3.3 Arcadia Arcade

141 15 9
                                        

"Wah, wah, wah, Idol dari konglomerat Natio udah nunjukin batang hidungnya!" ucap dia, siapa lagi kalau bukan yang menciptakan monster dari mimpi buruk Marsha.

"Belum puas lu main sama Idol-idol muda, Nadila?" balasnya. Sebuah kapak besar di tangannya menjadi ciri khas dirinya saat beraksi.

Kelincahannya dan kepintarannya membuat dirinya dengan mudah menghindari serangannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kelincahannya dan kepintarannya membuat dirinya dengan mudah menghindari serangannya. "Lu mau nyerang gua dengan cara yang sama? Lu lupa dulu gua juga Idol?" ucapnya.

"Tapi kau tidak setenar mereka!" balasnya sambil menebas dengan bagian gagang kapaknya yang menjadi pedang hingga keluar percikan api akibat goresan di badan wanita itu.

"Tapi hanya satu yang bertahan!" timpa nya dengan sesekali memukul kepala Idol itu dengan sebuah palu kecil yang berada di tangannya. "Sayang sekali aku masih membutuhkanmu, kalau tidak kau sudah ku habisi sejak dulu!"

"Hah?" tanyanya sedikit bingung. Namun ia tetap mengayunkan pedangnya dan berhasil membuat goresan berkali-kali pada wanita itu.

"Tapi aku tak sekejam Manon yang membunuh keluarga Gwydion (Jinan)!"

****

Kembali ke Villa, Marsha masih mencoba memainkan game tersebut untuk menghancurkan monster yang menjebak Zee di dalam sana.

Walau itu dunia game, ia masih dapat merasakan sakit walau tak berdarah. Hanya saja ia memiliki nyawa yang harus diperhatikan oleh Marsha sebagai pemainnya agar temannya tidak kenapa-kenapa.

Setelah melewati beberapa tahapan, Marsha mencoba mengikuti alur permainan tersebut. Di bantu Amanda, ia mencoba mengikuti sarannya sekaligus mencari petunjuk apakah monster itu bersembunyi di dalam permainan itu atau dunia nyata.

Disaat mereka berdua sibuk dengan permainan itu, Jinan memilih keluar dengan kursi rodanya untuk menikmati udara dingin malam itu. Saat melewati pinggiran kolam berenang, terdengar suara musik yang cukup kencang hingga menarik perhatiannya. Sekelompok remaja terlihat sedang melakukan pesta di sana. Sosok pria elegan menjadi perhatiannya, rambutnya abu-abu hidung mancung mirip sosok pangeran dari timur tengah.

Kolam itu berada di bawah beberapa meter darinya. Jinan mengayuh kursinya dan bersembunyi diantara pohon-pohon yang berada di pot agar Pria itu tidak dapat melihatnya. Sosok pria itu sedikit mengisi kekosongan di dalam hatinya setelah ditinggal oleh orang-orang yang mencintai dan dicintai. Melihat wanita-wanita yang lebih cantik darinya, ia mundur dan bersembunyi di balik pepohonan dan hendak kembali ke Villa. "Lagipula, gua masih di kursi roda begini bisa apa?" bisik nya dalam hati.

Putus asa, Jinan kembali ke Villa dan walau sesekali menatap pria itu sebelum benar-benar ia jauh dari kolam renang.

***

Marsha masih bermain kini sudah sampai ke boss paling terakhir, Amanda kini dapat mengetahui sosok monster yang dimaksud olehnya setelah bermain berjam-jam lamanya.

KAMONEGIX [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang