Chapter 20

185 10 0
                                        

"Sejak kapan menjaga perasaan orang lain menjadi tanggung jawab mu?"
- Garrel Albert.

Seorang pemuda murid baru SMA Sayap Garuda menyusuri koridor mencari kelas yang ia tuju. Wajahnya seperti bule, memiliki mata yang indah, hidung yang mancung, bibir tipis, rambutnya acak-acakan, tapi itu membuatnya tampan, bagaimana kalau rapi? Mungkin sangat tampan.

Murid-murid di koridor menatap Garrel dengan tatapan terpesona, apalagi para siswi yang berteriak histeris. Garrel tidak hanya tampan, tapi sepatu yang ia gunakan membuat murid-murid disekitarnya tau kalau dirinya anak orang kaya karena sepatu tersebut tampak sangat mahal.

Senyuman Garrel membuat meleleh. Tidak hanya tampan, tapi juga ramah. Ia juga dijuluki siswa pintar, bagaimana tidak? Di sekolah sebelumnya, banyak berita beredar mengenai nama dia yang memiliki kejeniusan. Ia sering mengikuti dan mewakili sekolahnya untuk berbagai lomba, khusus OSN Kimia.

Garrel itu receh orangnya, sering tertawa seperti tidak ada beban, sering bercanda, menyukai hal-hal yang berbau misterius. Tidak hanya itu, ia juga memiliki sikap dengan berbagai kerandomannya. Suka membuat orang di sekitarnya tertawa dan juga sering membantu. Tidak heran, di sekolah sebelumnya ia memiliki banyak teman.

"Haii..., " Sapa salah satu perempuan di ambang pintu kelas.

Garrel tersenyum ramah. "Hai juga, btw ini benar kelas 11 IPA 2 bukan?"

Perempuan itu mengangguk, ia menarik tangan Garrel. "Nama gua Alsava, bisa dipanggil Al atau Sava juga boleh."

"Salam kenal, gua Garrel, gua murid pindahan dari kota."

"Iya, lo bisa duduk di samping gua, tapi di belakang, lo nggak apa-apa kan?"

"Nggak apa-apa, yang penting ada temennya." Garrel mengedipkan sebelah matanya, genit.

Sava justru tersenyum meleleh. Disenyumi Garrel, sekaligus mendapatkan wink dari Garrel.

Garrel meletakkan tasnya dan mengeluarkan buku bacaannya. Jika dilihat, sepertinya dia murid yang sangat suka membaca. Penjuru kelas menatap Garrel dengan tatapan terpesona dan juga tatapan sinis karena merasa tersaingi.

Sava melirik cewek pick me yang melangkah kearah Garrel dengan membawa ponselnya. Ia tersenyum licik, ingin mengusili rencana pick me. Perempuan pick me itu bernama Felicia.

"Haii... Dengar-dengar nama kamu Garrel yah? Kenalin, nama aku Felicia, panggil aja Cia, khusus buat kamu," sapa Felicia mencari perhatian dengan mengunakan abal-abal aku-kamu.

"Ohh, iya." Garrel melirik Felicia sekilas dan tersenyum, lalu Ia kembali membaca bukunya.

"Kamu tau disini dekat pantai kan?" Garrel mengangguk, "mau aku ajak nanti pulang sekolah nggak? Aku suka banget ke pantai lihat sunset sambil menikmati pemandangan."

"Boleh, tapi gua izin dulu," jawab Garrel mengalihkan pandangannya dari bukunya.

Sava membulatkan matanya. Semudah itukah Garrel diajak oleh perempuan yang baru ia kenal?

Niat Sava yang ingin mengusili Felicia tidak jadi. Ia memilih untuk mengikutinya nanti sepulang sekolah. Ia duduk di samping Garrel dan menenggelamkan kepalanya dilipatan tangannya.

KALANDRA with ES [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang