36: Teror Awal

48 9 0
                                        

💎Happy Reading💎

💎🔮💎

Pagi-pagi sekali, Jenny yang sudah mengenakan seragam sekolah beserta dengan atribut lengkap sedang menyisir rambutnya yang indah di depan cermin panjang hampir setinggi dengan tubuhnya. Tak lupa, dia menjepitkan rambutnya dengan jepitan warna kuning dengan kartun minion kecil sebagai hiasannya.

Setelah merasa percaya diri dengan penampilannya, Jenny mengambil topi yang ia taruh di atas meja makan dan mengenakannya di atas kepala. Dia melirik satu-satunya piring di meja makan dan mengambil satu sandwich yang tersisa setengah disana.

Cewek itu menaruh piring kotor tersebut di dekat wastafel bersamaan dengan piring kotor lainnya. Dia memasukkan satu suapan besar sandwich ke dalam mulutnya dengan lahap.

Jenny mengambil kunci motornya yang ia taruh di atas meja ruang tamu kemudian tatapan tajamnya melirik sinis mengarah ke rak sepatu di dekat pintu utama.

Langkah Jenny berjalan menuju rak sepatunya. Dia pelan-pelan mengambil sepatu kets warna hitam putih lalu ia membalikkan menghadap ke telapak sepatunya. Salah satu di telapak sepatu tersebut ada alat penyadap suara berukuran kecil yang pasti ditaruh oleh oknum yang mencurigakan.

Bibir tipis milik Jenny tersenyum miring seolah ia baru saja mendapatkan ide brilian. Dia menaruh pelan-pelan sepatu tersebut ke atas rak dan berpura-pura tak melihat alat penyadap itu.

Suara ketukan dari luar pintu cukup mengagetkan Jenny, "shit, siapa sih yang datang pas pagi buta begini?!"

Untuk berjaga-jaga, Jenny mengangkat gagang sapu di dekat pintu dan bersiap untuk memukul orang yang ada di balik pintu kamar kost-annya.

Satu... Dua... Tiga... -cewek itu menghitung dalam hati.

Selepas hitungan selesai, Jenny membuka pintu dan memukulnya pakai sapu sebagai senjata andalannya namun gagang sapu itu justru ditahan oleh orang itu.

"Jenny!!" Gadis berkulit putih pucat dan kedua bola matanya yang nyentrik itu kaget melihat pergerakan Jenny tiba-tiba hendak memukulnya dengan sapu. Untung dia sempat menahan gagang sapu itu yang hampir mengenai keningnya.

Jenny membelalak ketika orang yang ingin ia pukul adalah Alea. Lantas Jenny menarik kembali sapu itu dan memasukkannya ke dalam kamar kost-an.

Alea menautkan sebelah alisnya, "Lo mengandalkan sapu aja? Bagaimana kalau yang datang itu bukan gue melainkan psikopat hm?"

"Setidaknya lo beruntung kalau gue gak sodorin pisau tadi" Jenny melipat tangan di dada, "maaf tadi keceplosan bicara informal"

"Gapapa. Ngomong seperti biasa aja. Gak perlu memerhatikan usia gue yang lebih tua dari lo"

Jenny mengangguk-angguk, "omong-omong ada apa jam segini datang kesini?"

"Tindakan lo salah karena berburuk sangka pada Sehun"

"Apa?" Tanya Jenny tidak mengerti. Karena firasat Jenny mengatakan pembicaraan mulai menjurus ke arah serius. Jenny menutup rapat pintu kamar kost-annya agar pembicaraan ini bersifat rahasia dan tidak diketahui oleh oknum yang memasang alat penyadap di sepatunya. Dia menarik tangan Alea sedikit menjauh dari kost-annya.

Tindakan aneh Jenny mengundang tanya tanya di raut Alea hingga dia penasaran, "ada apa?"

"Lebih baik ngomong disini aja takut ada yang nguping"

Sekarang, Alea dan Jenny berdiri di pinggiran balkon paling ujung dimana posisi ini terbilang cukup jauh dari kamar kost yang urutan terakhir di lantai tersebut.

EPIPHANY| Jeon Jungkook {On-Going}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang