Midorima Pov.
Suara kayuhan sepeda membawa gerobak dan suara milik Takao yang kehabisan tenaga memenuhi indra pendengaranku. Gerobak terus melaju dengan kecepatan tetap, aku duduk menyender sambil menikmati angin yang menerpa wajahku.
"Sial! Padahal kita sudah suit setiap melewati perempatan!" keluh Takao yang masih mengayuh sepeda sekuat tenaga.
Dari pinggir jalan, aku bisa melihat seorang anak kecil menatap kami dengan pandangan aneh. "Gerobak?" ucapnya pelan yang masih bisa kudengar.
"Tapi kau sama sekali belum mengayuh sepeda!" lanjut Takao masih mengomel.
Aku tersenyum penuh kemenangan, aku menoleh padanya dan kuangkat minuman kesukaanku, sup kacang merah merk Tsukiyo.
"Sudah pasti aku tidak akan mengayuh sepeda nanodayo. Karena acara ramalan bintang Oha-Asa pagi tadi mengatakan, bahwa hari ini adalah hari keberuntungan bagi yang berzodiak cancer sepertiku nanodayo." balasku masih menyeringai pada Takao.
Meski kutau Takao tidak akan melihat wajahku, kurasa dia tambah kesal dengan ucapanku. Aku pun menghiraukannya dan kembali meneguk minumanku.
"Memangnya ada hubungannya?" tanya Takao geram. "Selain itu karena kita sampai jauh-jauh datang kemari untuk menonton latih tanding, memangnya temanmu itu sekuat apa?"
"Pemain peniru dan pemain bayangan nanodayo." jawabku singkat.
"Apanya yang kuat?!" seru Takao kehabisan nafas.
"Pokoknya kayuh yang cepat, nanti pertandingannya keburu selesai nanodayo!" perintahku.
"Ini gara-gara kau kelamaan baca ramalan bintang kan!" balas Takao ngegas.
Aku menghiraukan Takao yang masih mengomel sambil mengayuh sepeda. Kuambil ponselku dan layar segera menyala. Aku bisa melihat foto seorang gadis yang tersenyum ceria denganku disampingnya. Seketika kepalaku dipenuhi ingatan tentangnya.
"Shin! Kenapa kau masih berlatih? Ini sudah malam." omelnya saat menemukanku masih berlatih shoot.
Aku menghentikan gerakanku dan menoleh padanya. "[Name]? Sedang apa kau di sini nanodayo?"
"Aku ingin mengecek gym sekali lagi sebelum menguncinya dan aku menemukanmu." ujarnya.
Aku hanya menatapnya dan mengabaikannya, aku kembali melemparkan bola ke dalam ring. Aku bisa mendengar langkah kakinya mendekat padaku. Begitu aku ingin mengambil bola untuk ku lempar lagi aku merasakan tangan mungil yang menggenggam erat tanganku.
"Uwaaa, lihat jarimu!" serunya. Dia memeriksa jari-jari tanganku yang sedikit membengkak.
"Aku baik-baik saja nanodayo. Tinggalkan aku sendiri, kau menggangguku nanodayo." ucapku cepat sambil memalingkan muka.
"Un, aku juga senang menemanimu. Kemarilah." jawabnya singkat dia menarik tanganku dan membawaku ke bench. Wajahku sudah memerah mendengar ucapan santainya.
"Tunggu di sini sebentar aku akan segera kembali." ucapnya meninggalkanku duduk di bench. Dia langsung berlari pergi, rambut silver pendek sebahunya dibiarkan tergerai bergerak leluasa mengikuti gerakannya. Tidak butuh waktu lama dia berlari kembali mendekap kotak P3K didadanya.
Aku bisa melihat peluh memenuhi dahinya, tanpa sadar dahiku mengerut saat melihatnya. Dia berdiri didepanku ngos-ngosan, dengan senyum lebar khasnya. Kuambil handuk yang ada disampingku, aku segera berdiri dan mengelap keringatnya.
"Apa perlu kamu berlari-lari seperti itu nanodayo? Kau bisa saja terjatuh, aku mengatakan ini bukan karena khawatir nanodayo. Tapi karena aku tidak mau kau repotkan nanodayo!" ucapku cepat dan menaikkan kacamataku yang tidak turun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Everything About Us [KnB]
Aksi[Name] akan pindah ke Amerika karena pekerjaan orang tuanya. Dia berniat pamit kepada para sahabatnya setelah pertandingan dan membuat kenangan indah bersama. Sampai akhirnya [Name] dikecewakan dengan sikap teman-temannya saat pertandingan. Dia meni...
![Everything About Us [KnB]](https://img.wattpad.com/cover/250810497-64-k956146.jpg)