Pilot Season of Super Idol Series
Zee, seorang street dancer di Ibu Kota yang terkenal di antara mereka. Tiada yang tidak mengenal dirinya bagi kalangan pecinta dance di sana, lagipula ia juga memiliki banyak wilayah walupun ia bukan ketua geng dari...
"Hentikan, aku mohon!" teriak Feni yang berada di Laboratorium milik pemerintah. Nampaknya eksperimen yang dilakukan padanya lebih serius dibandingkan apa yang dilakukan oleh Nadila kepada Idol-idol lainnya.
Salah seorang kepala ilmuwan disana sedang mengusiknya agar Feni tak mencoba melawan. Ia membuat sebuah sarung tangan kontrapsi yang bilamana Feni menggunakan kekuatannya, makan jarum-jarum yang berada di dalamnya akan menusuk telapak tangannya dan memberikan sensasi kejut. "Tenang saja, setelah kami meneliti dirimu. Kau akan kami bunuh!" ucapnya.
"Kalau Xhante tahu, habislah kalian semua disini!" balas Feni sambil mengecilkan kedua matanya seolah-olah meremehkan mereka.
Ketua peneliti itu lalu menempatkan tangannya di sebelah wajahnya, menempel di meja kaca vertikal dimana Feni diletakkan. "Oh, kalian itu spesial. Setelah aku bisa menggandakan apa yang kalian miliki, kalian hanyalah sekumpulan bocah yang berlagak menjadi pahlawan super!" ucapnya.
"Dan, Xhante. Maksudmu keturunan terakhir keluarga Natio? Tanpa kedua orang tuanya, dia bukan siapapun." sambungnya.
*****
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Christy, Half transformed Host)
Saat Zee menyibukkan Fiony untuk menyerangnya, Marsha menahan sekuat tenaga Christy yang secara membabi buta menyerang mereka. Setelah berhasil memeganginya, Shani menggunakan Beat 'Ima Para-Para' dengan memasangkannya pada Rythm miliknya. Setelah alat itu mengambil sebagian kecil energi dari tubuhnya, sebuah plasma ditembakkan dan mengenai Xeno yang hinggap di kepala Christy.
"Lepasin benda ini dari gua!" bentak Christy dengan nada yang terdengar ia sangat panik saat itu. Seolah ia masih mendapatkan sebagian kendali atas dirinya walau Xeno itu sudah merubah sebagian tubuhnya. Christy yang mengamuk, lalu mencakar pipi Marsha dengan tangan kirinya yang berubah menjadi seperti capit.
"Akh!" lirih Marsha setelah Christy mencakar wajahnya. Saat tangannya memegang pipinya yang sakit itu, ia melihat ada berkas darah di telapak tangannya. Ia yang tak senang atas hal itu, menghajar Christy berkali-kali. "Wajah lucu gua!" amuknya.
Sementara itu, Zee yang masih berhadapan dengan Fiony bertanya kepada Shani yang ada dibelakangnya, "Apakah hal ini bisa menjadi lebih buruk?"
Monster musik itu, kini menembakan nada yang sama ke punggung Shani dan membuatnya tiba-tiba berhenti bergerak dan tatapannya seketika kosong. setelah membungkuk beberapa saat, ia berdiri dan menatap Zee yang berada di belakangnya.
Monster itu yang berdiri diatas panggung kemudian berbicara di depan mic itu dan berkata. "Jadi, ternyata alian itu Idol yang terkenal menghalangi kami," ucapnya. Setelah memainkan beberapa nada dari petikan senarnya, ia memerintahkan semua orang yang berada di bawah pengaruhnya untuk menyerang mereka. "Serang mereka!" teriaknya.
"Sha?"
"Zee?"
*****
Di Apartemen, Jinan yang baru saja terbangun melihat langit sudah mulai cerah. Tanpa orang lain yang membantunya, ia berpindah secara mandiri ke kursi roda miliknya. Kursi rodanya cukup unik, kedua sisi pegangan dapat diturunkan, sandaran punggung dan kakinya dapat diluruskan 180 derajat, sehingga ia hanya perlu berguling dan sudah berada di kursi rodanya.
Di ponselnya terlihat seseorang sudah menunggunya di depan pintu apartemen. Setelah merapihkan diri, ia menggunakan sebuah analog pada kursi rodanya untuk bergerak menuju pintu. Setelah menuju pintu, beberapa asisten pribadinya yang dibayar oleh pemerintah sudah menunggunya untuk membawanya ke tempat yang ia ingin tuju.
Singkat cerita, Jinan akhirnya tiba di sebuah pemakaman dan meminta untuk sendiri selama ia berziarah. Kuburan yang dahulu hanya gundukan tanah tak ber nisan untuk mengubur orang yang dahulu ia bunuh dengan tangannya, kini telah lebih rapih setelah keadaan Jakarta mulai stabil kembali.
"Aku dulu janji sama kamu. Aku bersumpah bakal lindungin adikmu, Zee. Tapi beberapa kali aku mengalihkan perhatianku darinya. Mungkin aku juga terlalu egois dengan Shani sehingga keputusannya membuatku semakin tak bisa melihatnya saat diluar!" curhatnya di depan pusara Kakaknya Zee.
Lalu, seorang pria dewasa dengan pakaian formal datang dan menepuk pundaknya. "Jadi, kamu itu pacarnya yang selalu dia gak pernah bilang!" ucapnya.
Jinan yang sedang berbicara sendiri kaget mendengar suara itu, dengan cepat ia menghapus air matanya dan menengok ke belakang. "Eh om?" Jinan kaget melihat Ayah Zee yang telah lama tak ia hubungi berada disana. Jinan lalu memutar kursi rodanya dan memegang kedua tangan ayahnya Zee dan meminta maaf dengan apa yang terjadi dengan Kakaknya Zee, "Om, mohon maafkan aku! Aku tidak ada niatan untuk...,"
Ayah Zee hanya menangguk dan menghapus air mata yang berada di pipi anak itu. Ia mengerti kematian anaknya sudah merupakan takdir. Walau ada duka, ia mencoba terus berjalan. "Itu sudah takdir, Om udah ikhlas kok. Tetapi Zee kalau dilihat-lihat sekarang dikenal dimana-mana setelah pertarungan di kereta itu ya?" tanya Ayahnya.
Jinan menangguk dan sedikit tersenyum. Setelah sekian lama, si wakil kapten tim kecil itu akhirnya bisa tersenyum kembali. "Maafin aku, Om. Kalau misal Zee selama ini kenapa-kenapa. Mungkin aku akan mengembalikannya kepada Om!" ucapnya sambil memeluk.
"Tak apa, nanti saja kalau semua masalah ini sudah selesai!" ucapnya.
Sebelum pergi, mereka berdoa kembali di atas pusara itu. Jinan pun meminta izin dengan asistennya untuk pergi sejenak bersama Ayahnya Zee dan juga adiknya yang sedari tadi menunggu di warung yang berada di depan gerbang komplek pemakaman.
*****
"Kamu kan tahu kalo si Shani udah misahin kamu sama kekuatanmu, gak ada niatan udah jadi Idol lagi?" tanya Ayahnya Zee sembari menyetir.
Jinan saat itu duduk di kursi depan dan sepatu rodanya ia taruh dibelakang. Jinan yang sedang mengunyah roti berhenti sejenak lalu menggelengkan kepalanya. "Aku ingin hidup normal om untuk saat ini, walau dunia sekarang sedang tidak normal. Aku juga khawatir dengan Zee setelah menguping apa yang dibicarakan para dokter di Rumah Sakit saat aku waktu itu koma," jelasnya.
"Kamu koma?" tanya Ayahnya Zee kaget.
Jinan mengecutkan matanya dan tersenyum seakan mau tak mau menjawab pertanyaan itu. "Iya sih, tapi rasanya kayak aku memejamkan mata saja, karena aku dapat mendengar setiap ucapan mereka tapi tak dapat bereaksi pada saat itu."
"Om waktu itu dimana saat Jakarta diserang?" tanya Jinan disaat setelah beberapa menit tidak ada percakapan.
Ayah Zee menjawab, "Kami untungnya cepat mengungsi, tapi almarhum bersikeras menunggu Zee yang saat itu masih di sekolah dan tidak kembali. Om kira dia sudah tiada, namun ternyata selama ini kamu merawatnya!"
Jinan menggaruk kepala dengan tangan kanannya, di tangan kirinya masih terdapat sebuah perban dan juga dua papan kayu untuk meluruskan tulangnya yang waktu itu patah akibat bantingan dari Matron. "Anda tidak ada rencana untuk bertemu dengan Zee saat ini?" tanya Jinan.
"Saya ingin sekali, tapi saya takut mengganggu perkembangannya. Tapi, sejak pertama kali bertemu setelah kejadian di taman itu, saya percayakan semuanya kepadamu!"