langsung berlari, dia menabrak dinding dan merangkak ke arah teman-temannya. Dia mencoba berbicara, namun semua katanya tidak jelas dan terdengar aneh.
“Hei, what’s going on? (Hei, apa yang terjadi?)” tanya seorang wanita yang keluar dari kamar Kagami. dia mengenakan tanktop putihnya. Wanita itu menguap lebar. “What this noise about? Hmm? Taiga you came back(Kenapa berisik sekali? hmm? Taiga kau kembali)” ucapnya.
Mata Kagami terbuka lebar saat melihat sosok itu, [Name] juga sama terkejutnya namun matanya berbinar dengan senyum lebar.
“Kau...”
“I miss you so much! (Aku sangat merindukanmu!)” seru wanita itu.
Dia langsung mencium bibir Kagami, semua pemain Seirin hanya bisa membuka rahang mereka lebar dengan wajah bersemu merah. Kagami langsung menjauh darinya seraya mengelap bibirnya. Wanita itu menoleh kepada pemain Seirin.
“Hey? What the hell are you guys? (Hei? Siapa kalian semua?” tanya wanita itu.
“Siapa kau?!” seru mereka semua serempak.
“Alex aneki!” seru [Name]. Dia langsung menghambur ke pelukan wanita yang dipanggilnya Alex itu.
“[Name]?! I miss you too, how have you been? ([Name]?! Aku juga merindukanmu, bagaimana kabarmu?)” tanya Alex. Dia juga membalas pelukan [Name] sama eratnya.
“I’m fine! (Aku baik-baik saja!)” jawab [Name].
“What are you doing all of sudden?! (Apa yang kau lakukan tiba-tiba?!” protes Kagami.
“What’s the matter? It’s nothing, isn’t it? (Apa masalahnya? Itu bukan apa-apa bukan?)” jawab Alex santai.
“Why are you here in the first place?! Alex! (Kenapa kau kemari?! Alex!)” seru Kagami.
“That’s right! Why are you here aneki? And why you didn’t tell me? (Itu benar! Kenapa kau kemari aneki? Dan kenapa kau tidak memberitahuku?)” omel [Name] dengan bibir mengerucut.
“I’m sorry, [Name]. Didn’t Akihiro tell you? (Maafkan aku, [Name]. Bukankan Akihiro memberitahumu?)” balas Alex.
“Aki-nii?” tanya [Name] balik dengan wajah bingung.
“Guru Kagami?!” seru pemain Seirin serempak.
“Haa! I got it! So you guys Taiga and [Name] teammates! I’m Alexandra Gracia, nice to meet you! (Haa! Aku paham! Jadi kalian teman setim Taiga dan [Name]! Aku Alexandra Gracia, senang bertemu kalian)” sapa Alex pada pemain Seirin lainnya.
“Just shut up dan put your pants on! (Diamlah dan pakai celanamu!” seru Kagami melempari Alex celana panjang.
“Geez! Is that how you behave to your teacher?! [Name] look at that! (Geez! Apa itu perlakukan pada gurumu?! [Name] lihat itu!)” omel Alex.
[Name] hanya terkekeh menanggapi mereka berdua. Alex akhirnya mengenakan celana yang dilemparkan Kagami, lelaki bersurai merah gelap itu langsung menarik [Name] ke belakangnya. Riko memberikan segelas kopi panas pada Alex.
“Thank’s (Terima kasih)” ucap Alex pada Riko.
“Eee... a... why.. do you...” ucap Koganei sedikit kesulitan berbicara bahasa Inggris.
“Ow? You don’t really speak English do you? (En? Kau tidak terlalu banyak menggunakan Bahasa Inggris kan?). Pakai bahasa Jepang juga tidak apa. Aku mengambil jurusan Bahasa Jepang saat kuliah. Taiga dan [Name] juga sedikit mengajariku, terutama [Name]” ucap Alex mengambil gelas kopinya.
“Aku hanya mengajari sedikit Alex aneki” ucap [Name] dengan senyum lebar.
Izuki yang dari tadi membalik majalah sport milik Kagami. “Ini dia. Alexandra Gracia. Dia juara bertahan di kejuaraan antar kampus. Lalu dia lanjut bermain di WNBA” ucapnya.
“WNBA? Dia pemain profesional?” tanya Kawahara terkejut.
“Maji de?” sambung Fukuda.
