🔮Happy Reading🔮
🔮💎🔮
"Psssttt...pak Bimo"
Seorang pria paruh baya mengenakan seragam khas security yang tengah menyeduh kopi hangat di pos tiba-tiba menghentikan aktivitas ketika melihat anak majikannya menyelipkan kepala di antara celah besi pagar besar tersebut sambil memanggil namanya dengan suara yang sengaja dipelankan.
"Pak Bimo" panggil pemuda itu sekali lagi dengan suara setengah berbisik seraya jari mengetuk besi pagar dengan pelan.
Pak Bimo keluar dari pos, "Loh den Ghibran, udah jam berapa ini? Kenapa pulangnya larut banget? Tuan dan Nyonya khawatir loh" namun suaranya tersebut terdengar agak keras hingga Ghibran menempelkan jari di depan bibir menandakan kode untuk memelankan suara.
"Pelan-pelan aja ngomongnya pak, takutnya kedengeran" sesekali mata Ghibran melirik pintu depan rumah buat berjaga-jaga seandainya ortunya keluar dari sana.
"Iya den" kini suara pak Bimo juga ikutan menjadi setengah berbisik, "kamu darimana aja? Kok pulangnya larut?" Tanyanya sekali lagi.
"Nanti dulu aja jawabnya pak" elak Ghibran, "ini bukain dulu dong gerbangnya tolong"
Pak Bimo menggeleng-geleng kepalanya namun dia menuruti perkataan Ghibran dengan membuka gembok dan menggeser pagar besar itu sedangkan Ghibran memundurkan kepalanya keluar dari celah pagar dan langkahnya menuju tempat moge terparkir kemudian menggiring motornya masuk ke dalam.
"Tapi nanti bilang ke Tuan dan Nyonya ya kalau den Ghibran udah pulang ,nanti takutnya saya yang kena marah terus dipecat" ujar pak Bimo ketakutan saat posisinya berpas-pas an dengan anak majikannya tersebut.
Ghibran nyengir, "tenang aja kok pak. Saya jamin bapak gak bakal dipecat okey" cowok itu tersenyum dan kembali menggiring motornya melewati halaman rumahnya yang lumayan luas. Sesampai memarkir motornya di depan garasi, cowok itu memasuki sebuah jalan sempit dimana jalan tersebut mengarah ke jendela kamarnya yang berada di lantai 2.
Ghibran berjalan ke tempat sebuah pohon besar yang ada di belakang rumah, salah satu ranting besar pohon itu menjalar ke arah dekat balkon kamarnya. Cowok itu mendongak ke atas dan perlahan kaki jenjangnya menempatkan di benjolan pohon yang kokoh sebagai pijakan. Setelah melalui beberapa benjolan dan paha yang pegal karena terus mencengkram batang pohon lalu dia melakukan pull up untuk menarik tubuhnya naik ke atas ranting besar mengarah balkon kamar.
Awal mulanya cowok itu berjongkok di atas dahan pohon dan berjalan merangkak mengikuti arus ranting. Karena jarak ujung ranting dan balkon mengikis sekitar 30 cm. Dengan nekat, cowok itu melompat dan lengan kekarnya bergelayutan di atas pagar besi. Kaki jenjangnya melewati atas pagar besi yang pendek dan sukses menginjak di atas lantai balkon.
Jari Ghibran menyempil di celah dan berhasil membuka jendela kamarnya dari luar. Cowok itu langsung melempar tas gendong ke atas ranjang dan membuka sepasang sepatu hitamnya. Dia melepas lelah dengan duduk di kursi depan meja belajar.
Kulit putih yang sangat basah karena tubuhnya dibanjiri oleh keringat. Ghibran nyaris melepaskan semua pakaiannya dan hanya menyisakan celana boxer warna merah bermotif karakter super hero favoritnya, iron man serta memamerkan perut sixpack yang terlihat menggoda bagi mata para kaum hawa.
Ghibran termenung sebentar. Mata cowok itu kemudian terpaku pada sebuah flashdisk yang tergeletak di dekat rak kaca kecil berisi peralatan tulis. Ingatan cowok itu tertuju pada isi flashdisk tersebut berisi data yang akan dicuri oleh hacker misterius saat dirinya menginap di rumah Mark. Tangannya meraih gagang laci besar dan menaruh sebuah laptop di atas meja kemudian menyalakannya. Flashdisk itu dimasukkan ke dalam lobang laptop yang sesuai. Dia menyalakan lampu belajar sembari menunggu laptopnya tengah loading.
KAMU SEDANG MEMBACA
EPIPHANY| Jeon Jungkook {On-Going}
Misteri / Thriller[AKAN DI REVISI SETELAH END] Ghibran Alvero Sanjaya, 17 tahun, seorang cowok populer se-antero 'SMA Garuda'. Memiliki paras tampan bak pangeran negeri dongeng, segudang bakat dan keluarga harmonis membuat semua orang yang mendengarnya merasa kagum d...
