Sungguh-Sungguh

42 4 0
                                        

Jatuh cinta itu memang indah, apalagi orang yang kita suka juga memiliki perasaan yang sama. Tapi ketika cinta yang kita punya malah bertolak belakang sama perasaan dia, semua jadi berjalan agak sulit. Seperti Zero, aku tau dia sedang berjuang, tidak mudah tapi dia senang melakukannya. Senyumnya mekar setiap kali menjemputku, seolah sedang menjelaskan kalau aku adalah tempat pulang baginya. Matanya yang setajam elang bersinar menyambut kedatanganku, seolah sedang menyaksikan pemandangan indah yang mempesona. 

Zero berpenampilan biasa, tapi senyumnya yang bebas lebih dari luar biasa. Kalau Zero memang untukku, maka aku akan mencintainya. Belum hari ini, mungkin besok, lusa, atau besoknya lagi mungkin. Rasa nyaman ketika berada dekat Zero sudah ada, tapi untuk perasaan mencintainya rasanya belum terbaca jelas. Karena bayang-bayang wajah Rava masih hadir meskipun tidak lagi sebanyak yang dulu. Seolah aku menginginkan Zero, tapi menaruh harap juga buat Rava. Ternyata perasaanku bukan hanya rumit, tapi juga serakah.

"Hai." sapa Zero, masih dengan senyum manisnya yang mengembang. 

Aku tersenyum menghampirinya, waktu masuk kerja masih tersisa satu jam lagi. Itu tandanya masih ada kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama Zero. Sebentar juga tidak masalah. 

"Kalau jam segini, sekolah kamu ramai, gak?"

"Gak terlalu ramai. Paling juga anak-anak ekstrakurikuler yang ada."

"Begitu?"

"Iya. Emang kenapa?"

"Aku mau es koldingnya wak Begal." ujarku mengungkapkan. Padahal sebenarnya tujuan utama karena ada yang mau aku sampaikan sama Zero. Iya, soal bimbel. Rangkap dengan sangkut paut tentang pekerjaan paruh waktu di kafe kita. 

Zero tersenyum, cahaya kesenangan memancar diwajahnya. "Ayo!" serunya semangat. 

Berada dalam perjalanan bersama Zero sepertinya sudah menjadi kebiasaan, karena kegiatan ini terjadi bukan kali pertama atau kedua. Jalan yang kami lalui nyaris selalu sama, tapi Zero buat kisahnya berbeda. Dia suka membuat percakapan kami menjadi lebih mengasyikkan meskipun diangkat dari topik yang sederhana. Kadang juga pembahasannya tidak masuk akal, tapi aku menyukainya. Yang lebih spesial ketika kaca spion motor bagian kiri selalu dihadapkan ke wajahku, supaya kami bisa saling menatap walau tidak lagi berhadapan. Jadi, kebiasaan seperti ini cuma aku dapat ketika lagi bersama Zero. Hal ini menjabarkan kalau Zero memang menyukai penampilanku, jadi tidak mau melepas atau menyia-nyiakannya.

"Ini memang pengen es koldingnya kan?"

"Iya." kataku. 

"Bukan mau ketemu wak Begalnya kan?"

Aku tertawa. "Bukan lah!"

"Awas aja kalau kamu ada main di belakang aku, Sha!" 

Aku semakin tertawa. Bisa-bisanya Zero memasukkan unsur cemburu sama wak Begal yang jelas-jelas sudah punya keluarga. Memang bercanda, tapi bercandanya terasa menyembulkan kehangatan. Bahwa Zero ingin memiliki aku sepenuhnya.

"Mau aku belikan keripik singkong bu Jum juga?"

Tawaku berhenti. Kembali teringat sama kejadian waktu itu, dimana aku meremas habis keripik singkong pemberian Zero. Membuat penampilan keripiknya jadi tidak enak dipandang. Meskipun begitu, bang Pratama tetap menghabiskannya sambil menonton pertandingan sepak bola. Aku tidak memakannya karena sudah kesal duluan. 

"Sha, waktu kamu marah hari itu, hatiku sama hancurnya kayak keripik bu Jum." katanya lagi karena aku tidak kasih respon.

Mendengar kalimat Zero itu, aku agak kaget. "Kamu tau?"

"Iya. Waktu itu aku lihat rekaman cctv depan kafe."

Aku mengangguk mengerti, Zero memang sulit ditebak. "Buat apa?" 

ZERO [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang