43-Fever Panic!

2.4K 250 38
                                        

*warn, typo...
Ni chapter tidak ada di animenya, jadi beneran pemikiran author sendiri. Selamat membaca....

[Name] tertidur tanpa sempat mengganti pakaiannya, suara bel pintu terus berbunyi mengusik tidurnya. [Name] mengerutkan keningnya dan mengerjapkan matanya, dia perlahan duduk. Sakit kepala langsung menyerangnya, dia memegangi kepalanya yang terus berdenyut.

Pandangannya berputar, [Name] mencoba untuk bangun dari kasur. Dia hampir jatuh jika dia tidak sigap memegang gagang pintu kamarnya. [Name] menggelengkan kepalanya dan dengan pasti berjalan menuju pintu apartemen.

[Name] membuka pintu, Kagami yang mengenakan seragam berdiri didepannya dengan wajah seram. Begitu gadis itu mendongakkan kepalanya, wajah Kagami berubah khawatir. [Name] tersenyum lebar pada Kagami.

“Ada apa, Taiga?” tanya [Name]. Suaranya sedikit serak.

Kagami diam dan langsung menyentuh dahi [Name] dengan tangannya, panas. Kagami mengerutkan keningnya, [Name] hanya menatap lelaki didepannya bingung. Kagami langsung mengangkat [Name] ala bridal style dan membawanya menuju kamar si gadis.

“Taiga?” panggil [Name].

“Diam, sebenarnya aku ingin memarahimu karena mengganti password apartemenmu. Kau membuatku khawatir semalaman dan lihat kau demam” ucap Kagami menidurkan [Name] dikasurnya dan menyelimutinya.

“Aku demam?” tanya [Name] menyentuh dahinya sendiri.

“Kau demam, tapi tidak bisa merasakannya. Dasar baka” ucap Kagami bersiap ke dapur untuk memasak bubur.

“Jika aku masih bisa sakit, berarti aku tidak bodoh. Bukannya kau mengatakan itu untuk dirimu sendiri?” goda [Name].

Urusai, [Name]. Diam di sini dulu” ucap Kagami berjalan pergi meninggalkan [Name].

[Name] terkekeh mendengar jawaban Kagami, dia terdiam dan menatap langit-langit kamarnya. Sakit kepalanya benar-benar mengganggu, ponselnya terus bergetar dia mengangkat kepalanya dan menatap ponsel miliknya di atas nakas.

[Name] merentangkan tangannya dan mengambil benda kotak itu. Begitu mendapatnya, [Name] melihat layar yang bertuliskan ‘Aki-nii calling’. Tanpa penundaan [Name] segera mengangkat telfon dari Akihiro.

Moshi, moshi... Aki-nii?” sapa [Name] masih dengan suara serak.

“[Name]? Kenapa dengan suaramu?” tanya Akihiro khawatir.

“Demam” jawab [Name] singkat. “Ada apa?” tanyanya.

[Name] bisa mendengar helaan nafas dari seberang telfon. “Tidak, kakak ingin bertanya apa benar alamatmu ada di daerah XXX, apartemen XXX?” tanya Akihiro.

“Ya, memangnya kenapa Aki-nii?” tanya [Name] semakin bingung.

“Tidak ada apa-apa. Beristirahatlah, jika ada apa-apa telfon kakakmu ini. Sampai jumpa [Name], kakak menyayangimu” ucap Akihiro kemudian memutus telfon mereka.

“Aki-nii?” panggil [Name]. Dia melihat layar ponselnya yang telfonnya sudah berakhir. “Ada apa ya? Kenapa tiba-tiba Aki-nii menanyakan alamatku? Tadi juga sepertinya aku juga mendengar dia ada di bandara. Apa jangan-jangan... ah tidak mungkin kan Aki-nii tiba-tiba ke sini. Mungkin aku salah dengar tadi” ucap [Name] meyakinkan diri sendiri.

[Name] kembali merasakan ponselnya bergetar, dia menerima lima pesan sekaligus. Dia membuka ponselnya dan membaca siapa si pengirim pesan. Kuroko, Kise, Midorima, Aomine dan Murasakibara. [Name] membuka satu per satu pesan mereka.

Everything About Us [KnB]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang