Sampai di rumah, aku mendapati Rava sedang ngobrol sama bi Tami di teras. Aku menoleh pada Zero yang ternyata tengah memandang Rava dengan lekat, seperti macan lapar yang siap menerkam. Kalau tau begini, lebih baik aku dan Zero lebih lama saja berada di bengkel tadi, alih-alih cuma ngantar makanan saja.
"Kenapa, Zer?"
Zero tersadar, akhirnya dia balas menatapku. "Gapapa."
"Sama kayak kamu dan Ela, aku dan Rava juga sudah selesai."
Zero menatapku tanpa kata, bibirnya bungkam tapi seolah sedang membicarakan seribu kekhawatiran. Selama setengah menit akhirnya dia mengeluarkan suara. "Nanti aku telepon, ya?"
"Iya."
"Kalau dia lama pulangnya, usir saja."
Aku tertawa.
"Sha, aku cemburu."
"Gausa dibilang. Wajahmu sudah menjelaskan."
"Berarti kamu sudah bisa lihat seberapa besar cintaku."
Aku hanya tersenyum. Sebenarnya sudah lama aku bisa melihatnya. Apalagi perhatian yang Zero torehkan tampak nyata sejak awal pertemuan kami.
"Aku pulang dulu."
"Hati-hati."
"Kamu yang hati-hati. Ingat, harus jaga hati."
Sekarang aku tertawa. Bersamaan dengan itu Zero melajukan motornya, dia hilang tertelan tekongan jalan. Setelah itu aku langsung menghampiri Rava dan turut duduk di bangku teras. Bi Tami sendiri sudah tidak ada, sepertinya sudah masuk ke dalam.
"Ada apa, rav?"
"Memangnya, sekarang aku datang harus ada alasan? Padahal dulu juga enggak."
Aku menaikkan bahu acuh. "Kalau tidak ada yang penting, aku mau belajar."
"Sekarang aku tidak penting lagi bagimu?" gerutunya.
"Bukan begitu, Rav."
"Aku hanya bercanda. Ini. Aku kesini buat antar ini!"
Rava menyerahkan berlembar-lembar brosur bimbel, kalau aku tidak salah hitung setidaknya ada 10 lembar. Aku mengambilnya dengan dahi yang berkedut. "Untuk apa ini?"
"Untuk bimbel, lah. Untuk belajar. Apa lagi?"
"Maksudnya, kenapa ngasih ini buat aku?"
"Bang Pratama yang minta aku buat cariin."
"Abang?" tanyaku dengan mata melebar, mungkin akan keluar dari rongganya.
"Mau jadi dokter, kan? Belajarnya harus lebih banyak biar cita-citanya sampai."
"Tapi dari sekolah juga ada, lagian aku bisa belajar sendiri di rumah!"
"Aku cuma bantu cari saja sesuai permintaan abang. Keputusannya tetap ada di kamu. Baca aja dulu brosurnya, kalau ada yang tertarik kabarin aku."
Aku mengangguk. Keputusannya memang harus ada di aku, karena aku yang menjalani. Pokoknya soal menjadi dokter, aku tau apa yang harus dilakukan. Memang harus banyak belajar supaya bisa tergapai, tapi belajarnya tidak boleh berada di bawah tekanan juga. Prosesnya harus di susun santai tapi serius.
"Kamu sendiri bimbel?"
"Rencananya mau sama kayak kamu."
Aku hanya tersenyum kecil. Kalau Zero mendengar, pasti dia bakalan ngamuk ditempat.
"Nanti aku bicarakan sama abang dulu. Terima kasih."
"Aku tunggu kabar kamu."
"Siap!"
"Kalau begitu aku pulang."
Biasanya aku suka menahan Rava supaya lebih lama tinggal, tapi sekarang rasanya berbeda. Aku justru melepasnya dan tidak menunggu kehadirannya. Aku merasakan perbedaan perasaan itu, semakin lama malah semakin terasa jelas.
Sejauh ini, aku memang tidak perduli tentang Rava dan Dira. Hanya saja, aku tidak mau terlihat begitu jahat, beberapa perasaan memang tidak terbalas, tapi bukan berarti aku juga mengabaikan luka milik Rava. Lagian hubungan kami bukan berjalan sebulan dua bulan, justru sudah melewati pergantian tahun ke tahun.
"Rav, kamu baik-baik saja kan?"
"Aku baik, gak ada yang sakit."
"Perasaanmu."
Rava berdiri dari duduknya, aku turut mengikuti. "Nanti juga waktu akan sembuhkan."
Aku menelan kalimat Rava bulat-bulat. Perasaanku juga sempat terluka, waktu yang berlalu turut melahap luka tersebut. Sekarang aku juga punya Zero sebagai obat. Semesta memang baik. Takdir sudah ada bagiannya, kita cuma diminta menunggu waktu baiknya singgah.
Rapuh. Aku tau hati Rava sedang tidak baik. Mungkin terbelah sedikit atau malah pecah berkeping-keping. Sebagai teman harusnya aku ada, bukan menghindar.
"Nanti malam mau makan pisang coklat kejunya mba Sri?"
"Sudah lama sekali, ya?"
"Iya. Kamu gak rindu?"
"Nanti malam aku jemput."
Aku mengangguk mantap. Selepas kepergian Rava, aku langsung mengganti pakaian. Aku ingin istirahat tapi mata tetap terjaga, jadi aku memilih untuk menyelesaikan soal-soal utbk saja. Latihan adalah senjata terbaik sebelum tempur di medan perang. Aku harus matang supaya menang.
*
Malamnya sebelum pergi, aku sudah menyiapkan semua tugas dan susun roster sesuai dengan mata pelajaran untuk besok. Jadi aku tidak akan kewalahan walaupun keluar malam. Lagian kami juga hanya keluar sebentar, tidak akan menghabiskan banyak waktu sampai pulang larut malam.
"Dek, gimana bimbelnya? Rava udah kasih, kan?"
Aku tengah mengenakan hoodie warna hitam milik bang Pratama, sekarang kami berada di kamarnya. Sejak dulu memang begitu, aku suka meminjam barangnya. Bahkan beberapa kaos oblongnya menjadi milikku karena tertinggal lama di lemari, tidak aku kembalikan setelah pinjam. "Aku gak mau."
"Kenapa?"
"Aku belajar di rumah saja."
"Belajar di rumah gak ada gurunya, Sha."
"Sekarang semua serba bisa dengan internet bang."
Abang bergerak mendekat, tidak lagi terbaring di kasur. "Kenapa gak mau? Biaya? Aman, kok!"
Aku menghela napas, sebenarnya ini salah satu alasannya, tapi aku langsung menolak. "Bukan! Aku hanya malas aja."
"Coba dipikirin lagi."
"Iya." balasku sekenanya. Rava sudah menunggu, jadi aku tidak punya waktu banyak untuk berdebat sama abang.
"Pulang jangan kemalaman!"
"Udah tau!" seruku.
Ayah sudah berada di kamarnya, mungkin sudah tidur karena sudah makan dan minum obat. Tadi aku juga sudah izin lebih dulu. Sekarang ayah lebih banyak istirahatnya semenjak sakit. Tidak masalah, yang penting ayah tetap di bumi. Aku belum siap untuk kehilangan. Jangan sekarang, besok, atau 50 tahun lagi. Pokoknya aku harus buat ayah bahagia dulu, jiwa dan batinnya. Ayah harus banyak dapat jatah senang dari pada sedihnya. Aku dan abang akan berjuang bersama untuk membuat jadi nyata.
Rava langsung tancap gas ke warung pisang coklat keju mba Sri, langganan kami biasanya. Iya, dulu. Pisangnya yang manis berpadu dengan coklat yang lumer, keju gurih membuat rasanya semakin mengesankan. Ah, rasanya aku sudah rindu mengecap rasa harmonisnya.
--
See u!
KAMU SEDANG MEMBACA
ZERO [Completed]
Fiksi RemajaAsha: "Aku mencintai sahabatku sendiri. Seharusnya tidak begini, karena hatinya bukan untukku." Zero: "Ela, pacarku. Mereka memperkosanya. Mereka merenggut kecerian, keberanian, dan kewarasan jiwanya." Luka adalah bagian dari perjalanan hidup. Kehad...
![ZERO [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/283012426-64-k987072.jpg)