Berani dan Dewasa

40 1 0
                                        

Aku mengungkapkan semua yang aku rasa. Tentang kehilangan yang menarikku pada kehampaan tanpa rasa. Aku katakan kepada Rava, bahwa setelah kepergiannya, ragaku menjadi kusut. Seperti benang yang baru selesai menerbangkan layang-layang mencapai langit, lalu digulung asal membuat belitan yang sulit untuk menemukan jalan keluarnya. Karena untuk menemukan rasa yang nyaris hilang ini, jalan keluarnya aku harus bertemu dengan Zero. Rava benar, semesta memang sudah sering mengajarkan aku tentang perpisahan, tapi aku tidak bisa benar-benar mempelajarinya. Aku tidak pandai memaknai arti ikhlas dari sebuah perpisahan. Karena buat aku, perpisahaan adalah luka yang dibungkus dalam dilema rindu. Malangnya, aku tidak bisa membunuh kepingan rindu yang semakin hari tumpukannya membentuk bukit. Aku terjebak dalam keinginan tinggi untuk bertemu. Padahal tidak semua rindu bisa berakhir temu. Aku gagal memaknai perpisahan dengan hikmah sebuah keikhlasan lahir batin. 

"Jadi kamu ingin bertemu dengan dia?"

Aku mengangguk kecil. 

"Kalau sudah bertemu, memangnya apa yang ingin kamu katakan?"

Aku menggeleng, tidak tau jawabannya. "Aku hanya ingin bertemu saja dulu. Aku ingin melihatnya. Aku ingin memastikan kalau dia baik-baik saja setelah kejadian buruk itu."

"Bukannya sudah jelas? Teman-temannya bilang kalau Zero sudah sembuh."

"Aku tidak ingin mendengarnya dari orang lain, Rav."

"Sebenarnya kamu bukan mau tau kabar dia. Tapi kamu ingin minta penjelasan tentang hubungan kalian. Kamu ingin melampiaskan semua perasaan yang mengurung ruang gerakmu."

Aku menghela napas. Yang Rava ucapkan ada benarnya. 

Sebentar aku memejamkan mata, menempatkan diri pada kegelapan. Dari pemandangan di depan mata, aku dapat menyaksikan beberapa kelompok pertemanan yang saling melepas peluk. Senyum mereka merekah, seolah-olah siap menerima perpisahaan didepan mata. Hal ini membuat aku teringat dengan percakapan terakhir bersama mama Zero. Dimana aku menganggukkan kepala, seolah dengan lapang dada menyetujui perpisahan yang mengancam hubungan aku dan Zero. Kupikir semua akan mudah, atau seenggaknya tidak akan begitu sulit. Rupanya cukup menyesakkan. "Apa pilihanku salah, ya? Apa harusnya aku menolak permintaan mama Zero waktu itu?" 

"Bukan salah. Kamu justru berani."

"Maksud kamu, berani mempertaruhkan perasaan sendiri?"

"Iya. Tandanya kamu berani dan dewasa!"

Aku mendengus sebal, merasakan ada nada meledek lewat kalimat Rava. Memangnya kalau menjadi berani dan dewasa, kita harus siap menerima luka? Kenapa bahagia itu cuma berpihak sama anak kecil? Mungkin hal ini lah yang membuat lebih banyak orang dewasa masuk rumah sakit jiwa. Perihal berani, harusnya semesta berpihak sama orang-orang yang berani memutuskan pilihan, apalagi sampai mengorbankan kebahagiaan yang singgahnya baru sebentar. Seharusnya semesta membantuku supaya lebih cepat sembuh, keluar dari ruang hampa dan membantuku menemukan langkah baru untuk menjemput kebahagiaan yang baru. Bukan justru mengunciku dalam ruang tanpa rasa, dimana yang aku rasakan adalah kehampaan yang menyesakkan. 

Menjadi dewasa adalah pilihan. Mama Zero mungkin lega dengan keputusan yang aku ambil dengan waktu berpikir yang seminim itu, menganggapku sebagai perempuan dewasa yang melepas anak kesayangannya untuk menemukan perjalanan hidup yang lebih baik. Padahal sebenarnya, aku adalah anak kecil yang butuh diperhatikan. Seharusnya mama Zero sedikit saja menoleh pada kegelisahanku saat itu, dimana mataku memancarkan keputusasaan atas pilihan yang aku ambil sendirian. Harusnya aku diberi kesempatan untuk bicara sama Zero barang sejenak, atau hanya melihat keadaannya saja walau dari kejauhan. Mejadi dewasa sebenarnya bersembunyi dalam pilihan yang sulit untuk diambil, tapi aku menyanggupinya. Walau sejujurnya, aku tidak ingin. Sungguh. Aku masih mau Zero. Harusnya mama Zero dapat mengerti hal ini. Bukankah mama Zero lebih dewasa daripada aku? Jika dilihat dari segi usia, harusnya memang mama Zero yang menang. Tapi siapa sangka, kalau usia sebenarnya cuma berbentuk angka.  

ZERO [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang