"Cerita yang kau bagikan itu berharga"
•
•
"Kenapa lo nggak cerita ke gua sebelumnya kalau wanita itu semakin seenaknya ke elo," kata Leon dengan raut wajah sedihnya menatap Adara.
"Gua nggak mau lo ikut campur sama urusan gua," balas Adara.
"Tapi kegunaan gua buat lo apa kalau bukan jadi temen lo?"
"Lo temen gua." Adara balik menatap Leon.
"Apa gunanya temen kalau nggak bisa diajak bicara?" Tanya Leon serius.
Adara memalingkan wajahnya tidak bisa menjawab Leon. Jujur saja, ia juga merasa tidak enak jika bercerita terus-menerus ke Leon yang merupakan teman sejak kecilnya. Walaupun sudah berteman lama, tapi rasa canggung terkadang menyelimuti mereka berdua.
"Lihat gua Adara, tatap mata gua," pinta Leon, "Gua justru lebih nggak guna dan kecewa sama diri gua sendiri kalau gua nggak bisa ngapa-ngapain buat elo."
"Maaf," lirih Adara.
"Enggak, lo nggak perlu minta maaf. Gua yang seharusnya minta maaf," ujar Leon menatap lurus ke depan.
Dari balkon lantai dua, Faiz dapat melihat Adara dan Leon dari atas. Leon tampak sedih, dan Adara hanya diam saja.
"Maafin gua karena belum bisa jadi temen yang lo mau," kata Leon.
"Enggak, lo udah jadi temen gua yang selalu ada buat gua dan buat gua ketawa, tapi nggak semua cerita harus gua ceritain ke elo. Tapi sekarang, gua tau kalau gua berharga buat elo," balas Adara, "dan gua bersyukur bisa dapat temen kayak elo."
Faiz tersenyum mendengarnya. Ternyata Leon juga menyayangi Putrinya dan berusaha untuk menjadi teman terbaiknya. Walaupun Leon terlihat menatap seseorang dengan tatapan tidak suka dan datar, tapi hatinya baik.
"Juga juga bersyukur dapat temen kayak elo, gua cuman takut nggak guna aja," ujar Leon.
"Lo udah berguna banget, Le, dan gua menghargai lo."
Leon mengubah urat wajahnya menatap Adara.
"Mulai sekarang ceritain semua hal yang ingin lo ceritain, jangan dipendam sendiri," pinta Leon.
Adara mengangguk cepat dan tersenyum. "Makasih."
••••
"Sini," Sean menawarkan bahunya untuk Sheila bersandar.
Sheila langsung menyandarkan kepalanya dan menutup matanya karena sudah larut. Sean juga menyandarkan kepalanya di kepala Sheila dan menarik selimut kecil yang terdapat di sampingnya karena sudah tersedia.
Garrel pelan-pelan mendekat dan memotret Sean berserta Sheila. Cekrek! Hasil fotonya memuaskan. Ia langsung kembali dan mengirim foto tersebut ke nomor Tara. Sementara itu, Zea juga mengantuk dan kepalanya terbentur berkali-kali karena tidak ada sandaran.
Akhirnya, dengan tidak sengaja, kepalanya bersandar pada bahu Ezra. Ezra membuka matanya saat ada yang menyentuh bahunya. Ia tersenyum saat tau itu Zea yang bersandar. Ezra pun kembali menutup matanya dan tidur.
Tapi Garrel dan Naufal sedang bermain bersama alias Mabar. Suara mendengkur terdengar jelas dari belakang. Empat bangku dikuasai oleh Arzan untuk tidur. Ia juga membawa bantal leher serta selimut sendiri yang lebih lebar hingga menutup sedikit lantai bus. Bahkan, Air liurnya keluar hingga membasahi bantal lehernya juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
KALANDRA with ES [END]
Roman pour Adolescents"𝐋𝐮𝐜𝐮 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠, 𝐦𝐚𝐬𝐚 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐞𝐝𝐢𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐝𝐢𝐩𝐢𝐤𝐢𝐫𝐤𝐚𝐧. 𝐒𝐞𝐦𝐞𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐥𝐚𝐡-𝐨𝐥𝐚𝐡 𝐭𝐞𝐫𝐭𝐞𝐥𝐚𝐧" ••••••• Sejak kecil ditinggal oleh sang mama...
![KALANDRA with ES [END]](https://img.wattpad.com/cover/328508030-64-k170983.jpg)