“Meski pun aku sudah pensiun” ucap Alex. Kiyoshi langsung menoleh padanya. “Penglihatanku sedikit terganggu karena sakit. Sekarang aku hanya melatih tim kecil” jelasnya.
“Apa yang kau lakukan di Jepang?” tanya Riko penasaran. Dia langsung duduk di sebelah Alex.
“Riko senpai!” seru [Name] meremas jaket Kagami.
“Pelatih, jangan terlalu dekat-dekat!” seru Kagami.
“Apa?” tanya Riko bingung.
Alex langsung merangkul Riko dengan dekatnya. “Cewek Jepang cantik juga, [Name] juga sangat imut” ucapnya.
“Apa?” tanya Riko semakin kaget.
“Dia itu suka cium-mencium!” seru Kagami. peringatannya terlambat, Alex sudah mencium bibir Riko. “Tuh kan” ucapnya lemah.
Riko langsung berteriak, dia langsung menjauh dari Alex. Semua pemain Seirin sweatdrop melihat kearahnya.
“Jangan melakukan itu dengan semua orang!” omel Kagami.
“Apa maksudmu?! Aku hanya mencium wanita dan anak-anak! Hanya [Name] yang belum! Kau, Tatsuya dan Akihiro selalu menghalangiku menciumnya!” omel Alex balik.
“Bukan itu maksudku! Lagipula mana mungkin aku membiarkanmu mencium [Name]!” omel Kagami lagi.
“Jadi, kenapa kau datang ke Jepang?” tanya Kuroko dengan wajah datar.
Alex yang menyesap kopi miliknya segera menoleh ke belakang. “Hah? Oh...” dia langsung tersentak kaget saat melihat Kuroko yang sudah duduk tenang dibelakangnya. “Sejak kapan kau duduk di sana?!” serunya.
“Sudah daritadi” jawab Kuroko datar.
“Benarkah? Oh, kau orang yang diceritakan Taiga itu. Teman [Name] sejak SMP, begitu ya” ucap Alex.
“Taiga dan Tatsuya. Aku datang untuk melihat kedua muridku bermain. Bukan hanya itu, aku juga menemani Akihiro untuk menemui [Name]” jelas Alex.
“Chotto, aneki bilang kemari bersama Aki-nii? Kenapa Aki-nii tidak memberitahuku?” tanya [Name] bingung.
“Tanyakan saja apa Akihiro nanti, dia bilang keluar sebentar tadi. Kurasa sebentar lagi dia akan pulang” jawab Alex.
“Tatsuya, maksudnya...” ucap Izuki.
“Orang itu dari Yosen yang kita temua di turnamen jalanan. Jadi dia belajar basket darimu?” tanya Kawahara.
Kagami hanya mengalihkan pandangannya ke bawah, [Name] menepuk bahunya dan tersenyum lebar.
“Setelah pensiun, aku tidak bisa menerima kenyataan dan hidup dalam kekacauan. Aku bermain di jalanan untuk menghilangkan rasa frustasiku. Suatu hari, tiba-tiba saja dia dan Tatsuya meminta untuk menjadi muridku. Pada awalnya, aku ragu. Tapi... tanpa sadar, aku bermain basket dengan senyuman. Mereka berdua tumbu besar dan akan berhadapan di Jepang. Tentu saja aku penasaran” jelas Alex.
“Sebenarnya, kami belum tahu mereka akan berhadapan atau tidak” ucap Hyuga.
“What?!” seru Alex menggebrak meja.
“Selain itu, besok kami tidak bermain, jadi cuma menonton saja” jelas Hyuga lagi.
“Benarkah? Kalau begitu aku ikut! Bawa aku ya!” seru Alex senang. “[Name] juga mau kan menemaniku?” tanyanya.
“Gomen, aneki. Aku sudah memiliki janji besok pagi” ucap [Name] dengan rasa bersalah. “Jika sempat aku akan menyusul ke sana”
“Heee...” protes Alex.
“Gomen, lain kali aku akan menemanimu jalan-jalan aneki” ucap [Name] membujuk Alex.
“Siapa yang akan berjalan-jalan dengan siapa?” tanya seorang lelaki dari arah pintu.
Mereka semua langsung menoleh, Akihiro berjalan mendekat ke arah mereka. Mata Akihiro hanya tertuju pada [Name], senyum diwajahnya juga melebar dan hangat. Semua pemain Seirin langsung diam membeku di tempat.
“Aki-nii! Kau benar-benar ke sini!” seru [Name] senang. Dia segera berdiri dan menghambur ke pelukan Akihiro.
“Tentu saja, sudah kukatakan aku akan mengajakmu makan bukan” jawab Akihiro mengelus kepala [Name].
“Hehehe, tentu saja Aki-nii harus memenuhi janji itu” ucap [Name] mendongakkan kepalanya. “Are? Kau mengecat rambutmu lagi?” tanyanya.
Rambut Akihiro sekarang berwarna hitam pekat, awalnya dia mewarnainya menjadi ungu gelap karena pekerjaan sampingannya sebagai model.
“Ya, apa ini tidak cocok untukku?” tanya Akihiro dengan sorot mata lembut.
“Iie, warna apa pun tetap cocok untuk Aki-nii” jawab [Name] dengan senyum lebar.
“Souka... [Name] apa besok kau bisa membantuku?” tanya Akihiro.
“Bantu? Apa?” tanya [Name] balik menaikkan sebelah alisnya.
“Besok kakak ada pemotretan di dekat sini, model perempuan yang harusnya menjadi partner kakak tidak datang. Apa kau bisa menggantikannya?” tanya Akihiro penuh harap.
“Pagi atau sore?” tanya [Name].
“Sore” jawab Akihiro.
“Baiklah, aku bisa” ucap [Name] menganggukkan kepalanya.
“Hee... tidak adil kenapa jika Akihiro yang meminta kau langsung mengiyakannya [Name]!” protes Alex.
“Tentu saja karena aku kakaknya Alex” balas Akihiro dengan seringai lebar.
“Aku jadi ingin memukulmu, Akihiro” ucap Alex dengan perempatan dikepalanya.
“Maju sini” tantang Akihiro.
“Yamete! Jangan bertengkar di apartemen Taiga! Kalian tidak malu di lihat yang lainnya?!” omel [Name].
“Oh, aku tidak sadar ada kalian semua. Maaf” ucap Akihiro acuh, pandangan matanya juga hanya tertuju pada [Name].
‘Kami sudah ada di sini dari tadi!’ jerit batin pemain Seirin.
“Aki-nii!” seru [Name] memukul lengan Akihiro.
“Apa? Oh, iya... ini” ucap Akihiro memberikan sebungkus kertas besar pada [Name].
Gadis itu langsung melihat ke dalam kantung itu, isinya puding susu berbagai rasa buah kesukaannya. Mata [Name] langsung berbinar, dia segera ke dapur Kagami dan mengambil sendok besar. Akihiro tersenyum melihat ke arah punggung adiknya, sebelum menatap ke anggota tim Seirin. Wajahnya langsung berubah datar dan dingin, dengan santainya Akihiro duduk di samping Alex.
“Jadi kalian akan kemana besok?” tanya Akihiro.
“Kami akan melihat pertandingan SMA lain besok, aniki” jawab Kagami gugup.
“Sudah kubilang jangan memanggilku aniki, adikku hanya [Name]. Panggil aku Sasaki-san” ucap Akihiro.
“Jadi siapa yang akan bertanding besok?” tanya Koganei pada Riko.
“Besok pertandingan sekolah Shin melawan SMA Onita” jawab [Name]. Gadis itu kembali dengan sepiring puding dan duduk di samping Akihiro.
“Shin? Siapa dia?” tanya Alex bingung.
“Salah satu teman [Name] waktu SMP. Maa, kau akan tahu jika melihatnya besok” jawab Akihiro dengan wajah suram.
“Souka...” balas Alex menganggukkan kepalanya.
“Nee, nee Aki-nii” panggil [Name] menarik jaket Akihiro membuatnya mepunya menoleh. “Kau bisa membantuku?”
“Apa?” tanya Akihiro.
“Aku baru menyadari kemampuan analisaku belum ada apa-apanya” ucap [Name] menundukkan kepalanya.
“Apa yang kau ucapkan [Name]-chan?! Kau sudah banyak membantu kami dengan analisamu” omel Izuki.
“Itu benar, kami sampai sejauh ini juga berkat bantuan analisamu itu” sahut Kiyoshi. Yang lainnya mengangguk setuju dengan ucapan mereka.
[Name] menggelengkan kepalanya, sorot matanya berubah serius. “Aku beru menyadarinya hari ini, kemampuanku masih kurang. Saat mengetahui Daiki masuk Zone, analisa yang sudah ku susun langsung hancur. Aku tidak bisa membantu apa pun pada saat seperti itu. Dakara... aku ingin Aki-nii membantuku mengembangkan kemampuan analisaku” jelasnya lagi.
“Kau yakin?” tanya Akihiro. “Setahuku kemampuan analisamu sudah sangat baik lo”
“Ya, aku yakin” jawab [Name] serius.
“Baiklah, nanti kakak akan mengajarimu” ucap Akihiro. Dia menghela nafas dan mengelus puncak kepala [Name].
“Yatta! Aki-nii yang terbaik!” seru [Name] senang.
Akhirnya mereka semua berbincang lama, Akihiro juga ikut mengatakan beberapa patah kata dan memberikan saran pada mereka. Yah, meski terlihat dingin seperti itu Akihiro sebenarnya sangat baik dan perhatian juga. [Name] sudah tertidur pulas dengan kepala menyandar bahu Akihiro, dia terlalu lelah hari ini. Seharian dia menggunakan otaknya untuk menganalisa pertandingan melawan Touou.
“[Name]-chan tertidur?” tanya Riko.
“Ya, [Name] akan cepat tidurnya jika dia terlalu banyak melakukan analisa. Kadar gula juga akan cepat habis jika memfokuskan pada penggunaan otak. Makanya jangan heran jika [Name] bisa menghabiskan banyak makanan manis” jelas Akihiro.
Semua pemain Seirin sweatdrop melirik tumpukan bungkus puding susu yang habis menggunung di pojok sana.
‘Pantas saja’ batin mereka semua serempak.
“Baiklah semuanya, ayo kita pulang. Kita juga membutuhkan istirahat cukup” ucap Hyuga.
“Ya” jawab mereka serempak.
Akihiro menggendong [Name] dipunggungnya. “Jaa, kami juga akan kembali ke apartemen. Sampai jumpa besok Alex, Kagami-san” pamit Akihiro.
“Aku ingin tidur di kamar yang sama dengan [Name]” ucap Alex dengan wajah cemberut.
“Kau melakukannya, aku akan memulangkanmu ke Amerika langsung” ucap Akihiro dingin dengan sorot mata tajam.
Alex langsung bersembunyi di balik punggung Kagami. “Coba saja jika kau bisa, akan kuadukan kau pada [Name]” ancamnya balik seraya menjulurkan lidahnya.
“Percuma berdebat denganmu, kami pulang dulu” pamit Akihiro.
“Hati-hati, Sasaki-san” ucap Kagami.
Akihiro masuk ke dalam apartemen [Name], dia membawa adik kesayangannya itu ke dalam kamar dan menidurkannya dengan perlahan. Akihiro menyampirkan selimut untuk menutupi tubuh [Name], tidak lupa juga dia mengelus kepala adiknya dan mengecup keningnya.
“Mimpi indah , [Name]” ucapnya lirih.
Akihiro berjalan keluar kamar [Name] dan masuk ke ruang sebelahnya. Akihiro menghidupkan lampu, dilihatnya sekeliling ruangan yang penuh dengan coretan dan kertas yang tertempel di tembok maupun lantai. Akihiro berjongkok dan membaca selembar kertas itu, dia bisa mengenali tulisan [Name] di sana. Kertas itu berisi data analisa seluruh pemain basket Jepang SMA. Mau tidak mau Akihir menghela nafas panjang.
“Kau sudah melakukan semuanya yang terbaik, [Name]. Kau sudah berusaha melindungi teman-temanmu, kali ini giliran kakak yang akan melindungimu. Meski caraku nanti akan membuatmu marah pada kakak” ucapnya lirih.
-●●-
Konichiwa, minna-san...
Siapa yang nggak ngira bakalan update hari ini??? Wkwkwk, ngarep banget sumpah...
Oke, selamat menikmati chapter ini. Jumpa lagi si chapter berikutnya, selanjutnya giliran moment bareng Aomine. Siap-siap ya...
Jaa ne...
KAMU SEDANG MEMBACA
Everything About Us [KnB]
Acción[Name] akan pindah ke Amerika karena pekerjaan orang tuanya. Dia berniat pamit kepada para sahabatnya setelah pertandingan dan membuat kenangan indah bersama. Sampai akhirnya [Name] dikecewakan dengan sikap teman-temannya saat pertandingan. Dia meni...
![Everything About Us [KnB]](https://img.wattpad.com/cover/250810497-64-k956146.jpg)