61: Kill Or Die

12 6 0
                                        

❄️Happy Reading❄️

❄️☃️❄️

(Warning)

(Banyak adegan kekerasan di chapter ini)

Gelap dan sunyi.

Mendominasi suasana.

Ghibran menepi pada sisi tembok lalu tangan kekarnya meraba-raba tembok untuk mencari keberadaan letak saklarnya.

Selama kebingungan mencari tombol saklar tiba-tiba semua lampu menyala seperti semula.

Tidak ada yang aneh.

Namun.

Suara erangan, pekikan serta suara kaca yang digores oleh benda tajam berbunyi nyaring yang berasal dari lantai bawah.

"Arggggghhhhhh"

"KILL!!"

"BUNUH!"

"BUNUH DIA!"

"BUNUH!!"

Ghibran yang terkejut setelah mendengar suara-suara itu, segera mengintip keadaan lantai bawah dari atas tangga. Pemandangan mengerikan yang ia lihat membuat dirinya syok dan kakinya bergemetaran.

Semua orang di sana saling berebutan menggenggam pisau steak yang tersedia di atas meja lalu mereka membantai satu sama lain layaknya adegan tegang di dalam film thriller.

Cipratan demi cipratan cairan merah pekat mendominasi di tiap sudut ruangan serta lantai putih yang ternoda seiring banyak korban yang telah mati dibunuh.

Tak hanya dipenuhi oleh manusia-manusia yang saling membunuh. Ada pula beberapa orang yang mati sekarat dengan tubuh kejang-kejang dan mulut yang penuh berbusa putih seperti sedang keracunan.

Ghibran refleks memegang matanya sendiri ketika seorang cewek mengenakan rok mini yang berdiri dekat tangga terbunuh dengan matanya yang dicongkel paksa oleh pria berwajah sangar dengan tatto hampir di seluruh tubuhnya. Ghibran teringat kalau dia pernah melihat pria tersebut sebagai kang dj pesta.

Layaknya seorang kanibal, cowok sangar itu mengunyah bola mata milik gadis itu dan memakannya.

Dengan gerakan yang tak terduga, pria kang dj itu tiba-tiba menengok ke atas dan menyadari posisi Ghibran yang melotot ketakutan.

Pria kang dj itu tersenyum miring lalu dia menaiki deretan anak tangga ke atas sambil mengacungkan dua pisau steak untuk menghampiri Ghibran.

Lantas Ghibran segera beranjak dari posisinya yang tidak aman kemudian dia berlari sekencang mungkin ke arah toilet, ke tempat Cahyo ada di sana. Dia berharap semoga temannya itu tidak menjadi aneh seperti yang lainnya.

"Cahyo!!"

Langkah Ghibran terhenti begitu melihat cipratan darah di toilet dan jejak darah yang terseret di sepanjang lantai dari dalam toilet sampai ujung lorong yang mengarah menuju lantai 3.

Tuk... Tuk..

Suara sepatu yang semakin mendekat membuat pikiran Ghibran buntu kemudian ia masuk ke dalam toilet dan mengunci pintunya.

EPIPHANY| Jeon Jungkook {On-Going}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang