Happy Reading!
-----•••-----
Sunny sontak bangun dari tidurnya. Gadis itu membelalak dengan napas tak beraturan. Keringat membanjiri pelipisnya, rasa sakit tiba-tiba menjalar di sekujur kepala gadis itu, membuat Sunny memaksakan diri untuk menegakkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Pandangannya yang buram perlahan menjadi jelas. Dengan kening mengerut, Sunny memandang sekelilingnya, ruangan itu terlihat asing.
Gadis itu kemudian beralih menatap tangan kirinya yang diperban dengan sebuah selang yang tergantung dari atas kepalanya, seketika Ia sadar kalau sedang berada dirumah sakit sekarang.
Sunny menyadarkan punggungnya dengan lesuh. Gadis itu berdecih samar, baru saja Ia berharap kalau semua yang dilihatnya tadi hanyalah mimpi. Namun keadaannya sekarang seakan mengatakan kalau semuanya adalah nyata.
Bayangan kenangannya dan Rowena seakan berputar didepannya, bayangan Rowena yang selalu menangis didepannya, bayangan Rowena yang selalu pura-pura terlihat bahagia, bayangan Rowena yang selalu mengeluhkan keharmonisan keluarganya juga seakan ikut mengalun didepannya.
Sunny meremas selimutnya dengan keras, berusaha menjaga pertahanannya agar tidak runtuh saat ini. Namun sekeras apapun usahanya, cairan bening itu kembali menetes. Tak ada yang berbeda bahkan saat Ia menutup mata. Bayangan Rowena yang terjatuh dari jembatan terus mengalun bahkan dalam mimpinya. Kenyataan itu benar-benar menyiksa batinnya, membuatnya semakin menjadi kacau.
Dalam ruangan sepi itu Sunny terisak, meluapkan segala kepedihan yang mungkin tak akan pernah redah dalam batinnya. Semua ini mungkin akan membekas dalam pikirannya dan mungkin akan membuatnya membenci keadaan ini seumur hidupnya.
Tak ada yang bisa Ia lalukan sekarang, bahkan untuk mendengar kabar Rowena sekalipun. Sunny belum siap untuk kehilangan gadis itu. Baru saja Ia berpikir untuk membantu gadis itu, namun semuanya seakan hilang dan tak tersisa.
Ditengah isakkannya, pintu kamar itu terbuka. Mega yang baru saja berdiri didepan pintu lansung berlari kerarah Sunny kemudian membawa gadis itu dalam pelukkannya.
"Sunny tenanglah," Lirih Mega
Sunny tak kunjung meredahkan tangisannya membuat Mega hanya mampu membungkam. Ia tahu perasaan putrinya saat ini.
"Sunny tenanglah." mungkin hanya itu yang bisa Mega katakana sekarang ini. Rasa bersalah dalam dirinya seakan menahan semua kata untuk keluar dari mulutnya. Ia pikir Sunny akan membecinya saat ini karena dirinya dan Edwin yang menjadi awal masalah ini.
"Ma,..." lirih Sunny
"Kenapa sayang?"
"Rowena, Rowena..." kata-kata itu seakan sulit untuk diucapkan hingga Sunny harus kembali berakhir dengan semakin terisak keras.
"Tenanglah Sunny." Mega membelai surai putrinya dengan lembut.
"Mama Rowena, Rowena..."
Mega melerai pelukannya, kemudian menatap putrinya. Sunny sangat kacau sekarang.
Mega menghapus pelan air mata Sunny kemudian sedikit tersenyum pada gadis itu.
"Jangan khawatir, Rowena baik-baik saja." ujar Mega sambli membelai pipi Sunny.
Sunny langsung terdiam dari tangisnya. Gadis itu menatap Mega penuh tanya.
"Kamu gak percaya sama mama?"
Sunny hanya membungkam, namun besar harapan dalam hatinya agar ucapan wanita itu adalah nyata.
"Lihat ini," Mega membuka gorden besar disampingnya yang membatasi tempat tidur Sunny dengan tempat satu pasien lainnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
KPOPERS VS. ANIMERS [END]
Teen FictionBertemu seorang cowok dingin di koridor kelas 11 merupakan hal yang tak pernah di inginkan oleh seorang Kanaya Sunny Arabella. Apalagi pertemuan mereka harus berawal dengan Sunny yang tak sengaja menampar wajah cowok dingin itu. Gelagat cowok itu b...
![KPOPERS VS. ANIMERS [END]](https://img.wattpad.com/cover/170154644-64-k10658.jpg)