Mereka memasuki unit apartemen Seokjin.
"Passwordnya masih sama..." Namjoon menunduk dan tersenyum.
"Kau tidak lelah Namjoon-ah?"
"Sedikit..." Ia terkekeh.
"Kubuatkan kopi ya..." Seokjin berlalu menuju dapur.
"Terimakasih..." Namjoon pun duduk di sofa seperti biasa.
Apartemen itu tidak berubah.
Masih hangat dan nyaman seperti dulu.
Seokjin datang membawa dua mug berisi americano dan hot chocolate.
Namjoon segera berdiri untuk mengambil mugnya.
Ia pun duduk di sebelah Namjoon.
"Kau luar biasa sekali tadi Seokjin-ah...."
"Eoh? Kau melihatku di catwalk?" Seokjin membulatkan matanya.
"Tentu saja hahaha...aku berada di barisan paling depan bersama Jimin"
Telinga Seokjin memerah. Ia menyeruput cokelatnya.
"Kenapa malu?" Namjoon mengusap telinga Seokjin dengan ibu jarinya.
"A-aku lagi-lagi menggantikan Hoseok yang sedang flu haha..." Ia menjawab kaku.
"Namjoon-ah...."
"Kau masih marah?" Ia meletakkan mugnya di meja dan memiringkan tubuhnya menghadap Namjoon.
Namjoon yang merasa pembicaraan ini akan serius pun meletakkan mugnya.
Mereka saling berhadapan.
"Seokjin-ah...."
"Jujur...aku tidak bisa melupakan kejadian itu hingga sekarang"
"Tadi saat melihatmu....jantungku seakan berhenti"
"Bohong jika aku bilang aku tidak merindukanmu..."
"Aku merindukanmu......sangat....." Namjoon menundukkan kepalanya.
"..."
"Apakah hubungan kita benar-benar berakhir?"
Seokjin pun menundukkan kepalanya.
Sakit rasanya menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya.
"Aku tidak tahu..." Namjoon menjawab singkat.
Kepalanya masih tertunduk.
Ia tidak sanggup menatap Seokjin.
Separuh dirinya ingin memeluknya dan takkan melepaskannya.
Separuhnya lagi masih termakan oleh egonya.
Oleh traumanya.
"Aku harus bagaimana untuk membuktikannya Namjoon-ah?"
Suara lemah itu membuat Namjoon mendongakkan wajahnya.
"Jangan seperti ini Seokjin-ah....memohon seperti itu tidak cocok untukmu"
Seokjin menggeleng. Tatapannya sedih sekali.
"Aku....masih boleh jadi temanmu?"
Hati Namjoon mencelos saat itu juga.
"Apa yang kau bicarakan Seokjin-ah...tentu saja aku temanmu..."
"Aawwww...." Ia meringis saat tangan besar itu menggenggam kedua tangan Seokjin dengan tidak sadar.
"A...astaga maaf sayang...."
"M-maksudku.....Seokjin-ah...."
Seokjin merosot dan menyandar ke bahu Namjoon.
"Bolehkah malam ini kita seperti ini saja...." Seokjin berbisik.
"Tanpa status..."
"Tanpa pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat kita semakin sakit..."
"Seperti ini....sekali saja..." Tangannya memain-mainkan ujung jas Namjoon
Namjoon menarik lengan Seokjin dan membawanya ke pelukannya.
Kedua matanya terpejam.
Ia menarik napas dan mengecup keningnya.
"Namjoon-ah..."
Seokjin terbangun dengan selimut tebal menutupi badannya.
Namjoon telah pergi dari apartemennya.
Ia kemudian mengecek ponselnya.
'Putri tidur....'
'Aku pulang dulu ya...'
'Terimakasih waktunya...'
'Aku harus membereskan tugas-tugas untuk mengajar besok'
'Jangan lupa makan okay'
Pesan itu berakhir dengan emoticon smiley.
Seokjin tersenyum.
Ada rasa lega di hatinya.
Setidaknya hubungan mereka kembali membaik.
Walaupun Namjoon bukan miliknya lagi.
