59: Penyesalan

27 7 0
                                        

❄️Happy Reading❄️

❄️☃️❄️

"Aku yakin Sehun pasti akan lebih cepat pulih. Tante, jangan nangis terus okey?!"

Arkan terlihat pasrah melihat ibunya Sehun menangis sesenggukan sambil meratapi putranya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

Bagaimana tidak sedih? Setelah kematian suaminya kini selang beberapa minggu kemudian menyusul Sehun yang terbaring sekarat dalam keadaan koma.

Musibah yang dialami oleh dua orang tercinta membuat wanita paruh baya itu rapuh. Selaku orang yang mengenal keluarga Sehun sejak lama membuat Arkan merasa simpati dan terdorong untuk menemani wanita itu di rumah sakit sampai Sehun siuman.

"Hiks.... Hiks.... Se...Sehun"

Arkan membiarkan kepala wanita paruh baya itu bersandar di bahunya sambil melakukan segala upaya agar bisa menenangkannya.

"Jangan sedih, tante. Sehun sedang berjuang melawan rasa sakitnya. Aku yakin dia orang yang sangat kuat. Kalau Sehun kuat maka tante juga harus kuat, benar kan?"

Ibunya Sehun mengangguk lemah. Kepalanya menyingkir dari bahu Arkan. Matanya yang sembab fokus menatap Sehun yang dikelilingi oleh selang infus.

"Nak Arkan. Kamu emang gak mau pulang? Pulang gih!! Hari sudah malam!! Nanti dicariin sama bapak kamu" nasihat wanita itu tanpa beralih pandangan dari anak semata wayangnya.

Tok.... Tok....

Suara ketukan yang berasal dari pintu kaca buram di ruang rawat Sehun membuat Arkan was-was. Dia khawatir jika sosok orang mencurigakan apalagi dalang yang menembak Sehun seperti yang diceritakan oleh kawan-kawannya tiba dan berniat ingin membunuh Sehun.

Siap siaga serta waspada, Arkan berjalan pelan. Dia berdiri menjaga jarak dari pintu dan tangannya yang terulur, memegang handle pintu yang dingin lalu membukanya.

"Hoy... Ada apa?" Tanya cowok yang ada dibalik pintu itu heran melihat tingkah Arkan yang aneh.

"Gapapa" Arkan menghembuskan nafas lega, setidaknya cowok di depannya ini bukanlah dalang penembakan itu sesuai perkiraannya, "lo ngapain disini, njun?"

Renjun mengangkat bahu. Dia asal nyelonong masuk ke dalam lalu menaruh keranjang berisi buah-buahan segar yang ia bawa di atas nakas.

"Eh apa ini? Gak usah repot-repot nak" tolak ibunya Sehun tidak enak menatap Renjun yang menaruh keranjang buah-buahan di dekatnya.

"Rejeki jangan ditolak tante. Ini pemberian dari ayah. Tante, jangan sampai lupa makan ya!! Tetap jaga kesehatan" Renjun beralih menengok abangnya yang terdiam di dekat pintu, "bang! Kata ayah disuruh ke rumah dulu!! Biar giliran gue yang jaga bang Sehun disini"

"Loh ada apa emang?"

"Mana gue tau"

"Nak Renjun.. nak Arkan!! Mending kalian berdua balik barengan aja. Biar saya yang jaga sendirian saja"

"Jangan!! Kalau ada orang mencurigakan yang datang gimana?!" Sanggah Arkan tidak setuju, "biar Renjun aja yang jaga disini!"

"Njun!! Tetap fokus dan jaga dengan baik oke?!" Suruh Arkan menitip pesan pada adiknya.

Renjun menaikkan sebelah alisnya yang tidak tahu apa-apa dibalik sikap protektif Arkan, "apa deh? Berasa lagi jagain markas tentara aja. Takut ada serangan teroris"

"Udah njir. Gak usah bawel. Gue pamit ye"

"Hm"

❄️☃️❄️

EPIPHANY| Jeon Jungkook {On-Going}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang