33: Hujan

47 8 0
                                        

💎Happy Reading💎

💎🔮💎

Ghibran berdiri di depan gerbang perumahan elit dengan kepalanya meneleng ke kanan dan kiri memperhatikan jalanan raya besar yang dilalui banyak kendaraan beragam jenis.

Tangan cowok itu melambai memberhentikan mobil taksi yang ingin lewat.

Taksi biru itu berhenti di depan Ghibran serta sang supir yang keluar menghampiri cowok itu, "itu kopernya mau diangkut kan dek?" Tawar si supir menyunggingkan cengiran di bibirnya.

"Ah iya pak" Ghibran menunduk melihat satu koper besar hitam di sampingnya yang sebelumnya ia bawa dari rumah orang tua angkatnya. Koper itu berisi pakaian dan segala barang kebutuhan mengingat sekarang ia tidak lagi tinggal di rumah itu.

"Di taruh di bagasi ya pak" lanjut Ghibran memberitahu ke si supir sedang mengangkat koper miliknya yang lumayan berat itu. Cowok itu membuka pintu belakang taksi dan masuk ke dalamnya.

Ghibran menarik nafas udara dingin dari air conditioner dan perlahan menghembuskannya. Cowok itu meregangkan seluruh otot tubuhnya mulai terasa pegal dan kepalanya menyender ke sisi jendela mobil yang tertutup.

Ekor mata Ghibran melirik ke awan mendung yang menandakan hujan deras mungkin akan muncul sebentar lagi.

Otak Ghibran yang masih memikirkan permasalahan keluarganya, sudah cukup membuat raganya merasa lelah dan ingin beristirahat.

Sementara itu, si bapak supir kembali masuk ke dalam taksi, "mau kemana dek?"

Ghibran mengeluarkan ponsel dari saku seragam dan menyalakannya. Dia membaca alamat yang tertera di dalam ponsel mengenai tempat tinggal barunya itu.

"Ke Everdeen Apartemen pak"

Si bapak supir mengangguk-angguk seolah ia tahu tempat tersebut, "oke"

Supir yang ditumpangi Ghibran pun melaju menyusuri jalanan Jakarta yang lumayan padat tapi tidak macet.

10 menit berselang, jalanan Jakarta tidak sepadat seperti tadi dan aspal jalan berubah menjadi licin ketika ribuan guyuran hujan dari langit jatuh ke permukaan bumi.

Mata Ghibran melirik pemandangan luar melalui jendela yang berembun sembari menikmati musik yang disetel oleh si bapak supir. Alunan musik yang tenang dan syahdu membuat beban pikiran Ghibran seolah menguap begitu saja seperti asap hitam yang diterpa oleh angin kencang.

Hampir saja mengantuk, kelopak mata Ghibran terbuka lebar dan punggungnya kembali ditegakkan begitu netranya melihat punggung seorang cewek yang berpakaian persis dengannya. Dia sedang berjalan di atas trotoar dan tubuhnya yang  basah kuyup akibat menerobos di bawah guyuran derasnya air hujan.

Saat taksinya berpas-pasan dengan cewek itu sontak Ghibran membelalak karena cewek yang menggigil kedinginan itu adalah seorang yang sangat dikenalnya.

"Pak berhenti sebentar pak" ujar Ghibran panik sambil memukul jok bangku depan dengan tatapan fokus menoleh ke belakang begitu taksinya sudah melewati cewek itu.

Melihat Ghibran yang panik sontak si bapak supir mengerem mendadak. Setelah mobil biru itu berhenti, Cowok itu langsung keluar dari dalam mobil dan mendekati gadis yang ingin ia hampiri.

"Jenny!!"

Akibat terlalu lama kehujanan membuat kepala Jenny sempoyongan dan tatapan matanya jadi memburam namun indra pendengarannya menangkap dengan jelas suara cowok yang mulai mengisi lembaran hidupnya akhir-akhir ini.

EPIPHANY| Jeon Jungkook {On-Going}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang