57 | I Can't Run Away

90 11 3
                                        

temen-temen maaf banget kalo aku jarang update huhu tapi akhir-akhir ini aku dapet suntikan  semangat lagi buat cepet ngelarin Love Blossom ><

semoga sebelum Desember udah berhasil tamat yaa ><

jangan lupa dengerin Davichi juga biar lebih menghayati perasaan Nari :')



"Minumlah selagi hangat," kata Wonu setelah meletakkan segelas teh hangat di samping tubuh Nari yang masih duduk di teras belakang rumahnya. Pada akhirnya, Nari menuruti permintaan Wonu untuk menginap semalam di rumahnya.

Nari enggan menoleh. Tatapannya terasa kosong diikuti dengan air matanya yang terus menetes. Mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus menghadapi kenyataan pahit ini. Kenyataan paling pahit yang pernah ia terima, dan jauh lebih sakit dibanding diselingkuhi Mingyu. Entah bagaimana bisa laki-laki yang akhirnya bisa membuatnya luluh itu ternyata saudara kandungnya sendiri. Laki-laki yang selalu ada untuknya selama ini, ternyata adalah keluarganya, yang bahkan tidak pernah ia ketahui.

"Kenapa aku?" tanya Nari tiba-tiba.

Wonu menoleh, "Apa maksudmu?"

"Ada banyak orang di muka bumi ini, tapi kenapa harus aku?"

Wonu diam.

"Kenapa harus aku yang menyukaimu sedalam ini?"

"...."

"Sedikitpun tidak pernah terbersit di pikiranku jika kau ternyata saudara kandungku. Bahkan aku pikir itu hanya ada di dalam drama. Jika sudah begini apa yang harus aku lakukan?" Nari kini menoleh Wonu yang masih menatapnya penuh arti. "Aku mulai bisa membuka hati dan memperbaiki hidupku berkatmu. Hari demi hari kulalui dengan perasaan yang lebih baik, tapi jika sudah begini apa yang harus kulakukan, Wonu-ya? Apaaa?!!!" jeritan Nari membuat Wonu menundukkan pandangannya.

"Aku tidak pernah meminta hidupku seperti ini. Aku sudah cukup dengan semuanya, aku tidak minta apa-apa lagi. Lebih baik aku tidak pernah tahu siapa dirimu sebenarnya." Tangisan Nari semakin menjadi-jadi. Gadis itu sudah tidak kuat lagi menahan perasaan yang begitu menyakiti hatinya. "Wonu-ya, katakan, kita harus bagaimana?!!"

Wonu merengkuh tubuh Nari kedalam pelukannya, membuat gadis itu semakin hilang kendali. Suara tangisannya memenuhi seluruh ruangan didekatnya, sedangkan Wonu hanya bisa memeluknya semakin erat, seolah tidak akan membiarkan gadis itu pergi meninggalkannya. "Maafkan aku." Hanya itu yang keluar dari bibir Wonu yang diselingi tangisnya.

Hujan mulai turun lagi begitu kedua anak manusia itu menyudahi tangisannya, seolah langit ikut menangisi takdir yang mendatangi mereka. Wonu dan Nari kembali diam pada lamunannya masing-masing, hingga akhirnya Wonu memberanikan diri untuk mengucapkan sesuatu.

"Jujur, aku tidak bisa hidup tanpamu," ucap Wonu pelan. "Terlepas dari ini semua, aku sangat sangat mencintaimu. Tulus. Aku tidak pernah merasa seputus asa ini setelah kepergian Ayah dan Eunji. Begitu aku bertemu denganmu, dan menjalani hari, aku merasa sangat yakin jika kau memang takdir Tuhan yang dikirim untukku. Untuk merubah hidupku."

"Wonu-ya,"

"Hari-hari musim semi yang kulewati bersamamu sangat indah, sampai aku lupa jika aku pernah membenci musim itu. Musim dimana aku kehilangan Ayah dan Adikku disaat bersamaan. Namun begitu kau hadir dalam hidupku, kau membuatku mulai menyukai semuanya." Wonu tersenyum getir.

"Ayo akhiri semuanya disini," kata Nari setelah menghela nafas berat. "Sekuat apapun aku berusaha, aku tetap tidak bisa memikirkan bagaimana akhirnya nanti." Dengan cepat Nari mengusap kedua matanya yang mulai berkaca-kaca. "Wonu-ya, kita tidak mungkin melanjutkan ini, bukan?"

Nari bangkit dari posisinya. "Aku akan tidur lebih dulu," katanya lalu berbalik.

Wonu menahan tangan Nari lalu ikut berdiri di hadapan gadis itu. "Kau akan meninggalkanku juga?" tanyanya dengan tatapan nanar.

"Lalu apa setelah ini kau juga akan pergi dari hidupku, seperti Ayahku dan Eunji?" desak Wonu.

"Wonu-ya,"

"Kau tidak bisa seperti ini padaku, Nari-ya." Nada suara Wonu melemah. Genggaman tangannya pada salah satu tangan Nari semakin kuat. Hatinya diliputi perasaan takut yang semakin besar. Separuh hidupnya sudah berjalan dengan sangat baik sejak bertemu Nari. Ia selalu berpikir jika Nari adalah seseorang yang dikirim Tuhan kepadanya untuk menggantikan posisi Ayahnya dan juga Eunji. Untuk mengobati rasa sakit hatinya dan juga rasa sesalnya yang begitu dalam selama ini. Pikiran Wonu memang tidak salah, namun Tuhan mengirimkan Nari bukan sebagai wanitanya, melainkan mempertemukan dengan saudara kandungnya yang sudah berpisah puluhan tahun.

"Terakhir kalinya aku akan berbicara seperti ini padamu. Dengarkan aku dan jangan mengucapkan apapun," ucap Nari dengan nafas berat.

"Aku sangat sangat sangat menyayangimu, dan kau tahu itu, sayang. Aku selalu ingin kau sehat dan terus hidup bahagia selamanya. Maafkan aku jika masih belum menjadi kekasih yang baik untukmu, bahkan hanya menyusahkanmu. Kau tahu perasaanku sangat tulus padamu. Kau tahu semuanya tentangku, begitupun sebaliknya. Aku akan berdoa dan memohon yang terbaik untukmu." Nari mendongakkan wajahnya. Menatap kedua mata Wonu lekat-lekat. "Aku mencintaimu, sayangku," ucapnya lantas mengecup pelan bibir Wonu.

"Nari-ya," panggil Wonu pelan begitu Nari melepaskan tautan bibirnya.

"Tidak bisakah kita seperti ini saja?" tanya Wonu dengan kedua mata berkaca-kaca lalu menarik pinggang Nari ke dalam pelukannya.

"Aku mohon jangan pergi," pinta Wonu lalu mengecup bibir Nari. Kedua tangannya memeluk erat pinggang gadis yang terus menangis di hadapannya itu, seolah tidak akan melepaskannya apapun yang terjadi. Sedangkan Nari justru mengalungkan kedua tangannya pada leher Wonu.

Blaaarrr...

Suara petir menggelegar. Hujan kembali mengguyur dengan derasnya dan hari semakin gelap. Wonu dan Nari tidak bereaksi sama sekali ketika bunyi yang memekakkan telinga itu terdengar. Mereka tidak bisa membohongi perasaannya masing-masing, meski tahu takdir seperti apa yang sudah menghantamnya. Pada dasarnya, mereka sadar jika apa yang dilakukannya ini sudah melewati batas dan salah besar, namun perasaan cinta sudah membuat mereka buta, hingga akhirnya berbuat lebih jauh.

Love BlossomCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang