Pilot Season of Super Idol Series
Zee, seorang street dancer di Ibu Kota yang terkenal di antara mereka. Tiada yang tidak mengenal dirinya bagi kalangan pecinta dance di sana, lagipula ia juga memiliki banyak wilayah walupun ia bukan ketua geng dari...
"Kakak, Adek!" panggil Zee di sebuah ruangan amat gelap dan dipenuhi oleh kabut hitam pekat. Ia melangkah entah kemana di ruang yang nampak tak berujung itu. Hanya hembusan angin yang terdengar dan tapak kakinya seiring Zee berjalan.
Setiap kali ia menghampiri suara yang memanggilnya, mereka selalu menghilang seketika menjadi asap tiap kali tiba di tempat itu.
"Kak Zee, tolong!"
"Zee!"
Jeritan itu membuat kepala Zee pusing. Ia familiar dengan suara tersebut, namun karena banyaknya suara yang datang di dalam kepala membuatnya tidak bisa berkonsentrasi. Zee tersungkur di lantai sambil memegang kedua telinga sambil memejamkan matanya. Saat suara itu menghilang, ia hanya melihat Jinan yang sedang berdiri tepat di depan saat membuka matanya.
"Kak Jinan?" lirihnya.
Bukan membantu Zee, melainkan Jinan membuat sebuah pedang dari kekuatan Cahaya yang dimilikinya. Tanpa banyak bicara, pedang itu diangkat dan ditancapkan tepat di Jantung.
***
Zee terbangun dari tidurnya. Nafasnya kencang untuk meredam kepanikannya walaupun itu hanyalah sebuah mimpi. Di sampingnya, ia melihat kedua temannya Amanda dan Marsha sedang tertidur disampingnya dengan alat yang sudah diperbaiki dan siap digunakan esok pagi. Dengan sepucuk surat yang ia tulis dengan kertas seadanya, ia mengatur gelang pada tangannya untuk dapat kembali di Jakarta meninggalkan mereka berdua di tempat yang jauh. Selain surat, ia juga tinggalkan kartu kredit milik ayahnya untuk mencukupi mereka beberapa waktu kedepan.
*****
Di sebuah kafe tepatnya sekitar Bogor, apa yang di dalam mimpi Zee terjadi sebelas dua belas dengan apa yang ada. Jinan saat itu sedang bertarung dengan sosok lainnya yang juga memiliki Beat dan juga sebuah Rythm.
"Gwydion, sadar. Ini bukan diri lu!" ucapnya yang masih berlindung dari tebasan pedang yang digunakan oleh Gwydion alias Jinan.
Jinan yang dibawah pengaruh Madame Manon tidak perduli dan terus menerus menyerangnya. Memori kelam menjadi makanan untuk Beat yang dipaksa digunakan olehnya untuk menambah emosi sekaligus tenaga. "Lu dulu kemana?" tanyanya. Jinan menghentikan serangannya dan membuat ruangan itu diselimuti oleh kabut dengan kekuatannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sosok itu terdiam dan menggunakan pendengarannya yang tajam untuk menghindari serangannya yang tiba-tiba. Beberapa serangan dapat ia hindari walaupun hanya bayangan asapnya saja. Tak konsen, ia pun terjatuh akibat sebuah tendangan darinya. "Jinan, lu tuh kenapa? Pas hari itu kan gua lagi sekolah musik di Swiss, oh my god! Dan gua langsung balik pas tau kejadian hari itu juga." balasnya.
Jinan yang dibawah pengaruh tidak perduli. Pedangnya yang tajam, ia tancapkan di badan orang itu.
"Jinan!" teriaknya kesakitan dan shock saat pedang itu menembus badannya. Seifuku yang bewarna putih itu perlahan meme