Chapter 14

184 14 0
                                        

"Jangan biarkan hatimu berlarut-larut dalam kesedihan atas masa lalu, atau itu akan membuatmu tidak akan pernah siap untuk menghadapi apa yang akan terjadi"

"ZEAA!!!"

"BUNDA!!AYAH!! MAU KEMANA?"

"KAMU DISITU SAJA, SAYANG, JANGAN KESINI!"

"TAPI KENAPA?"

"INI...INI AKAN MEMBUATMU KESAKITAN!"

Wanita dan pria itu tiba-tiba hilang ditelan reruntuhan gedung yang terbakar. Sebuah ledakan besar membuat gedung yang tinggi itu runtuh begitu saja.

"BUNDAA!!!AYAHH!!! HUWAAA, BUNDAA!!"

Zea bangun dan menoleh di sampingnya yang terdapat Arden sedang tertidur dengan tengkurap. Keringat membasahi pelipisnya. Nafas tidak teratur serta detak jantung tidak beraturan. Zea mengusap keningnya yang basah. Ia membungkam mulutnya dengan selimut, menyembunyikan suara tangisannya. Entah kenapa, malam ini sangat panas. Tidak seperti biasanya yang dingin.

Keluar kamar dan duduk di gazebo dengan bulan yang menampakkan dirinya di atas sana. Zea menekuk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya. Suara tangisannya yang ia tahan. Sesak, sangat sesak. Tiba-tiba teringat masa lalu yang sangat pahit. Sudah lama Zea tidak memikirkan ataupun terpikirkan oleh kedua orangtuanya yang sudah tiada.

"Bunda, Ayah. Zea rindu," lirih Zea.

••••

"Mau kemana, Ze?"
Sheila melihat Zea keluar kelas dengan membawa buku catatan yang selalu dibawa temannya kemana-mana.

"Perpus, mau ikut?"

"Nggak deh, nanti aja gua susul."

Sheila sebenarnya hanya bosan. Jika ia ikut ke perpustakaan sama halnya melihat buku-buku yang membuatnya bosan juga. Tidak ada kerjaan, alias gabut. Ia keluar kelas dan duduk di kursi depan kelas sambil melihat orang berlalu-lalang.

Sheila menghela nafas berat. Sangat bosan. Tidak ada hal yang dikerjakan. Padahal tugasnya menumpuk. Ia melihat Sean keluar kelas dan tiba-tiba memiliki ide untuk mengikutinya.

"Gua ikutin aja kali, ya? Sapa tau gua dapat informasi baru," batinnya.

Sean berjalan menyusuri koridor ke suatu tempat. Ia juga memberi senyuman kepada guru-guru yang berpapasan dengannya. Ramah. Dari kaca jendela kelas lain, ia melihat Sheila sembunyi-sembunyi dari balik tanaman indoor dan murid lain yang sedang berbincang-bincang di koridor. Walaupun murid tersebut sedikit terganggu, tapi mereka membiarkannya karena sudah tau Sheila dan sudah mengenalnya.

Sean tidak menggubrisnya dan melanjutkan langkahnya. Ia menuju kelas Anita dengan membawa buku yang entah buku apa itu. Kelas 12 IPS 4.

"Anita-nya ada?" Tanya Sean pada seorang perempuan yang baru akan keluar dari kelas yang Anita tempati.

"NITA!! Dicariin, nih!" Panggil Mai.

"Sapa?" Anita menghampiri Mai dan menoleh pada Sean. "Oh, iya, buku gua "

Sean menyodorkan buku Anita yang langsung diterima pemiliknya. "Makasih udah bawain buku gua, gua emang ceroboh. Hehehe."

Sean mengangguk dan akan melangkah meninggalkan Anita, tapi dicegah oleh Anita dengan menarik tangannya.

KALANDRA with ES [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang