Happy Reading!
-----•••-----
"Kamu gak ke sekolah Rayn?" wanita itu memandang bingung pada Rayn yang tak kunjung beranjak dari depan televisi meski waktu telah menunjukkan pukul 1 siang.
Rayn terdiam, berpikir keras bagaimana cara memberitahukan bunda Soya kalau dia diskors mulai hari ini.
"Rayn kamu bolos ya? atau sekolah yang lagi libur? " desak bunda Soya
Rayn masih membisu, otaknya sibuk memikirkan cara terbaik untuk menjawab bundanya.
Wanita itu menggeleng "Gak mungkin libur, inikan masih hari kamis.”
Bunda Soya langsung menarik lengan baju Rayn, menatap tajam putranya
"Jangan pura-pura tuli kamu. Jawab bunda kenapa gak ke sekolah,"
Rayn sedikit mantap bunda Soya kemudian menggaruk kepalanya yang tak gatal. Jika sudah ditatap seperti itu, tak ada lagi celah untuk berbohong sekarang.
"Kamu buat masalah?" pekik bunda Soya membuat Rayn menelan salivanya susah payah. Bagaimana bisa wanita itu menebak secepat itu, padahal belum juga Rayn membuka mulutnya.
Perkiraan seorang ibu memang selalu tepat sasaran. Tak pernah meleset, Rayn bahkan sukses dibuat membeku karena pekikan tadi.
"Benar? kamu buat masalah makanya di skors? iya kan?" wanita itu sedikit melotot pada Rayn.
Rayn hanya mengangguk, tak berani berucap meski hanya sekata.
"Dasar anak nakal." bunda Soya menjitak kuat kepala Rayn.
"Bagus ya, bunda pikir kamu belajar ternyata berulah. "
"Maaf bunda." lirih Rayn
"Memangnya kamu ngapain sampai diskors? berapa lama? habis dapat hukuman apa lagi? kenapa gak kasih tahu bunda? "
"Tanya satu-satu bunda."
"Jawab,"
Rayn menarik napas berat kemudian mulai menceritakan kejadian kemarin. Mulai dari Sunny yang diolok sampai namanya yang dibawa-bawa
"Cuma bicara gak olok juga kan?"
"Tapi Rayn gak suka kalau nama Rayn dibawa-bawa."
Seketika mata wanita itu menyipit, memandang putranya dengan sorot penuh kecurigaan. Rayn adalah putranya dan Ia tahu bagaimana sikap anaknya itu. Tak pernah sedikitpun Rayn terlepas dari pantauannya, membuat wanita itu paham betul bagaimana hubungan Rayn dengan orang-orang disekitarnya.
Beberapa saat kemudian wanita itu mengangguk paham.
Sepertinya dugaan kali ini akan benar, Ia sangat mengerti bagaimana putranya itu. Rayn tak akan pernah ambil pusing meskipun namanya diolok atau dibicarakan orang lain. Ia tahu putranya itu lebih memilih untuk tidur atau melakukan hal lain ketimbang harus membuang-buang waktunya untuk orang yang tak penting.
"Yakin karena nama kamu di bicarain?"
Rayn mengangguk mantap
"Bukan karena hal lain kan?"
"Hal lain apa? gak ada kok."
Bunda Soya mendekati Rayn
"Yakin?"
"Iya yakin."
"Bunda gak percaya, Rayn."
"Memangnya kelihatan kayak karena hal lain?"
"Iya, gak mungkin anak bunda marah cuma karena alasan sepele itu."
"Bunda-..."
"Kamu marah karena Sunny kan?"
Rayn bungkam seketika.
KAMU SEDANG MEMBACA
KPOPERS VS. ANIMERS [END]
Roman pour AdolescentsBertemu seorang cowok dingin di koridor kelas 11 merupakan hal yang tak pernah di inginkan oleh seorang Kanaya Sunny Arabella. Apalagi pertemuan mereka harus berawal dengan Sunny yang tak sengaja menampar wajah cowok dingin itu. Gelagat cowok itu b...
![KPOPERS VS. ANIMERS [END]](https://img.wattpad.com/cover/170154644-64-k10658.jpg)