*warn, typo...
Ni chapter tidak ada di animenya, jadi beneran pemikiran author sendiri. Selamat membaca....
[Name] tertidur tanpa sempat mengganti pakaiannya yang basah, suara bel pintu terus berbunyi mengusik tidurnya. [Name] mengerutkan keningnya dan mengerjapkan matanya, dia perlahan duduk. Sakit kepala langsung menyerangnya, dia memegangi kepalanya yang terus berdenyut. Keringat membasahi bajunya, tubuhnya terasa lemas.
Pandangannya berputar, [Name] mencoba untuk bangun dari kasur. Dia hampir jatuh jika dia tidak sigap memegang gagang pintu kamarnya, kakinya melemah dan dia jatuh terduduk di lantai. [Name] menggelengkan kepalanya, menahan kepalanya yang terus berdenyut. Setelah mengumpulkan tenaga dia berdiri dan berjalan perlahan menuju pintu utama apartemen.
[Name] membuka pintu, Kagami yang mengenakan seragam berdiri didepannya dengan wajah seram. Begitu gadis itu mendongakkan kepalanya, wajah Kagami berubah khawatir. [Name] tersenyum lebar pada Kagami.
"Ada apa, Taiga?" tanya [Name]. Suaranya sedikit serak dan lirih.
Kagami diam dan langsung menyentuh dahi [Name] dengan tangannya, panas. Kagami mengerutkan keningnya, [Name] hanya menatap lelaki didepannya bingung. Merasakan kakinya kembali lemah, gadis itu bisa terjatuh lagi jika Kagami tidak menahan tubuh kecil itu. [Name] terbatuk kecil dengan nafas memburu. Kagami langsung mengangkat [Name] ala bridal style dan membawanya menuju kamar si gadis.
"Taiga?" panggil [Name] di sela-sela kesadarannya.
"Diam, sebenarnya aku ingin memarahimu karena mengganti password apartemenmu. Kau membuatku khawatir semalaman. Dan benar saja, kamu demam tinggi hari ini." ucap Kagami menidurkan [Name] dikasurnya dan menyelimutinya.
"Aku demam?" tanya [Name] menyentuh dahinya sendiri.
"Kau demam, tapi tidak bisa merasakannya. Dasar baka." ucap Kagami bersiap ke dapur untuk memasak bubur.
"Jika aku masih bisa sakit, berarti aku tidak bodoh. Bukannya kau mengatakan itu untuk dirimu sendiri?" goda [Name] masih tersenyum kecil.
"Urusai, [Name]. Diam di sini dulu." ucap Kagami berjalan pergi meninggalkan [Name]. Dia mengelus kepala gadis itu lembut, meski kata-kata yang diucapkannya kasar tindakannya selalu lembut pada gadis itu.
[Name] terkekeh kecil mendengar jawaban Kagami, dia terdiam dan menatap langit-langit kamarnya. Sakit kepalanya benar-benar mengganggu, ponselnya terus bergetar di nakas samping kasur. [Name] mengulurkan tangannya dan dengan susah payah meraih benda persegi itu. Begitu mendapatnya, [Name] melihat layar yang bertuliskan Aki-nii calling. Tanpa penundaan [Name] segera mengangkat telfon dari Akihiro.
"Moshi, moshi... Aki-nii?" sapa [Name] masih dengan suara serak dan lirih. Sesekali dia terbatuk kecil, tenggorokannya terasa kering dan panas.
"[Name]? Kenapa dengan suaramu? Kenapa kamu batuk?" tanya Akihiro khawatir.
"Demam." jawab [Name] singkat. "Ada apa?" tanyanya.
[Name] bisa mendengar helaan nafas dari seberang telfon. "Tidak, kakak ingin bertanya apa benar alamatmu ada di daerah XXX, apartemen XXX?" tanya Akihiro.
"Ya, memangnya kenapa Aki-nii?" tanya [Name] semakin bingung.
"Tidak ada apa-apa. Beristirahatlah, jika ada apa-apa telfon kakakmu ini. Minta Kagami-san menjagamu dulu sampai kakak di sana. Sampai jumpa [Name], kakak menyayangimu." ucap Akihiro kemudian memutus telfon mereka.
"Aki-nii?" panggil [Name]. Dia melihat layar ponselnya yang telfonnya sudah berakhir. "Ada apa ya? Kenapa tiba-tiba Aki-nii menanyakan alamatku? Tadi juga sepertinya aku juga mendengar dia ada di bandara. Apa jangan-jangan... ah tidak mungkin kan Aki-nii tiba-tiba ke sini. Terus kenapa bilang sampai kakak disana? Mungkin aku salah dengar tadi." ucap [Name] meyakinkan diri sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Everything About Us [KnB]
Acción[Name] akan pindah ke Amerika karena pekerjaan orang tuanya. Dia berniat pamit kepada para sahabatnya setelah pertandingan dan membuat kenangan indah bersama. Sampai akhirnya [Name] dikecewakan dengan sikap teman-temannya saat pertandingan. Dia meni...
![Everything About Us [KnB]](https://img.wattpad.com/cover/250810497-64-k956146.jpg)