[Name] akan pindah ke Amerika karena pekerjaan orang tuanya. Dia berniat pamit kepada para sahabatnya setelah pertandingan dan membuat kenangan indah bersama.
Sampai akhirnya [Name] dikecewakan dengan sikap teman-temannya saat pertandingan. Dia meni...
[Name] mengerjapkan matanya, langit-langit yang akrab memasuki pandangannya. Perlahan gadis itu duduk dan melihat sekeliling kamarnya. [Name] masih diam di tempat sebelum turun dan menyibak tirai kamarnya.
Gadis itu membuka jendela dan menghirup nafas dalam-dalam, udara dingin memasuki paru-parunya. [Name] menepuk kedua pipinya pelan, senyum lebar terpatri di wajah manisnya. Angin lembut membelai helaian rambut perak miliknya.
"Yosh! Ayo kita berjuang untuk hari ini juga!" ucapnya bersemangat.
Gadis itu membuka pintu kamar, dari sana dia bisa mencium harum makanan melayang di udara. [Name] langsung berjalan sedikit berlari menuju ruang makan. Lagi-lagi Akihiro berdiri di sana mengenakan celemek pink milik [Name] dengan tangan memegang panci.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ohayou Aki-nii!" sapa [Name] dengan senyum lebar.
"Ohayou, [Name]. Tidurmu nyenyak?" sapa balik Akihiro dengan senyum lembut khas miliknya.
"Un. Aki-nii masak lagi? Kenapa tidak membiarkanku memasak?" tanya [Name] heran. Dia menarik salah satu kursi dan duduk.
"Tidak, kau kelelahan semalam. Mana kakak tega membangunkanmu." balas Akihiro tersenyum lembut pada [Name]. Dia berjalan mendekat dan mengelus surai adiknya penuh sayang. "Bagaimana matamu? Matamu masih sakit?"
[Name] menggeleng dan menyengir lebar. "Tidak lagi sakit, jangan khawatir."
"Souka." ucap Akihiro menatap khawatir [Name]. Dia menarik kursi di sebelah [Name] dan menggenggam erat tangan kanan adiknya itu. "Jika bisa kakak tidak ingin mengajarimu tehnik analisa ini. Itu membuatmu cepat lelah baik secara mental, pikiran dan penglihatan. Terutama itu memakan banyak stamina."
"Jika tehnik ini bisa membantuku membawa teman-teman pada kemenangan aku tidak masalah Aki-nii. Lagipula aku senang bisa mengembalikan pemikiran Shin dan yang lainnya seperti dulu, menurutku harga itu sepadan." ucap [Name] tenang.
"Tapi bagi kakak mereka tidak sepadan dengan usaha kerasmu itu. Mengingat bagaimana mereka menyakitimu dulu, kakak masih tidak terima." balas Akihiro cepat sedikit mengernyit. [Name] tidak membalas ucapan kakaknya, dia hanya bisa tersenyum tipis. Dia meraih tangan kakaknya itu dan menggenggamnya erat seolah menenangkannya.
"Lupakan saja, perasaanku selalu jelek jika membahas mereka." putus Akihiro setelah menghela nafas kecil. Lelaki itu paham mau sekeras apapun dia membujuk adiknya, [Name] akan tetap keras kepala dengan keputusannya. "Setelah mereka kembali seperti dulu apa rencanamu? Bukannya kau mendapat tawaran itu?"
"Aku... aku masih memikirkannya Aki-nii." ucap [Name] sedikit menundukkan kepala. Matanya sedikit bergetar mengingat dia mendapat beberapa tawaran beberapa hari lalu. Tentu saja hal ini masih dia rahasiakan dari anggota tim Seirin.