Senang dan Rindu

42 2 0
                                        

Bel pulang sekolah baru berbunyi belum sampai setengah menit, ibu guru biologi juga belum selesai mengucapkan kalimat akhir untuk mengakhiri pertemuan, tapi aku sudah bergerak merogoh sela tas paling kecil untuk mengambil ponsel alih-alih membereskan buku yang berserak tak beraturan di meja. Ada sesuatu yang sejak tadi kutahan dan sudah siap meledak detik itu juga. Satu nama yang terus mengisi bagian kepala tidak bisa ditangkis barang sebentar. Awan-awan imajinasiku sudah diisi dengan nama Zero, membuat Neisha yang menjadi teman sebangku agak berdecak kesal karesa sejak tadi aku geresak-gerusuk tidak hikmat dalam belajar. Padahal biasanya aku selalu senang  sama pelajaran biologi sebagai langkah pemahaman dasar sebagai seorang dokter kelak. Hanya saja sekali ini otakku sudah tercemar sama bayang-bayang wajah Zero. 

"Kamu dari tadi macam ulat cabai, tau gak?!"

Aku hanya memutar bola mata. Mau ulat cabai, ulat nangka, ulat bawang, atau ulat sawi, terserah! Aku menghiraukannya dan enggan menanggapi karena pesan dari Zero jauh lebih sempurna untuk membahagiakan hati. 

Neisha menghela pelan, mengambil alih buku-buku milikku lalu menumpuknya menjadi satu. Alat tulis yang bertebaran disusunnya rapi menuju tempat pulang, berupa kotak pensilku warna abu-abu gelap. "Gini banget ngurusin orang yang lagi jatuh cinta!" omelnya seolah tidak ikhlas padahal turut berbahagia. 

Ibu guru melenggang pergi, ucapan selamat siang kuabaikan tanpa rasa bersalah. Aku sibuk merangkai kata menjadi kalimat yang utuh untuk mengucapkan selamat untuk Zero. Pancaran bahagia turut bersinar dalam hatiku mendapat pesan Zero yang sudah masuk dari setengah jam lalu. "Sha, aku masuk 15 besar. Para juri jatuh cinta sama masakanku. Jangan cemburu, ya. Ini hanya lomba."

"Selamat! Aku tidak cemburu, tapi senang dan rindu <3"

Aku tersenyum sendiri membaca pesan yang kutulis untuk Zero. Emoticon love berhasil membuat aku tersipu padahal tangan sendiri yang membuat. Merasa sudah mengabaikan Neisha, aku mulai bicara dengannya sebelum kekesalan miliknya ditumpahkan. 

"Zero menang babak pertama."

"Serius?"

Aku mengangguk puas seolah aku yang menang. Kalau sudah cinta ya begini, dirinya menjadi bagian dari diriku. 

Neisha bersorak senang, "Gak sia-sia kita panas-panasan!"

Dame yang sejak tadi sudah memasang telinga turut menoleh, ikut bergabung dalam percakapan tanpa undangan. "Usaha tidak mengkhianati hasil!"

Aku mengangguk bangga, mengingat proses perjuangan kami mencapai keadilan untuk Zero. Satu hal yang juga aku baru tau semalam, pengikut akun geng motor fortress juga meningkat dua kali lipat karena aksi yang kami lakukan mampu menarik perhatian banyak orang. Hal itu membuat Rio semakin gencar memanah hati para cewek untuk menjadi korban, jalannya menjadi buaya darat semakin lancar. 

"Jadi besok dia lomba lagi?"

"Iya. Besok 15 besar ini diambil 5 besar, setelah itu baru final, deh!"

Neisha dan Dame mengangguk bersamaan, sama seperti aku, kami menyimpan sebercak kagum pada Zero. Karena jujur saja, untuk seorang laki-laki yang suka bolos dari sekolah Zero justru punya kelebihan yang kami sendiri tidak bisa mengimbanginya. Zero pandai memasak, keahliannya dalam mengapresiasi bahan dapur sudah tidak bisa diragukan lagi. Dibandingkan dengan kami yang mengupas bawang merah saja sudah menangis, Zero selangkah lebih unggul. Zero berhasil mendobrak mata kami para remaja yang memandang bahwa memasak adalah tugas seorang perempuan. Sama halnya dengan bekerja yang seharusnya dilakukan oleh seorang laki-laki, padahal sebagai sosok perempuan kami juga bisa melakukannya. Perempuan dan laki-laki punya hak dan kewajiban, keduanya akan berjalan seimbang jika tidak ada tekanan dari bibir-bibir beracun yang mempengaruhi jalan pikiran. Kebebasan milik semua orang. Sama halnya dengan udara, kita tidak perlu berlomba untuk menghirupnya karena takut akan kehabisan. Porsinya sudah disamaratakan padahal setiap orang punya bentuk hidung yang berbeda.

ZERO [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang