Aku dan Rava pergi 11.15 wib, Rava terlihat bersemangat tapi separuh jiwaku masih tinggal di rumah. Aku bukan tidak suka pergi sama Rava, hanya saja aku tidak senang dengan tujuan kepergian kami. Biasanya, kami pergi berdua itu tanpa ada sangkut pautnya untuk orang lain, tapi sekarang ada Dira yang berada di tengah-tengah hubungan kami. Kami pergi untuk Dira, dan aku membenci kenyataan ini.
"Kita belinya dimana?" tanya rava setelah kami meluncur meninggalkan rumah. Aku dan Rava sudah izin sama ayah, kami juga perginya menunggu bi Tami datang dulu. Seperti biasa, supaya kalau ayah mau apa-apa bisa minta bantuan bi Tami.
Aku menghela napas, diam sejenak. Malas sekali menjawabnya. "Terserah kamu mau beli dimana."
"Aku ajak kamu untuk minta pendapat, Asha!"
"Tapi aku kurang tau Dira sukanya apa. Gimana kalau gaun saja?" jawabku asal-asalan, malas berpikir. Aku tidak akan menguras ide dari kepala hanya untuk membuat Dira senang.
"Gaun? Bisa juga. Seperti ulang tahunmu kemarin, itu Dira yang bantu cari."
Aku ingin berteriak di telinga Rava sekarang juga kalau sebenarnya aku sudah tau. Mana mungkin Rava bakal kasih gaun dengan begitu anggun, dia mana tau soal begitu. Biasanya juga kalau aku ulang tahun, Rava bakal ajak aku jalan-jalan menghabiskan waktu untuk sekedar makan atau main wahana di pasar malam. Kadonya juga yang sederhana tapi bisa kukenakan. Seperti gelang yang sekarang sudah kekecilan, kuncir rambut yang sekarang sudah putus, tali pinggang sekolah yang sampai sekarang masih aku kenakan, topi untuk aku kenakan ketika jalan di terik matahari, atau jaket yang sering aku kenakan kalau waktu pergi sekolah cuaca lagi hujan.
Tapi, yasudahlah. Mungkin tahun ini memang berbeda. Waktu berjalan dan membawa perubahan. Rava bukan lagi teman yang aku kenal sejak masa smp dulu. Usia kami sudah bertambah dan pikiran juga semakin dewasa. Tidak mungkin juga dia kasih barang-barang seperti yang dia pernah kasih untukku, padahal sebenarnya aku masih ingin. Aku tidak suka dia memberi gaun, tapi tidak bisa mengungkapkan. Rava tidak boleh merasa bersalah karena aku tidak begitu senang sama hadiah yang dia berikan. Sesungguhnya aku hanya kecewa karena tidak tau kapan akan memakainya. Gaunnya terlalu sempurna untuk aku yang tidak gemar berdandan.
"Kalau begitu kita belikan gaun saja."
"Memangnya, kamu bisa tau gimana gaun yang cantik?"
Aku mencubit pinggang Rava, membuat tubuhnya meliuk dan motor yang kami tunggangi sedikit goyang. "Aku cuma gak suka pakai gaun, tapi masih tau mana barang cantik mana yang jelek!"
Rava tertawa mendapati kekesalanku, "Lagian kita bisa minta bantuan karyawan tokonya kalau bingung!" timbalku.
"Masih pintar kamu ternyata."
Aku mendengus sebal.
Rava membawa motornya pada sebuah mall yang masih berada di bagian Jakarta Selatan, pusat perbelanjaan yang menyediakan segala macam barang. Kami mulai memasuki bangunan mewah yang sejuk, hawanya berbanding sebalik ketika diluar ruangan, seolah tempat ini memang tepat untuk dikunjungi ketika lagi butuh kesejukan. Kami langsung menuju lantai dua menggunakan eskalator dimana toko fashion berjejer, tidak mau membuang-buang waktu.
"Memangnya ulang tahun Dira besok?"
Rava tersenyum, "Bukan."
Aku berhenti berjalan, membuat Rava turut serta dan memandang wajahku penuh tanda tanya. "Bukan besok tapi hari ini sudah sibuk ngajak aku?"
"Asha." ujarnya melembut, "Aku mau kasih yang terbaik buat Dira, jadi persiapannya harus jauh-jauh hari, biar lebih matang!"
Aku mecoba tetap tersenyum, meski rasanya berat sekali buat tarik ujung bibir untuk membentuk bulan sabit. "Jadi kalau bukan besok, kapan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ZERO [Completed]
Ficção AdolescenteAsha: "Aku mencintai sahabatku sendiri. Seharusnya tidak begini, karena hatinya bukan untukku." Zero: "Ela, pacarku. Mereka memperkosanya. Mereka merenggut kecerian, keberanian, dan kewarasan jiwanya." Luka adalah bagian dari perjalanan hidup. Kehad...
![ZERO [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/283012426-64-k987072.jpg)