Berbeda

65 6 0
                                        

Sore hari jam 3 kurang aku sudah siap mandi, sengaja cepat biar gak kelabakan dan agak santai pergi kerjanya. Sekarang aku sedang mengeringkan rambut dengan hair dryer , tapi belum kering sempurna tiba-tiba bi Tami mengetuk pintu. 

"Masuk, bi." mintaku lalu kepala bi Tami nimbul dari balik pintu. 

"Ada tamu, kak."

"Siapa bi?" 

"Biasa. Cowok ganteng." jawab bi Tami lalu beranjak pergi.

Aku tersenyum mendengarnya, karena yang datang adalah Rava. Kebiasaan bi Tami sejak dulu, kasih Rava dengan julukan cowok ganteng. Ya karena wajah Rava memang ganteng, aku saja diam-diam mengakuinya. Bi Tami dan Rava sudah sering bertemu, mereka bahkan cukup dekat. Itu karena bi Tami yang sering terima tamu di rumah ini dan Rava yang sering datang berkunjung. 

Rumahku dan Rava itu berada dalam satu gang. Jaraknya cuma lima rumah saja, bukan lima langkah dari rumah. Rumahku yang duluan dapat kalau dari depan, sedang rumah Rava sedikit kebelakang tapi gak sampai ke gang paling ujung. 

Aku cepat-cepat menghampiri Rava karena gejolak rindu yang tertahan mendobrak ingin cepat bertemu. "Hai. Kok gak masuk?" 

Tapi aku dibuat heran karena tidak mendapatkan Rava di ruang tamu, jadi aku berjalan keluar. Pertanyaanku terjawab sendiri begitu melihat Dira juga duduk dikursi teras. Pantaslah kalau Rava gak langsung masuk, rupanya dia bersama pacarnya. Kesenangan di hati mendadak jadi kekesalan. Memangnya kalau pacaran harus banget ya berdua terus? Seperti permen karet yang nempel dicelana waktu SD karena teman-teman yang jail. Gak bisa lepas! 

Tapi aku tidak bisa tunjukkan kecemburuan secara langsung. Hal itu malah bisa berujung merugikan diriku sendiri. Karena bisa membuat Rava jadi kecewa, marah, dan gak mau lagi sahabatan sama aku. Memang ya, kalau persahabatan sudah main perasaan malah jadi berantakan. Harusnya sejak awal aku sadar posisiku di hidupnya Rava. Harusnya aku bisa kontrol perasaanku sendiri biar gak kebablasan. Tapi yang namanya cinta memang bisa diatur?

"Hai, Dira!" sapaku juga untuknya padahal dalam hati tidak terima kedatangannya. 

Dira tersenyum, "Hai."

Aku langsung ikut mendudukkan diri. Di teras rumahku terdapat 4 bangku dengan 1 meja agak panjang yang ditengahnya terdapat bunga hias. Sengaja banyak, karena sejak dulu kami sering menghabiskan waktu bersama di depan teras, apalagi di pagi hari. Ada burung nuri peliharaan abang dan ayah yang jumlahnya cuma sepasang, tergantung manis dipohon. Halaman rumah kami memang cukup luas tapi tak banyak tanamannya, hanya satu pohon mangga yang buahnya asam, bunga kertas yang sering dipangkas ayah karena semak, dan bunga alamanda kuning yang tidak butuh banyak perawatan untuk tumbuh. 

"Gimana ayah?"

"Udah lebih baik. Itu, lagi nonton tv di dalam."

Rava mengangguk dengar jawabanku. 

"Mau ketemu?" tambahku. 

Rava tersenyum. Tapi senyumnya kali ini terasa beda. Karena Rava tersenyum dengan rasa bersalahnya. "Kami hanya mampir sebentar. Mau kasih ini."

Aku tetap tersenyum meskipun kecewa. Menerima rantang yang disodorkan Dira.  "Wah, dari tante Rene ya?"

"Iya. Mama masak kolak pisang, dia juga kirim salam buat ayah."

"Nanti aku sampaikan sama ayah. Terima kasih ya. Pasti enak nih!"

"Siapa dulu anaknya?"

Aku memanyunkan bibir, "Gak nyambung!"

Rava dan Dira tertawa. Kalau semakin dilihat, mereka terlihat bahagia menjalin hubungan. Tapi aku masih berharap hubungan mereka cepat kandas. 

"Kalau gitu kami langsung pamit." Rava berdiri dari duduknya yang langsung disusul sama Dira. Sebenarnya aku ingin sekali menahan Rava untuk tinggal sedikit lebih lama. Tapi kalau ada Dira, tidak perlu deh. Rumahku ini bukan tempat untuk mereka menjalin asmara. Nanti yang ada aku semakin panas.

"Yakin, gak masuk dulu? Memangnya mau kemana si buru-buru?" tanyaku dengan pertanyaan konyol. Mereka itu pacaran. Pastilah mereka mau jalan-jalan. Istilah kerennya ngedate. Atau kalau mau diperjelas, mereka itu ingin menghabiskan waktu berdua untuk memperkuat jalinan cinta. Bisa pergi ke tempat makan, nonton bioskop, ke taman, atau tempat-tempat romantis lainnya yang tersebar luas dalam bumi. Semakin aku membayangkannya membuat cemburuku malah terasa semakin terbakar.

"Biasalah. Makanya kamu cepat cari pacar, Sha!"

"Kamu yang harusnya cepat putus." balasku yang cuma berani terucap dalam hati.

Aku hanya menatapnya sinis, sedang dia semakin tertawa. Kami beranjak mendekati motornya yang terpakir, mereka melukis pemandangan yang membuat mataku sakit. Ya, Rava tengah memakaikan helm untuk Dira. 

Belum sempat mereka pergi, tiba-tiba ada satu tamu lagi yang datang tidak diundang. 

"Zero?" gumamku melihat kedatangannya. 

"Kamu lagi dekat ya sama dia?"

Aku mengangguk, berharap Rava cemburu. Sebentar hanya ada jeda hening sampai Zero berhasil masuk ke halaman rumah karena kebetulan pagar masih terbuka lebar. 

"Kami pergi ya!" ujar Rava berpamitan lalu motor mereka meluncur hilang dari pandangan.

Semakin hari, aku merasa jarak yang mengisi hubungan antara aku dan Rava semakin terasa jelas. Biasanya kalau Rava berpamitan untuk pulang, kami berdua akan melepas senyum dan saling melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Tapi sekarang berbeda. Kami tidak lagi berdua karena diantara kami ada Dira. Seolah wanita itu adalah pembatas dalam hubungan kami, memaksa kami untuk saling menjaga jarak. 

"Yang patah akan sembuh atau tumbuh, Asha."

Aku tersadar dari lamunan tentang Rava, ternyata Zero sudah turun dari motornya dan kini berada tepat disampingku.

"Aku gapapa kok."

"Ada sesuatu dibalik kata gapapa."

"Tidak!" tolakku tidak setuju padahal sesuai dengan kenyataan. 

 "Dia sudah pergi, dan sekarang ada aku. Semesta menitipkan aku untukmu, untuk menyembuhkan lukamu dan menumbuhkan harapanmu yang baru." 

"Maksudnya?"

"Maksudku, kamu cantik kalau lagi berpikir."

"Aku serius!" seruku agak kesal.

"Kalau sekarang aku jelaskan dengan sedetail apapun, tapi fokusmu tidak buatku, percuma. Nanti kamu juga ngerti maksudku tanpa harus dijelaskan. Tunggu saja sampai waktunya datang."

Aku menghembuskan napas, "Tapi aku gak suka menunggu!" 

"Bukan kamu yang nunggu, tapi aku. Nunggu kamu buka hati untukku."

Zero benar, sekarang fokusku bukan untuknya. Karena kepalaku masih sibuk memikirkan Rava yang sedang bersama wanita lain. Semua kalimat Zero rasanya menggantung, tidak bisa kucerna dengan baik. Lebih sulit dari pada mengerti penjelasan matematika. 

Dari pada membuat keadaan menjadi lebih berantakan, aku pilih topik lain yang lebih ringan. Supaya kepalaku juga tidak meledak karena diminta untuk mengerti banyak hal.

"Kenapa kesini?" 

"Jemput kamu. Kita pergi bareng." 

"Tapikan aku bisa pergi naik bus!"

"Kalau bisa pergi samaku, kenapa harus naik bus?" 

"Gimana kalau aku gak mau?" 

"Yasudah. Kalau gitu aku yang ikut naik bus sama kamu."

Aku membuang napas, rupanya Zero tipe orang yang memperjuangkan keinginannya dengan kuat. "Gak usah. Tunggu sebentar, aku siap-siap dulu!" 

Zero tersenyum menang dan senang. 





--



See u!





ZERO [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang