63-Aneki?!

1.5K 203 11
                                        

*warn, typo cuy...

"Kenapa?" ucap Kagami yang mengatur nafasnya. Dia melihat teman-teman setimnya yang tergeletak di lantai tidak sadarkan diri, begitu juga dengan [Name] yang ada ditangannya. "Kenapa ini bisa terjadi?" tanyanya lagi.

Segera petir besar menyambar dengan kuatnya.

"Kumohon, siapa saja... jawab aku!" serunya lantang.

Flashback. (2 jam sebelumnya)

"Baiklah. Semuanya sudah siap, kan?" tanya Riko mengecek anggota timnya.

"Ayo." jawab mereka serempak.

"Sial. Aku tidak menyangka akan tertidur di ruang ganti di saat musim dingin." ucap Hyuga menutupi wajahnya.

"Musim dingin bisa tidak sedingin biasanya." ucap Izuki dengan plesetan anehnya.

"Kau contohnya." balas Hyuga dengan datarnya.

"Semoga saja kita tidak terkena flu." sahut Kiyoshi.

"Tunggu, apa kalian tidak melupakan sesuatu yang penting?" tanya Koganei.

"Apa?" tanya Kiyoshi menoleh padanya begitu juga dengan Mitobe. "Aku tidak melihat [Name]-chan, dimana dia?" tanyanya lagi.

"Ah, [Name]-san pergi menemui Aomine-kun." jawab Kuroko datar.

"Souka." jawab Kiyoshi menganggukkan kepala.

"Hei, apa kalian tidak mendengarkanku?!" protes Koganei.

"Apa?" tanya Kiyoshi lagi.

"Ayo rayakan kemenangan kita!" seru Koganei memberikan tanda peace.

"Tidak bisa!" tolak Hyuga.

"Apa?" tanya Koganei lemas.

"Pertandingan kedua kita akan berlangsung besok lusa! Dari pertandingan ketiga dan seterusnya, kita akan bertanding setiap hari! Seandainya kita menang, kita tidak punya waktu untuk merayakannya!" jelas Hyuga.

Riko mengabaikan omelan Hyuga dan langsung pose berpikir. "Sepertinya itu ide yang bagua. Ayo kita makan malam bersama." ucapnya.

"Apa?" tanya Hyuga.

"Penyembuhan kalian juga penting. Untuk itu, kalian perlu makan dan tidur yang banyak." jelas Riko.

"Setelah itu, kita bisa meneliti lawan kita selanjutnya." sambung Kiyoshi.

"Tapi di mana? Makanan di luar itu mahal." ucap Hyuga.

"Rumahku juga jauh." ucap Riko.

"A-ano..." ucap Kagami ragu. Riko langsung menoleh padanya. Kagami menggaruk pipinya dengan canggung. "Tempat tinggalku dan [Name] sebenarnya dekat dari sini." lanjutnya.

"Apa?" tanya Hyuga.

"Maksud Taiga, apa minna-san mau ke sana?" tanya seorang gadis yang berjalan ke arah mereka dengan senyum lebar.

Semua tim Seirin langsung menoleh ke sumber suara, [Name] berjalan berdampingan dengan Aomine dengan wajah datarnya.

"[Name]-chan?!" seru Riko.

"Kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa besok [Name]." ucap Aomine.

[Name] menoleh padanya dengan senyum lebar. "Un, arigatou sudah mengantarku kemari Daiki." balasnya.

Aomine sedikit menunduk dan mendekatkan wajahnya disamping wajah [Name], bibir lelaki itu tepat ditelinga sang gadis. "Akan kuhubungi besok, jangan lupa." ucapnya lirih.

[Name] mengangguk kecil dan tersenyum padanya. "Aku tahu, jaa ne Daiki. Aku titip salam pada Tsuki-chan ya." balasnya.

Aomine mengelus puncak kepala [Name], mengecup pipinya singkat dan berjalan pergi dari sana. Para pemain Seirin melebarkan mata melihat interaksi mereka berdua, Kagami dan Kuroko hanya bisa menatap punggung Aomine dengan tajamnya.

"Saa... mau ke apartemenku atau Taiga?" tanya [Name] memecah keheningan timnya. Dia menoleh pada anggota timnya yang masih tertegun di tempat.

"Apartemenku saja." balas Kagami langsung.

"Baiklah, ayo kita pergi." ajak [Name].

Akhirnya mereka berjalan menuju ke apartemen Kagami dan [Name], begitu masuk ke dalam Hyuga, Izuki dan Koganei menjatuhkan tas mereka. Tidak lupa juga mereka membuka mulut lebar.

"Be... besar!" seru Koganei.

"Masuklah." ucap Kagami.

[Name] dengan santainya meletakkan tasnya di sofa, yah dia juga sering ke apartemen Kagami jadi gadis itu tidak terlalu kaget. Sedangkan para pemain Seirin masih sweatdrop melihat ke sekeliling ruangan.

"Kagami, apa kau tinggal di sini sendirian?" tanya Fukuda.

"Seharusnya aku tinggal di sini dengan Ayah." jawab Kagami. "Tapi kalau dipikir, mungkin lebih luas apartemen milik [Name]."

"Kagami-kun, ternyata kau ini anak terlantar. Aku tidak mau menjadi bayanganmu lagi." komentar Kuroko datar.

"Pfft! Anak terlantar!" ucap [Name] menahan tawanya.

"Urusai [Name]! Dan kenapa kau mengatakan itu?!" seru Kagami mengerucutkan bibirnya.

"Dekorasinya sederhana. Perabotan minim, bola basket dan majalah." ucap Izuki yang melihat sekeliling ruangan.

"Kau benar-benar hanya memikirkan makan, tidur dan basket." ucap Hyuga.

"Benar sekali." sahut [Name] menganggukkan kepalanya serius.

"Hah? Di mana Riko?" tanya Kiyoshi.

"Dia tadi ke dapur membawa bahan makanan." jawab Fukuda.

Hyuga langsung berteriak histeris, bahkan sudut kacamatanya retak. Tidak kalah histerisnya juga Izuki, Tsuchida, Kagami dan Koganei.

"Yang benar saja!" seru Hyuga.

"Apa kau sudah lupa dengan kejadian musim panas kemarin?! Kita masih hidup karena [Name]-chan membantu pelatih memasak!" sambung Izuki.

"Kita tidak akan pulih, tapi kita akan mati!" seru Hyuga mencengkram kerah Fukuda. "[Name]-chan!" panggilnya.

[Name] yang membuka majalah sport milik Kagami menoleh dengan pandangan bertanya.

"Bantu pelatih memasak! Kami tidak mau mati!" seru Hyuga lagi.

"Sudah siap!" seru Riko bahagia.

Hyuga langsung membeku dengan wajah pucat pasinya.

"Sangat bernutrisi." ucap Riko lagi memegang sebuah panci nabe. "Masakan panas spesialku."

'Terlambat sudah...' batin semua pemain Seirin. Mereka semua langsung pucat pasi, sangat kontras dengan Riko yang tersenyum lebar penuh warna.

Riko meletakkan panci nabe buatannya di atas kompor portabel.

'Terlihat biasa saja?" batin para pemain Seirin dengan mata terkejut. Meski wajah mereka terlihat pucat.

"Kelihatannya enak!" seru [Name] dengan mata berbinar.

"Ada apa dengan kalian?! Kalian tidak bisa bilang bagus atau semacamnya ya?! Hanya [Name]-chan yang memujinya!" seru Riko geram meremas kentang hingga hancur lebur.

"Maaf, aku hanya kaget saja." jawab Izuki. Dia memisahkan sumpit sekali pakai miliknya dan bersiap mengambil makanannya. "Ya, Ittadaki-"

"Chotto matte!" ucap Hyuga menghentikan Izuki dengan wajah gelap, suram dan seriusnya. Dia langsung menoleh pada Kuroko dan [Name]. "[Name]-chan, Kuroko-kun cobalah makan satu suap." ucapnya dengan senyum lebar menyeramkannya.

"Caramu menyuruhku terlihat kejam." ucap Kuroko datar dan depresi.

"Maa... kalau begitu aku akan mencoba duluan." ucap [Name] bersemangat. "Nabenya terlihat enak, jadi makanannya juga pasti akan enak ju...ga?" ucapnya sedikit kaget saat mengambil potongan buah persik.

"Kalau begitu... permisi aku ambil ya." ucap Kuroko. Dia mengambil sebuah pisang yang masih ada kulitnya dari panci nabe. "Hah?"

"Kenapa ada persik dan pisang didalamnya?" tanya Koganei.

"Tadi ada di dalam plastik bahan makanan sih." jawab Riko.

"Tapi itu untuk pencuci mulut! Kau juga belum mengupasnya!" omel Hyuga.

Kuroko dan [Name] yang suram langsung menjatuhkan makanan yang mereka ambil ke dalam mangkuk.

"Tapi persik dan pisang itu kan... enak..." elak Riko.

"Kenapa kau berbicara seperti itu?!" protes Hyuga.

"Gomen, gomen." ucap Riko dengan gaya imutnya.

"Sejak kapan kau bertingkah seperti itu?!" omel Hyuga lagi.

"Jangan mencemaskan itu, Hyuga. Sisanya sepertinya normal, persik dan pisangnya bisa disingkirkan." ucap Kiyoshi.  Dia langsung terdiam saat mengambil sebuah strawberry.

"Kenapa di sini ada strawberry?" tanya Koganei tambah lemas.

"Karena tadi ada di plastik bahan makanan." jawab Riko.

"Sudah kubilang, itu untuk pencuci mulut!" omel Hyuga lagi. Kiyoshi hanya bisa meletakkan strawberry yang diambilnya ke dalam mangkuk dengan suramnya.

"Tapi bervitamin..." elak Riko.

"Sekarang kau menyuruh kami merusak tradisi Jepang?!" seru Izuki.

"Tunggu. Rasanya enak juga." ucap Kuroko yang memakan pisang miliknya dengan datar.

"Un, rasanya enak!" sahut [Name] yang juga memakan persiknya.

"Mereka memakannya?!" seru mereka semua serempak.

Kiyoshi yang awalnya ragu juga memakan strawberry miliknya. "Lumayan." ucapnya.

"Maji?!" seru mereka semua lagi.

"Are? Buahnya benar-benar berguna." ucap Koganei yang juga ikut makan.

"Rasanya tidak begitu buruk." ucap Izuki yang juga memakan kiwi.

Hyuga masih tidak percaya, namun dia juga ikut makan. "Ka-kalau begitu..." ucapnya. Setelah memakannya dia menatap Riko yang tersenyum lebar penuh kemenangan padanya.

"Ahem!" dehem Riko bangga.

"Enak." ucap Hyuga.

[Name] berjalan menuju ke arah balkon, Kuroko yang melihatnya juga ikut berjalan ke sana. Gadis itu menoleh pada Kuroko dan tersenyum lebar.

"Kau berbicara banyak dengannya?" tanya Kuroko.

"Ya, kurasa Daiki akan baik-baik saja sekarang." jawab [Name] dengan nada suara ringan. Gadis itu kembali menatap hamparan lampu kota di bawah. Ada sedikit perasaan lega di hatinya melihat Aomine yang dilihatnya dulu sudah kembali.

Everything About Us [KnB]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang