13.3 Perfect Storm

74 13 4
                                        

"Bagaimana dengan Jinan, kulihat di sudah cukup menderita selama ini. Biarkan dia beristirahat dengan tenang disana selamanya bila waktunya nanti tiba!" ucap Cindy, si Idol yang telah tiada. Walau kini tidak berada di dunia nyata, ia menghampiri sosok yang Jinan sangat dekat dengannya melalui mimpi di malam hari.

Tentu itu merupakan mimpinya Zee yang dimana saat itu dia tidak menyadari bahwa itu adalah mimpi dan seakan-akan semua itu nyata. "Kak Aurora?" bisiknya ketakutan. Nampaknya ia mendapat mimpi buruk sebelum itu sehingga sedikit ketakutan saat melihat sosok yang ia tahu kini sudah tiada.

Cindy di dalam mimpinya tersenyum lalu mengelus pipi dan ubun-ubun nya. "Setelah kau menyelesaikan semua ini, kau akan mengingat semuanya. Jaga diri dan teman-temanmu baik-baik ya!" balasnya.

Setelah Cindy pergi, Zee tiba-tiba terbangun dari mimpinya dan melihat sahabatnya Marsha tengah tertidur di kasur sebelahnya. Mendengar suara berisik dari luar Kamar Apartemennya, perlahan ia membangunkan Marsha dan memberi isyarat keributan yang terjadi di luar sana.

Mereka segera mengambil Rythm dan Beat-nya lalu berubah menjadi Idol untuk menangani kemungkinan buruk yang akan terjadi. Sebelum keluar, mereka menguping melalui belakang pintu dan mendengarkan percakapan yang terjadi di belakang pintu tersebut.

Saat suara mulai sedikit menjauh, Marsha mempreteli laptop yang ada di apartemennya untuk membuat sebuah alat pengintai mini dan menyambungkannya dengan ponsel mereka. Terkejut melihat apa yang terjadi, segera mereka hubungi Fiony dan Christy yang ada di apartemen sebelah dengan melalui balkon dan memaksa masuk.

Setelah merencanakan dengan singkat apa strategi mereka yang saat itu terdesak, empat Idol muda itu segera keluar dari pintu apartemen mereka dan bersiap menghadapi sosok yang membuat keributan di apartemen mereka. Zee berdiri di paling depan memimpin teman-temannya melawan sekelompok orang yang menganggu ketenangan di malam itu.

Fiony menyadari wajah-wajah itu dan memberitahu teman-temannya. "Kak Ve, Kak Kinal, Kak Ayana, Kak Nabilah, Kak Shania?" ucapnya yang familiar dengan wajah-wajah tersebut.

Jinan yang masih dapat bertahan memberi tahu mereka sebuah hal, "Mereka bukan Idol! Mereka, bangsa Erebos menggunakan tubuh para Idol untuk memanipulasi dan memanfaatkan...," belum selesai ia berbicara, Kinal meninju paru-parunya sekuat mungkin membuatnya tak dapat melanjutkan perkataannya.

*****

Sebelum keributan itu terjadi, tepatnya setengah jam sebelumnya. Bertepatan saat Jinan sedang menikmati angin pada dini hari di dekat sebuah kolam renang yang menghadap ke jalan raya, terlihat sekelompok orang yang membawa koper turun dari mobil berjalan menuju lobby dengan wajah yang ia sangat familiar dengannya. Dalam hatinya, ia berbisik "Apakah kematian Ci Shani membuat mereka datang kemari?"

Jinan berpikir sejenak merangkai kejadian-kejadian yang mungkin. "Mereka kan di bawah Vendrax dan yang tahu tempat tinggal kita adalah pemerintah. Feni hilang setelah ku pergi dari Rumah Sakit. Jangan-jangan?"

****

Orang-orang yang dimaksud Jinan telah tiba di lantai tujuan dan datang mengendap-endap walaupun suara roda koper terdengar di atas karpet apartemen tersebut. Langkah mereka terhenti saat mendengar suara pintu terbuka dari kamar ujung lorong apartemen itu. Saat dilihat, hanya seorang nenek-nenek di kursi roda yang sedang mengayuh keluar dari apartemennya.

"Pagi!" sapa mereka semua sembari menunggu nenek itu pergi dari lorong. Nenek itu mengayuh sangat lambat dan menabrak tong sampah kaleng yang membuat gaduh sekitar.

Ve, selaku yang memimpin kelompok itu menyuruh Shania, anak buahnya untuk mendorong nenek tersebut ke depan lift. Setelah semua beres, mereka kembali bersiap untuk melakukan tugas mereka. Tiba-tiba, sebuah plasma mengenai salah satu koper milik mereka hingga berlubang. Pandangan mereka teralihkan menuju sebuah Rythm yang ternyata dipegang oleh nenek itu. "Kau siapa?" tanyanya.

KAMONEGIX [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang