04: Heterochromia

100 32 0
                                        

💎Happy Reading💎

💎🔮💎

"Nama saya Alea Beatrice Alinskie"

"Salam kenal"

Perkenalan singkat siswi berparas bule tersebut sontak membuat seisi kelas melongo.

Memiliki wajah cantik bak dewi yunani membuat semua gadis disana merasa iri dengki. Kulit putih pucat, wajah datar dan tak ada seulas senyum sedikit pun membuat siswi itu memberikan kesan aura dingin di sekelilingnya.

Namun tak hanya itu, bagian paling menariknya adalah sepasang bola matanya yang berbeda warna yang sering disebut heterochromia . Netra sebelah kanannya berwarna biru laut sedangkan yang kiri berwarna coklat hazel. Terkesan aneh namun indah.

Ghibran menoleh ke Cahyo yang masih memandang kecantikan Alea bahkan tanpa berkedip, lalu ia menepuk pelan bahu teman sebangkunya tersebut, "Hyo menurut lo bagian yang unik dari siswi baru itu apa? Yang sesuai dengan pesan misterius orang itu" tanyanya dengan pandangan tak beralih ke cewek itu. Dia sadar bahwa ada hati untuk mbak Ayu yang harus ia jaga.

"Mungkin wajahnya" jawab Cahyo asal dengan pandangan masih fokus ke depan, "dia mirip bidadari banget ya Ghib" pujinya sambil senyum-senyum sendiri.

"Lebay" cibir Ghibran cuek.

Di depan kelas, Bu Yanti yang merasa perkenalan Alea terlalu singkat padat dan jelas di tambah dengan wajah Alea terkesan tidak ramah membuat Bu Yanti merasa tidak enak pada murid Sains 2-1 lainnya. Dia ingin Alea berbasa-basi sedikit, "Alea, apa tidak ada yang ingin kamu sampaikan lagi ke teman-temanmu yang baru? Seperti darimana kamu berasal atau dimana tempat tinggal mu" tanyanya namun di balas jawaban singkat oleh Alea, "Tidak"

Bu Yanti menghela nafas. Pasrah jika ia harus menghadapi ketambahan seorang murid berjenis es kutub lagi. Jadi kalau di total kan, di kelas ini sudah terhitung ada 4 murid yang sejenis itu.

Bu Yanti menunjukan kursi kosong di depan meja Sehun dan Arkan, "Nah Alea, kamu duduk di samping Agus ya" instrukturnya disertai senyum yang tak kunjung pudar . Alea mengangguk begitu melihat arah jari telunjuk Bu Yanti kemudian berjalan menuju kursinya.

Pandangan Alea yang lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun ke arah murid-murid yang masih menatap lekat dirinya membuat di cap sebagai orang sombong. Banyak juga cibiran buruk yang tak sengaja di dengar olehnya. Toh, Alea sendiri juga tak berniat memiliki teman. Dia kesini hanya untuk suatu tujuan.

Ghibran kembali menatap Alea yang hendak berjalan melewati bangkunya. Entah ini mungkin suatu kebetulan, Maniknya dan Alea saling bertubrukan walau hanya sedetik. Kemudian Alea mengalihkan pandangan lagi lalu duduk di kursi kosong yang nyaris berada di paling belakang.

Ghibran yang memperhatikan postur tubuh belakang Alea yang memperlihatkan rambut hitam legam menjuntai menutupi sebagian punggung, merasa tidak asing dengan postur tubuh tersebut.

"Apa Alea si gadis halte itu" gumamnya ragu namun tak sengaja terdengar oleh Cahyo, "Hah? Lo ngomong apa Ghib?" tanya Cahyo penasaran.

"Kayaknya Alea itu cewe yang gue temuin di halte deh"

Netra Cahyo membelalak, "hah? Serius?"

EPIPHANY| Jeon Jungkook {On-Going}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang