60. Terlalu Menyakitkan

57 9 13
                                        

Happy Reading!
-----•••-----

Rayn menghentikan langkahnya didepan Claudy yang sedang terduduk lesuh. Cowok itu tak langsung menghampiri Claudy, masih setia ditempatnya berdiri didepan gadis itu dengan sorot mata penuh tanya.

Menyadari kehadiran cowok itu, Claudy hanya mendongak sekilas kemudian melihat pintu putih putih didepannya yang setengah terbuka.
Seketika gadis itu langsung menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan tangisannya dari Rayn.

Rayn mengetahui itu, mengetahui gadis didepannya sedang menangis dalam diam sembari berusaha menahan gejolak dalam hatinya agar tetap terlihat tegar.

Cowok itu langsung duduk di samping Claudy dan tanpa berucap menepuk lembut pundak gadis itu.

"Maaf, gue gak tahu mau telepon siapa lagi, " lirih Claudy.

"Gak apa-apa, " balas Rayn

"Lo pasti sibuk banget ya?"

Rayn menggeleng "Gak."

Tadi Ia berada dirumah Reagive dan berencana untuk ke rumah Sunny setelah itu. Namun baru saja cowok itu keluar dari rumah Reagive, telepon dari Claudy mengagetkannya.

Rayn semakin dikagetkan saat Claudy hanya terisak dan tak berbicara sedikitpun dalam panggilan itu. Akhirnya cowok itu langsung memutuskan sambungan sepihak dan secepat mungkin mengendarai motornya ke rumah sakit  tempat Claudy berada sekarang.

"Gimana ayah lo?"

Claudy menggeleng samar "Dokter bilang cuma efek samping operasi, tapi kenapa separah itu ?"

"Ayah lo bakal baik-baik aja."

"Benaran?"

Rayn terlihat bimbang untuk menjawab, namun cowok itu mengangguk pelan, setidaknya ini bisa membuat Claudy masih punya sedikit harapan. Rayn juga merasakan kekhawatiran yang sama, hanya saja cowok berusaha untuk tetap terlihat kuat, karena hanya ada dirinya disana. Satu-satunya harapan Claudy untuk bersandar.

"Yakin aja," tutur Rayn

Suasana seketika kembali hening. Rayn dan Claudy sama-sama membungkam sambil sesekali melirik ke depan memastikan semua yang ada di balik pintu baik-baik saja.

Rayn menyandarkan punggungnya di tembok, sambil menatap kosong pintu didepannya. Cowok itu menyusuri pikirannya, mengaitkan berbagai hal yang akhir-akhir ini mengganggunya. Beberapa hari ini Ia merasa aneh dengan dirinya, merasa ada sesuatu yang berbeda dari perasaannya, terutama sikapnya pada Claudy.

Harusnya Ia tak kesini sekarang. Rayn masih punya cukup banyak alasan untuk menghindar dari Claudy. Kenyataan Ia berada disini sekarang, menemani bahkan menguatkan gadis itu. Ini bukan pertama kalinya, sudah beberapa hari gadis itu meminta untuk ditemani dan selalu saja Rayn menyetujuinya tanpa ada penolakan seperti yang sebelum-sebelumnya.

Lama Ia bergelut dengan pikirannya, akhirnya Rayn paham. Sepertinya Ia mulai peduli pada Claudy. Mulai bersimpati pada alur hidup gadis itu.
Lalu kemana rasa bencinya pada gadis itu? kemana rasa tak sukanya pada Claudy yang terlihat mendara daging diawalnya? Rayn pikir semua rasa itu telah lenyap tanpa Ia sadari,  seakan tandas setelah melihat kerapuhan Claudy.

Persetan dengan sikap keras kepala dan ambisi Claudy, yang Rayn pikiran sekarang adalah bagaimana bisa membuat keadaan menjadi normal kembali tidak bagi dirinya tapi juga bagi Claudy dan keluarganya.

Rayn melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangannya. Sudah pukul 18. Sepertinya Ia tak lagi sempat mengunjungi Sunny nanti.

Pintu didepan mereka perlahan didorong. Rayn dan Claudy serentak berdiri saat  beberapa pria berjas putih dan beberapa perawatan keluar dari ruang inap ayah Claudy.

KPOPERS VS. ANIMERS [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang