Pukul sebelas abang dan ayah sudah tertidur, tapi aku masih terjaga sambil mengotak-atik ponsel. Mencari lowongan pekerjaan paruh waktu untuk anak yang masih sekolah. Tapi tidak ada hasilnya. Kebanyakan kasih patokan usia paling tidak 20 tahun, sedangkan aku baru 18 tahun. Itu juga belum sampai satu hari. Meskipun tidak semuanya, ada juga beberapa yang membebaskan usia dengan syarat yakni serius bekerja, cekatan, dan tanggap. Tapi yang jadi masalah adalah jaraknya terlalu jauh.
Aku menghela napas, agaknya memang tidak mudah. Tapi tidak mustahil juga kan? Aku ganti rencana. Besok aku keliling saja untuk lihat langsung setiap toko atau warung atau kafe. Baik yang menjual makanan, pakaian, ponsel, alat tulis, atau apa saja aku datangi asal pekerjaannya masih sesuai sama kemampuan. Mungkin saja mereka akan menempelkan secarik kertas di depan tokonya kalau memang buka lowongan. Atau sekalian aku lihat saja di tiang-tiang listrik sepanjang jalan.
Sekarang mataku tertuju pada buket bunga matahari di nakas, sebentar hanya memandanginya. Setelah tiga menit baru bergerak mengambilnya. Aku menyukai bunga matahari. Bahkan sangat suka. Aku tersenyum tiap kali melihat pancaran warna cerah yang bunga matahari miliki. Tidak hanya itu, bentuknya yang unik menjadi ciri khas bunga matahari yang tidak dimiliki bunga-bunga lain. Bulat besar di tengah, lalu kelopak mini mengelilingi. Kalau diperhatikan, dibagian tengah bunga matahari itu ada ribuan bunga kecil. Bunga kecil itulah yang menjadi biji bunga matahari. Bijinya tidak sembarang biji, kalau sudah waktunya panen bisa diolah menjadi minyak dan tentu saja kuaci. Cemilan yang cocok dinikmati kalau sedang kumpul bareng teman atau keluarga.
Tapi, kenapa laki-laki itu bisa tau aku suka bunga matahari?
Aku mencoba menilik ke dalam buket, mungkin saja dari kumpulan bunga matahari yang tidak sedikit ada secarik kertas dari dia. Seperti waktu kasih jambu air, dia juga sertakan surat walau kertasnya cukup gak bermodal. Mana tau kan?
Ternyata memang ada, sambil tersenyum aku melepas kertasnya dari batang yang tertutup sama bunga matahari di bawahnya. Mendapat surat dari dia kenapa membuat aku jadi senang? Ah, mungkin karena jadinya aku bisa tau apa maksud dia memberikan bunga matahari tanpa sepengetahuan. Keganjalan yang menempati perasaan ku beberapa saat lalu akan hilang.
Aku menggeleng begitu tau kalau suratnya itu dari kerta hvs. Memangnya dia gak bisa lebih romantis lagi dengan menyertakan kertas yang lebih indah dan tebal. "Uh, dasar laki-laki aneh!" gerutuku pelan.
Aku membuka kertas hvs yang dilipat jadi kecil, mataku membulat melihat pemandangan di depan mata. Aku menarik kalimat sebelumnya yang mengatakan dia tidak romantis dan aneh. Karena rupanya dia lebih dari kata romantis. Di kertas hvs ada sketsa wajahku yang sedang tertidur di bus, tapi bedanya tidak ada gambar air mata. Aku senyum-senyum sendiri melihatnya. "Apa dia pelukis ya? Kok gambarnya bagus sekali padahal cuma pakai pensil?"
Di bawah gambar, tersisa sedikit ruang untuk dia menuliskan pesan. Aku duduk bersandar biar lebih rileks membaca tulisan sambungnya yang masih amburadul.
Selamat ulang tahun. Ini ada bunga matahari dari depan rumah. Aku bawa bunganya ke temen yang buka jasa jual buket. Tenang, aku udah izin sama mama selaku pemilik bunga. Walaupun dipetik dulu baru izin (Gambar ketawa).
Semoga tidak nangis-nangis lagi dan sehat selalu. Maaf gak kasih langsung karena aku sengaja mau bertemu sama ayah dan abangmu dulu. Biar lebih dekat. Hehehe.
Aku tertawa membacanya. Dia itu selain asing, aneh, romantis, lucu, banyak tingkah juga ya. Sepertinya cowok kaya dia ini langkah. Atau semesta cuma ciptakan satu di bumi? Apa aku harus merasa beruntung dipertemukan sama dia, ya?
Aku tidak bisa lepas memandang gambarnya, tidak mengerti kenapa ingin berlama-lama hanyut dalam lukisan hasil tangannya. Aku juga membaca kembali isi surat yang membuat aku senyum-senyum sendiri.
Aku menerawang dan membayangkan wajahnya, jadilah tenggelam dalam ilusi tentang dirinya. Tiba-tiba aku tersadar, kenapa hadiah sederhana yang dia berikan rasanya lebih spesial dari pada yang Rava kasih. Aku dan abang sudah buka hadiah dari Rava dan Dira yang ternyata isinya gaun warna merah muda selutut. Emang cantik, tapi kan Rava tau sendiri aku tidak suka pakai gaun kalau tidak terlalu penting. Temani abang pergi undangan saja masih suka pakai kemeja. Abang sampai ketawain aku dan ngatain seperti ini, "Itu tandanya Rava mau kamu berubah. Feminim dikit lah, dek!"
Aku langsung menapik pikiran yang membandingkan Rava dengan laki-laki yang bahkan belum aku tau namanya. Langsung melipat kertas hvsnya seperti semula lalu kusimpan ke dalam saku. Aku gak punya waktu memikirkan mereka berdua. Aku harus segera tidur karena besok harus mencari lowongan pekerjaan paruh waktu. Semoga besok aku berhasil. Untuk ayah.
*
Paginya, aku mau langsung pergi setelah selesai menyulang ayah sarapan. Mau melanjutkan aksi untuk cari kerja. Tapi abang mencegat padahal aku baru saja selangkah keluar dari ruang rawat ayah.
"Mau kemana?"
Aku tersenyum, gak mau kelihatan berbohong. "Keluar sebentar ketemu teman."
"Hari ini jangan kemana-mana dulu. Jaga ayah."
Aku menampilkan wajah heran, "Sebentar aja, kok. Nanti juga balik lagi."
"Aku mau pergi, dek."
"Kemana? Ngapain?"
"Buka bengkel, cari uang."
Aku diam sejenak mendengarnya. Benar kataku, abang memang lagi bingung mikirin uang. Sampai-sampai bengkel harus dibuka padahal aroma tahun baru belum kelar. "Bukannya masih jadwal libur ya?"
"Harusnya gitu. Tapi simpanan abang sama ayah kurang buat nembus biaya rumah sakit."
"Kurang banyak?"
"Sedikit. Tapi dari pada minjam lebih baik usaha kan?"
Aku tersenyum. Bang Pratama sama seperti ayah yang suka bekerja menghasilkan uang dari pada harus pinjam sana sini. "Karyawan yang lain gimana?" tanyaku, mengingat bengkel mobil ayah dan abang memang belum begitu besar tapi setidaknya sudah punya enam karyawan.
"Kebetulan bang Toni sama Ridwan mau masuk, yang lain masih pada liburan."
Aku mengangguk. Bang Toni itu memang paling rajin diantara karyawan yang lain. Jarang ambil cuti karena lagi ngumpulin modal buat nikah. Kalau Ridwan itu teman bang Pratama di sekolah dulu. Abang sekolahnya di SMK, ambil jurusan otomotif. Makanya ayah dan abang berani buka bengkel mobil meski awalnya itu sepi selama tiga bulan. Tapi mereka tidak menyerah, mereka banyak belajar dan berdoa. Mereka punya tekad dan semangat yang luar biasa.
"Yasudah aku tidak jadi pergi. Abang juga jangan terlalu capai, jangan lupa makan, minum air putihnya jangan malas!"
Bang Pratama menoel daguku, "Sejak kapan kamu bisa bersikap manis?"
Aku memutar bola mata malas, sikap menyebalkan miliknya masih saja melekat.
--
See u!
KAMU SEDANG MEMBACA
ZERO [Completed]
Ficțiune adolescențiAsha: "Aku mencintai sahabatku sendiri. Seharusnya tidak begini, karena hatinya bukan untukku." Zero: "Ela, pacarku. Mereka memperkosanya. Mereka merenggut kecerian, keberanian, dan kewarasan jiwanya." Luka adalah bagian dari perjalanan hidup. Kehad...
![ZERO [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/283012426-64-k987072.jpg)