38: Untuk Terakhir Kali

49 10 0
                                        

💎Happy Reading💎

💎🔮💎

11 Mei 2017.

"Jadi ini bukan mimpi"

Gadis berkulit putih pucat itu menghembuskan nafas kasar selepas menonton berita yang ditampilkan di televisi perihal kejadian pembantaian brutal semalam.

Dia bangkit berdiri dari ranjang dan mengeluarkan ponsel dari saku rok untuk menghubungi cowok yang telah resmi menjadi kekasihnya itu.

Deretan notifikasi puluhan panggilan yang tak terjawab dari tantenya itu dan pesan yang masuk di aplikasi chat membuat gadis itu berdecak.

Dia mengabaikan notifikasi tersebut dan lanjut menghubungi kekasihnya.

Alea menunggu dengan cemas sambil berjalan mondar mandir dan menggigit-gigiti kuku jarinya.

Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, cobalah untuk sesaat lagi

Tidak cukup untuk melakukan sekali saja, Alea menelpon berpuluhan kali dan puluhan kali itu pula suara operator yang selalu menyahut panggilannya membuat gadis itu pun menyerah.

Alea memutar otak untuk mencari cara mengusut kasus itu tanpa melibatkan pihak berwajib dan juga ia bersumpah untuk menghukum pembunuh itu dengan tangannya sendiri.

Dia membersihkan badannya terlebih dahulu yang bau karena belum mandi dari kemarin. Setelah mempersiapkan diri dan mengenakan pakaian serba hitam, tangannya yang hendak meraih gagang pintu pun tertahan di udara saat menatap gagang pintu tersebut meninggalkan bekas sidik jari yang berukuran lebih besar dari punyanya.

"By the way, gue gak ingat bagaimana gue bisa pulang kesini" gumamnya bingung.

Sedetik kemudian, ia menggeleng kepalanya dan berusaha untuk tidak mempedulikan hal tersebut.

"Huh, bodo amatlah"

Alea menyampirkan tas selempangnya dan pergi ke tempat yang saat ini hinggap dipikirannya.

💎🔮💎

"Kamu darimana aja?!" Omelan dari wanita berumur sekitar 30 tahunan lebih itu mengomentari keponakannya yang baru saja tiba di pemakaman di saat suasana disana sudah terlihat sepi.

Gadis berkulit putih pucat dan memiliki kedua bola mata yang nyentrik itu mengabaikan omelan dari tantenya yang galak dan berjalan melewati wanita berumur itu yang masih mengeluarkan 1001 cipratan air liur keluar dari mulutnya.

Alea berlutut di samping batu nisan milik ayahnya dan menaruh kantong  yang berisi berbagai macam pucuk bunga yang sempat ia beli di penjual depan area pemakaman umum. Ia menebarkan pucuk bunga di atas gundukan tanah dan mulai mendoakan dengan menadahkan kedua telapak tangannya.

Tantenya Alea melipat tangan di dada sembari menunggu keponakannya selesai berdoa. Dengan kode jari tangannya, ia menyuruh kedua bodyguard berpakaian serba hitam  yang selalu mengawalnya itu untuk menunggu di dekat mobil dan membiarkan dirinya berdua saja dengan keponakannya itu.

Dengan jawaban anggukan cepat dari kedua bodyguard, mereka berdua melakukan apa yang disuruh oleh atasannya.

Beberapa menit terlewati, Alea bangkit berdiri begitu selesai berdoa. Dia menatap sendu pada batu nisan ayahnya dan batu nisan yang disebelah milik ibunya.

EPIPHANY| Jeon Jungkook {On-Going}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang