❄️Happy Reading❄️
❄️☃️❄️
Cklek
Merogoh saku, pemuda itu kemudian menyalakan fitur senter melalui ponselnya. Dengan langkah perlahan, dia memasuki bangunan sekolahnya yang besar dan luas namun sayangnya, kini sudah usang, terbengkalai dan tak terawat lagi.
Cahaya dari ponselnya, dia sorotkan pada tiap sudut dinding dan ruangan yang ia lewati.
Sesekali, dia menoleh ke belakang dengan was-was. Bukan apa-apa. Hanya saja, dia harus selalu bersikap waspada di tempat gelap dan sepi seperti ini. Apalagi malam ini, dia memiliki suatu janji dengan sekelompok orang yang berbahaya.
Dddrrttt...drrrttt...
Ponselnya kemudian bergetar dan menunjukkan pukul 10 malam tepat sesuai dengan alarm yang ia setel ulang sebelumnya.
Manik Ghibran tiada hentinya memicing waspada ke sekeliling.
Dimana mereka??
Prangggggg.....
"Anying"
Refleks Ghibran terkejut melihat pot bunga kaktus yang hancur lebur beserta kerikil warna-warni tergeletak berserakan dan sepucuk surat. Wait....
Tangan besarnya memungut sepucuk surat yang sangat ia kenali. Buru-buru dia membuka dan membaca isinya yang sesuai dengan dugaan.
Bahasa korea bertebaran dimana-mana. Ya, ini adalah surat dari Jenny, yang kekasihnya itu kirimkan kepadanya sebelum terjadi pengulangan waktu. Namun, kenapa surat beserta pot kaktus itu masih ada disini? Bukankah harusnya ada di depan apartemennya? Atau jangan-jangan....
Tanpa sadar, Ghibran meremukkan surat itu di dalam kepalan tangan besarnya. Gemas? Tentu iya. Pasti bos organisasi itu melakukan sesuatu pada Jenny.
Kampret....
"Jen...argh"
Erangan Ghibran menggelegar di tengah tempat yang sunyi. Entah datang darimana, dua orang berpakaian serba hitam sedang berdiri di belakang, langsung menendang tulang keringnya.
Menahan sakit, Ghibran jatuh terduduk. Kemudian orang misterius itu mengangkat paksa cowok itu untuk bangkit, "bangun!!" . Bersamaan, dia dan temannya menodongkan pistol ke kepala Ghibran, sontak pemuda itu hanya bisa pasrah dan mengangkat kedua tangannya di atas kepala.
"Dimana bos kalian?" Tanya Ghibran dengan pandangan lurus ke depan, tidak berani menoleh ke lawan bicara yang tengah menodongnya dengan senjata.
Dua orang itu tidak menghiraukan pertanyaan dari Ghibran, "cepat jalan!!" Suruh salah satu dari orang berbaju hitam sembari menekankan ujung pistol nan dingin ke kepala Ghibran.
Cowok itu menghela nafas panjang, dia tidak bisa melawan, terpaksa menuruti perkataan mereka.
❄️☃️❄️
"Gak usah dorong juga njir!!" Protes Ghibran setelah mendapatkan perlakuan kasar dari kedua orang brengsek itu.
Ghibran mendapati dirinya tengah duduk bersimpuh di rooftop, satu-satunya tempat favorit Ghibran selama bersekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
EPIPHANY| Jeon Jungkook {On-Going}
Mistero / Thriller[AKAN DI REVISI SETELAH END] Ghibran Alvero Sanjaya, 17 tahun, seorang cowok populer se-antero 'SMA Garuda'. Memiliki paras tampan bak pangeran negeri dongeng, segudang bakat dan keluarga harmonis membuat semua orang yang mendengarnya merasa kagum d...
