"Duh, duh, duh. Kok bisa sih orang kayak kamu gak masuk Academy?" ucap Nadila sambil mengetuk kening seorang anak yang sekiranya berumur 17 tahunan. Ia mengenakan Seifuku seorang Rythm Idol, namun seluruh tubuhnya terpasang kabel dan di kepalanya seperti terpasang sebuah bando untuk mengirimkan sinyal ke kepalanya. "Siapa namamu? Oh iya, benar, Angelina Christy ya. Terima kasih untuk listrik yang kau berikan dari kekuatan mu. Siapa sangka Idol sepertimu berakhir menjadi baterai untuk laboratorium ku!" tambahnya.
Disaat Ia sedang melakukan eksperimennya, seseorang masuk ke dalam ruangan itu dan membawakan tabletnya yang berisi beberapa data yang telah ia rangkum. "Nad, lu udah denger kabar Manon udah di kalahin?"
Nadila sedikit syok mendengar kabar itu, seketika ia teringat Zee yang berhasil mengalahkannya tanpa berubah menjadi Rythm Idol sekalipun. "Kalau begitu kau masih tahu cara membuat onar kan?"
"Pastilah, siapa lagi kalau bukan pembuat onar, Devils!"
"Bagus, sekarang aku mau photocard dari Rythm Idol itu. Bukan dari foto, tapi mereka!"
*****
Hari-hari berangsur normal, mereka kini tinggal di Rumah Shani. Marsha, Zee, dan Amanda kini harus mengurus perpindahan sekolahnya lagi karena kini mereka menetap di Yogyakarta. Walau para Junior kini telah akur dan kembali dengan kehidupan normalnya yakni bersekolah dan tak memikirkan Madame Manon, Senior nya masih saja bertengkar dirumah dan mengungkit-ungkit masalah yang dulu terjadi.
"Gua bakal tetep tarik Rythm punya lu! Lu tuh udah langgar aturan, Ji. Pertama lu pacaran, dan kedua lu udah dengan sengaja bocorin identitas lu, ketiga lu bisa-bisanya ngasih Rythm dan Beat tanpa izin ke orang lain!" omel Shani yang sedari tadi menceramahi dirinya.
Jinan menutup kedua telinganya dan masih menahan Rythm dan Beat miliknya. "Satu, keluarga gua semuanya udah gak ada! Apa salahnya gua mencoba interaksi dengan orang lain, apa salahnya gua deket sama keluarganya dia?"
"Kedua, untuk terakhir kalinya, gua gak akan ngelepas visor gua kalau mereka waktu itu gak jadiin warga sipil jadi sandera!"
"Ketiga, liat situasi lah! Kalau Zee waktu itu gak ambil Rythm gua, gua bakal mati!"
Jinan dan Shani saling beradu mulut hingga Jinan yang tak tahan mendengar ceramahnya dan melepaskan sebuah tembakan dari Rythm-nya.
Shani kaget dan langsung menengok pada bekas tembakan pada dinding rumahnya. Tanpa berlama-lama, Shani langsung mendorong Jinan ke dinding lalu menepis senjatanya agar ia tak dapat memegangnya. "Lu harusnya sadar, kenapa sih orang kayak lu bisa jadi Kapten buat tim lu!" ucap Shani.
Jinan lalu meninju ulu hatinya dan membalas ucapannya, "Lu juga gak akan ngerti!"
Shani sedikit merasa nyeri akibat pukulan itu, dan perkelahian antar dua orang itu tak dapat dihindarkan. Hingga pada akhirnya, mereka merasa lelah dan duduk diam di atas lantai.
****
Sementara di sekolah, waktu menunjukkan pukul istirahat. Karena kelas yang saling terpisah satu sama lain, Zee duduk sendirian menunggu teman-temannya untuk datang ke kantin.
Saat mendengarkan iPod, seseorang perempuan tiba-tiba mengambil iPod nya dan nampak mengerjainya. "Buset, mahal nih!" ucapnya yang kemudian melempar headset miliknya ke lantai.
Zee yang memiliki tenaga banyak, dengan mudah meninju wajah sosok tersebut hingga membuatnya tersungkur di lantai. Melihat keadaan mulai ramai, ia segera merapihkan bekalnya dan pergi meninggalkan kantin dan menuju meja di dekat ruang kelasnya. Walau Madame Manon telah tiada, ia masih tidak dapat menghubungi ayahnya yang entah dimana.
KAMU SEDANG MEMBACA
KAMONEGIX [Completed]
FantasiPilot Season of Super Idol Series Zee, seorang street dancer di Ibu Kota yang terkenal di antara mereka. Tiada yang tidak mengenal dirinya bagi kalangan pecinta dance di sana, lagipula ia juga memiliki banyak wilayah walupun ia bukan ketua geng dari...
![KAMONEGIX [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/312452377-64-k746781.jpg)